Breaking News

LAUNCHING BIOPLUS®️ YC YANG MERUPAKAN PRODUK TERBARU CHR HANSEN BERKOLABORASI SEBAGAI PRODUSEN PT EMVI INDONESIA

Lea Hubertz Birch, Product Management, Swine Commercial Development, Animal Health and Nutrition, CHR Hansen menuturkan mikrobiota usus memainkan peran kunci dalam memelihara homoestatis dan menyeimbangkan respon imun inflamasi dan tolerogenik dari sel inang. Mikrobiota tersebut akan berpengaruh terhadap sistem kekebalan. Mengingat, sistem kekebalan pada tubuh ternak utamanya babi teramat penting.
Lea melanjutkan, di sisi lain lingkungan yang menjadi tempat tinggal babi tidak terlepas dari berbagai bakteri bahkan virus yang beragam, tak terkecuali di dalam tubuh babi. “Agar virus tidak mengalami replikasi pada tubuh babi atau masuk ke dalam epitel mukosa, otomatis dengan menghambat penempelan virus ke reseptor sel inang yakni dengan pemberian asupan pakan probiotik agar babi tidak terserang penyakit,” ujarnya.
Bahkan, kata Lea, adanya probiotik berbasis Bacillus mampu meningkatkan luas permukaan penyerapan pada ileum (usus penyerapan). Dampaknya, serapan makanan terserap dengan sempurna pada babi yang disapih setelah 20 hari dibandingkan dengan perlakuan kontrol tanpa probiotik.
“Bacillus sendiri merupakan mikroba penghasil enzim alami berdasarkan substrat yang ada di lingkungannya. Bahkan Bacillus menghasilkan enzim yang dibutuhkan ternak untuk bertahan hidup. Maka dari itu, kami sebagai produsen strain bakteri secara global mengenalkan produk BIOPLUS®️ YC yang terdapat probiotik Bacillus di dalamnya,” sambung Jean Christophe Bodin, Head of Technical Services APAC, CHR Hansen.
Ia memaparkan, percobaan menggunakan 36 babi betina dewasa yang memiliki paritas (kelahiran ke-) 3 hingga 4. Percobaan dilakukan pada 14 hari sebelum melahirkan sampai akhir masa laktasi yakni pada umur 28 hari. Terdapat 6 perlakuan, setiap perlakuan terdiri dari 6 ulangan. Adapun 36 babi betina dewasa didistribusikan secara acak dengan rancangan acak lengkap. Ransum yang digunakan ialah jagung, bungkil kedelai, dan DDGS. “Didapatkan hasil bahwa perlakuan dengan penambahan BIOPLUS®️ YC, penurunan bobot badan pada babi betina dewasa selama menyusui pun lebih sedikit dibandingkan dengan 5 perlakuan lainnya yakni rata-rata hanya 11,7 kg,” ungkapnya.
Adapun anak babi yang lahir memiliki rataan bobot badan sapih yakni bobot badan awal penyapihan ketika anak babi baru dipisahkan dengan induknya serta jumlah seluruh bobot badan anak babi lebih unggul dibandingkan indukan tanpa menggunakan penambahan BIOPLUS®️ YC yakni masing-masing 7,96 kg per ekor dan 78,26 kg sementara rerata feed intake (pakan terserap) yang dihitung mulai umur 7-28 hari di angka 86,64 gram/ekor/hari. “Rerata pertambahan bobot badan harian juga lebih unggul sebesar 222,7 gram/ekor/hari. Pun dengan angka kematian (mortalitas) paling terendah yakni 1,7 ekor,” imbuhnya.
Pada kesempatan itu, Edward Manchester, Head of Sales APAC AH&N, CHR Hansen menegaskan bahwa pihaknya akan terus berkomitmen dalam menjaga kredibilitas kualitas pasokan strain bakteri ke berbagai negara. “Kami memiliki 14 lokasi manufaktur secara global dengan jumlah 40 ribu strain bakteri,” katanya.
Guna menghadirkan produk yang memiliki manfaat terhadap performa dan kesehatan ternak, Edward mengakui bahwa, dalam melakukan pengembangan terhadap produk-produk CHR Hansen melibatkan 300 – 400 ilmuwan di Denmark dengan terus menjaga standar dari quality control dan quality assurance yang telah ditetapkan. “Dengan komitmen ini, kami berharap menjadi perusahaan  di masa depan yang berkelanjutan untuk planet kita dan generasi yang akan datang,” tandas Edward.
“Dengan keunggulan dan komitmen yang dimiliki CHR Hansen, kami sebagai distributor resmi dari produk terbaru BIOPLUS®️ YC di Indonesia akan terus menjalin kerjasama dengan CHR Hansen sebagai produsen global pemasok strain bakteri. Ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah hadir pada Launching produk BIOPLUS®️ YC kali ini,” tutup Emmy Sarah, selaku Marketing Manager at PT EMVI Indonesia.
Sementara itu, Sauland Sinaga, Ketua AMI (Asosiasi Monogastrik Indonesia) berpesan bahwa adanya virus African Swin Fever (ASF) menjadi perhatian bersama agar tidak terulang kembali. “Salah satunya dengan restocking peternak rakyat dengan lebih memerhatikan pola manajemen pada babi,” tandasnya.
Sumber :  http://troboslivestock.com/ TROBOS/zul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *