SELAMAT DATANG DI AGRIBIZNETWORK
Industri Peternakan Ayam Petelur

Industri Peternakan Ayam Petelur

More »

Industri Pembibitan Ayam

Industri Pembibitan Ayam

More »

Industri Pakan Ternak

Industri Pakan Ternak

More »

Peternakan Sapi Perah

Peternakan Sapi Perah

More »

Industri Peternakan Ayam Broiler

Industri Peternakan Ayam Broiler

More »

Industri Pengolahan Susu

Industri Pengolahan Susu

More »

Peternakan Sapi Perah

Peternakan Sapi Perah

More »

Industri Bahan Baku Pakan ternak

Industri Bahan Baku Pakan ternak

More »

Industri Peralatan Peternakan

Industri Peralatan Peternakan

More »

 

JUKNIS OBAT HEWAN DALAM PAKAN TERAPI TERUS DISEMPURNAKAN

juknis obat hewan dalam pakan terapi terus disempurnakan
JAKARTA. Bertempat di Ruang Rapat Direktorat Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, telah diselenggarakan rapat penyusunan draft Petunjuk Teknis (Juknis) penggunaan obat hewan dalam pakan untuk tujuan terapi. Rapat ini selain dihadiri oleh para perwakilan peternak self mixing, juga perwakilan pengurus ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia), yaitu Ketua Bidang Hub. Antar Lembaga Drh Andi Wijanarko.
Rapat ini merupakan lanjutan pembahasan pertemuan sebelumnya yang telah dilakukan maraton melibatkan berbagai pihak, mulai dari PINSAR, ASOHI, GPPU, GPMT, PDHI, Akademisi dan lain sebagainya. Pada kesempatan ini, ASOHI mengklarifikasi maksud, tujuan, dan sasaran Juknis, khususnya untuk definisi produsen pakan. Apakah self mixer termasuk produsen pakan? Dan forum menyepakati bahwa peternak yang mencampur pakan sendiri (self mixing) termasuk dalam definisi pelaku usaha di bidang pakan (feed mill, self mixing).
Selanjutnya pada pembahasan Bab II, diulas pasal ketetapan pembuatan pakan terapi hanya dapat dilakukan pada pabrik pakan atau self mixer dan harus mempunyai dokter hewan penanggung jawab dan feed nutrisionist atau formulator yang bekerja tetap atau bekerja tidak tetap (konsultan) yang mempunyai ikatan kerja secara tertulis.
Dalam hal ini ASOHI menegaskan, bahwa dokter hewan penanggung jawab teknis tersebut harus yang sudah memiliki sertifikat keikutsertaan dalam pelatihan PJTOH (Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan) yang dilakukan oleh ASOHI dan Subdit Keswan Ditjen PKH yang ditunjukkan dengan sertifikat dan terdaftar di keswan.
“Dengan begini akan membatasi hak dan wewenang dokter hewan yang disumpah, kemudian akan membatasi jumlah dokter hewan yang akan memberikan resep, serta tugas dan fungsi disesuaikan dengan definisi dokter hewan,” jelas Andi WIjanarko.
Pada kesempatan tersebut, GPMT juga menyoroti pasal tentang pakan terapi yang harus dikemas dengan kemasan berlapis yang kedap air dan tidak toksik. GPMT tidak setuju kemasan kedap air, karena kemasan yang kedap air akan mempengaruhi kualitas pakan, dimana pakan terapi jika dikemas demikian, maka moisture/kelembaban akan naik dan mengakibatkan kualitas pakan menurun.
Namun argumen tersebut ditolak, karena justru kemasan tidak kedap air akan meningkatkan kelembaban dan debu tidak terkontrol. Selain itu, dengan penggunaan kemasan kedap air mutu pakan dan obat hewan akan terjamin. Kemasan kedap air dapat mempertahankan kadar air. Terlebih pakan terapi tidak dimaksud diproduksi setiap saat secara massal, hanya digunakan untuk kebutuhan terbatas, sehingga seharusnya tidak memberatkan produsen pakan. (WK)

Similar Posts:

READ :  Triwulan ke-3 Laba Japfa naik 600%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *