Tangkal TiLV Pada Ikan Nila Sejak Dini

Beberapa tahun
belakangan, merebak penyakit virus pada ikan nila atau Tilapia Lake Virus
(TiLV) yang diderita oleh beberapa negara produsen ikan tersebut membuat
Indonesia menyetop stok impor. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) kemudian mengeluarkan surat
edaran nomor 3975/DJPB/VII/2017 pada 14 Juli lalu.

Surat edaran tersebut berisi
tentang pencegahan dan pemantauan terhadap Penyakit TiLV pada ikan nila.
Setidaknya, ada lima langkah yang dapat dilakukan agar Indonesia terhindar dari
TiLV, dan hal tersebut terus dilakukan secara sinergis dan koordinatif oleh
seluruh stakeholder perikanan budidaya, mulai dari pelaku, peneliti/akademisi,
dan pengambil kebijakan.

Dalam edarannya, DJPB mengatakan
kelima langkah tersebut, pertama, melarang pemasukan calon induk,
induk, dan/atau benih ikan Nila dari negara yang terkena wabah TiLV yaitu
Israel, Kolombia, Ekuador, Mesir, dan Thailand.

Kedua, pemerintah
membatasi pemasukan calon induk, induk, dan/atau benih ikan Nila dari negara
yang tidak terkena wabah dengan memenuhi ketentuan wajib melampirkan izin
pemasukan ikan hidup, melampirkan sertifikat kesehatan ikan dan uji hasil mutu.

Ketiga, Indonesia untuk
sementara tidak melakukan kegiatan penebaran benih Tilapia di perairan umum. Keempat,
akan dilakukan pengujian laboratorium di pintu pemasukan dan pengeluaran antar
daerah untuk Nila.

Baca Juga:   Tangkal KHV dengan Immunostimulan, Efektifkah?

Kemudian, kelima, pemerintah
meminta seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup DJPB dan Dinas Perikanan
Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan surveilan serta monitoring terhadap penyakit
TiLV.

Hingga saat ini belum ada wabah
dan atau laporan kasus penyakit TiLV di Indonesia yang menimbulkan kematian
sangat tinggi dan atau kerugian ekonomi yang signifikan, seperti halnya yang
terjadi di beberapa Negara terdampak.

Meskipun demikian, Taukhid mengatakan, “potensi kemunculan
dan dampak negatif dari penyakit tersebut tetap harus disikapi secara
proporsional dan terukur,” ujarnya.

Lantas, jika TiLV sudah terlihat
menyerang kolam-kolam bagaimana antisipasi pertama yang harus dilakukan
pembudidaya agar penyakit tersebut tidak menimbulkan dampak kerugian yang besar
serta seperti apa pencegahan sejak dini TiLV yang harus dilakukan pembudidaya.

Taukhid memaparkan, gejala klinis umum yang mengindikasikan adanya
infeksi TiLV pada ikan nila antara lain lemah, katarak (endophthalmitis), exopthalmia,
penyusutan mata dan phthisis bulbi,
pengelupasan kulit/erosi dan ulcus, kongesti ginjal, peradangan otak (encephalitis), dan pembengkakan di
hati.

“Organ atau jaringan yang dipilih sebagai materi uji deteksi TiLV secara
molekuler adalah mata, otak, hati, limpa dan ginjal,” kata Taukhid.

Langkah antisipatif untuk mencegah TiLV, menurut Taukhid, pada unit usaha
atau kolam budidaya ikan nila antara lain dapat dilakukan melalui:

  1. Benih atau bibit ikan nila yang digunakan bebas
    dari infeksi TiLV yang dapat ditelusur (traceability)
    sumber populasi induk, baik dari sejarah asal usul maupun hasil
    pemeriksaan laboratorium.
  2. Pada kawasan budidaya ikan nila yang
    menggunakan sumber air yang sama (daerah aliran sungai/DAS), belum
    ditemukan adanya kasus penyakit tersebut.
  3. Memastikan bahwa prosedur budidaya ikan selalu
    dilakukan secara baik dan benar sesuai kaidah Cara Budidaya Ikan yang Baik
    (CBIB).
  4. Membangun sistem informasi dini antar pelaku
    budidaya ikan nila terkait status penyakit tersebut.

Baca Juga:   Perinus Gandeng Jabar Fasilitasi Andon Penangkapan Ikan di Indonesia Timur

Taukhid melanjutkan, apabila pada unit budidaya ikan nila terlihat adanya
ikan-ikan yang menunjukkan gejala klinis disertai kematian yang diduga akibat
penyakit tersebut, maka tindakan yang sebaiknya dilakukan adalah:

  1. Mengisolasi dan pemantauan secara intensif
    terhadap populasi ikan yang diduga terinfeksi TiLV.
  2. Menginformasikan kepada pihak terkait atau petugas
    yang kompeten untuk tindak lanjut penanganan teknis dan atau pengambilan
    sampel untuk pemeriksaan laboratoris dalam rangka konfirmasi penyebab
    utama penyakit tersebut.
  3. Pada populasi ikan nila yang sedang sakit,
    kurangi porsi pakan harian dan tambahkan unsur imunostimulan untuk menigkatkan
    ketahanan tubuh ikan.
  4. Pada kondisi kolam yang dapat dikontrol,
    upayakan flukutasi suhu air dalam periode 24 jam tidak lebih dari 2 oCelcius.
  5. Ikan yang mati segera diambil, selanjutnya
    dibuang/dikubur untuk memastikan bahwa bangkai ikan tersebut tidak
    berpotensi sebagai sumber penularan untuk ikan nila lainnya.

Belum ada obat atau bahan kimia yang efektif untuk mengobati ikan nila
yang terinfeksi virus TiLV, kecuali penggunaan desinfektan untuk tujuan
desinfeksi sarana dan prasarana selama proses produksi.

Baca Juga:   KKP Berikan Benih Ke Pembudidaya Udang Windu

Beberapa informasi teknis menurut Taikhid yang mungkin perlu menjadi
pertimbangkan dalam pengendalian penyakit TiLV pada budidaya ikan nila. Secara
laboratoris, menurutnya, beberapa strain ikan nila yang telah berkembang di
masyarakat memiliki tingkat resistensi yang berbeda terhadap penyakit TiLV.

Pola kematian ikan nila
akibat penyakit TiLV berlangsung secara sub-akut hingga akut dengan masa
inkubasi antara 1 – 14 hari. Individu ikan yang mampu bertahan hidup (survivors) akan mengalami proses
penyembuhan, bertahan hidup dan terbentuk kekebalan terhadap penyakit tersebut.
Namun status selanjutnya dari individu tersebut (potential carrier or totally eradicated) belum diketahui secara
pasti.

“Faktor pemicu yang
determinan terhadap munculnya kasus penyakit TiLV adalah fluktuasi suhu air
yang cukup besar dalam periode 24 jam,” pungkas Taukhid. (Adit)

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.