BOSCHVELD, RAS AYAM KARYA MIKE BOSCH DARI AFRIKA SELATAN

Berasal dari Zimbabwe, Mike Bosch menjalankan bisnis breeding di Bela-Bela, sebuah kota di Provinsi Limpopo, Afrika Selatan. Lebih dari 20 tahun lalu ia membiakkan sendiri jenis ayam free range yang disebut Boschveld. Ayam ini merupakan persilangan 3 ras asli Afrika yaitu Venda, Matabele, dan Ovambo, dengan rasio masing-masing 50%, 25%, dan 25%.

Ras karya Mike ini menjadi sangat populer di benua Afrika. Mempunyai warna bulu merah, coklat, dan putih. Mike pun menangguk sukses besar dengan memasarkan ayamnya ke seluruh Afrika.

Sekarang ada lebih dari 2 juta ayam Boschveld. Karakteristiknya tangguh meskipun menghadapi kondisi terberat.

Mike mengembangkan paket berisi 10 ayam dan sebuah kandang ayam kecil. Ia menjualnya pada peternak kecil dan siapa saja yang ingin memproduksi telur dan daging ayam sendiri. Peminatnya banyak sekali hingga diekspor ke 17 negara-negara Afrika.

Namun sejak Covid-19 melanda, pasar ekspor hilang. Mike kini fokus ke pasar dalam negeri khususnya mixed DOC.

“Ayam Boschveld dibesarkan murni untuk tahan banting dan sehat. Mereka bertahan hidup dan berproduksi berdasarkan apa yang dapat disediakan alam, dengan hanya sejumlah kecil pemberian pakan tambahan untuk meningkatkan produksi. Afrika bisa menjadi tempat yang sulit untuk hidup, terutama dengan kondisi iklim yang bervariasi, jadi kami membutuhkan ras yang dapat beradaptasi dengan perubahan cuaca.” Demikian Mike menjelaskan. “Ayam di Afrika dipelihara dalam kondisi free range dan harus terus berproduksi dalam kondisi ini.”

Baca Juga:   China Cabut Larangan Pengiriman Unggas AS

Ayam di peternakan milik Mike diuji setiap 3 bulan untuk flu burung dan salmonella dan divaksinasi untuk penyakit seperti Newcastle, Gumboro, dan koksidiosis. Mike saat ini memiliki 27.000 populasi dalam beberapa tahap. Penjualannya selama pandemi secara keseluruhan cukup baik.

Mixed DOC dijual masing-masing seharga R12 (US $ 0,69), fertile egg seharga R8 (US $ 0,46), ayam petelur seharga R115 (US $ 6,63), dan ayam berumur 4 minggu seharga R49 (US $ 2,82). “Lockdown telah menyebabkan semua ekspor terhenti karena perbatasan tertutup dan tidak ada transportasi udara,” kata Mike. “Namun, di sisi positifnya, permintaan telur dan ayam lokal meningkat.”

Dalam hal pengendalian penyakit dan flu burung yang ditakuti, Mike mengatakan areanya memiliki status biosekuriti yang baik. “Tidak ada flu burung di provinsi kami,” katanya. “Baru-baru ini saya diperkenalkan dengan produk disinfektan baru yang disebut ADI dan sangat bermanfaat bagi kesehatan ayam saya. Tingkat mortalitas turun 90% yang merupakan hasil yang sangat bagus untuk peternakan saya.” (Sumber poultryworld.net)

Baca Juga:   Upaya Kementan Jaga Keseimbangan Pasokan Ayam Ras

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.