Japfa Comfeed (JPFA) Proyeksi Harga Ayam Membaik pada Agustus

Emiten perunggasan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) memperkirakan harga ayam akan semakin membaik sampai dengan Agustus mendatang.

Melalui sambungan telepon, Deputy Head of Commercial Poultry Division Japfa Comfeed Indonesia Achmad Dawami mengatakan setelah momentum Idul Fitri akan ada kenaikan harga ayam hidup atau live bird. Utamanya di wilayah Jawa Tengah, di mana kebijakan pemangkasan produksi telur tetas atau hatching egg sebanyak 30% diberlakukan sejak 28 Juni sampai 12 Juli 2019.

“Di Jawa Tengah itu total produksi per minggu itu sekitar 42 juta ekor day old chicken[DOC] dengan kebijakan ini ada 12 juta ekor yang terpangkas, tapi itu tidak apa-apa [untuk perbaikan harga],” katanya kepada Bisnis.com, Kamis (11/7).

Dawami, begitu dia disapa, mengatakan kinerja perseroan tidak akan banyak terpengaruh dengan kebijakan anyar tersebut.

“Sebenarnya tidak ada masalah dengan pemotongan hatching egg, karena Japfa juga akan mengikuti kemauan pemerintah,” katanya.

Pasalnya, pemangkasan produksi itu dilakukan untuk memperbaiki harga di tingkat peternak dan ikut memengaruhi kinerja perusahaan. Bahkan secara pribadi, Dawami menilai supaya pemangkasan telur tetas diberlakukan secara nasional sebab memang ada kelebihan produksi. Akan tetapi pasti pemerintah punya pertimbangan lain seperti potensi kenaikan harga dan hal lainnya yang mungkin terjadi.

Baca Juga:   Permintaan Tinggi, Jajal 5 Bisnis Peternakan Menjanjikan

Lebih-lebih Dawami memperkirakan harga ayam akan terus menanjak naik sampai Rp20.000/kg – Rp21.000/kg pada Agustus. Pasalnya secara perhitungan tenknis kebijakan pengurangan itu baru akan terasa sebulan mendatang.

Sementara itu, kenaikan harga ayam di level Rp19.000/kg akhir-akhir ini adalah akibat dari pengurangan produksi secara kolektif oleh peternak 5 hari sebelum dan 5 hari setelah Idulfitri.

“Perkiraan saya, [kebijakan pemerintah] baru akan memperbaiki harga pada awal Agustus. Itu bagus karena bertepatan dengan perayaan-perayaan. Prediksi saya permintaan justru akan membaik 3 bulan ke depan,” katanya.

Selain itu, Dawami menyebut kalau pemerintah juga sedang meramu acuan harga baru baik untuk ayam maupun telur. Menurutnya pelaku usaha, asosiasi dan regulator sudah membahas hal tersebut.

“Ada kenaikan tapi sedikit dan itu belum ketuk palu. Kita tunggu saja keputusan pemerintah,’ katanya.

Dari sisi kinerja keuangan, JAPFA mencetak penjualan senilai Rp8,56 triliun atau naik 8,9% pada kuartal I/2019 dari posisi Rp7,86 triliun pada kuartal I/2018. Menanjaknya penjualan ditopang oleh segmen pakan ternak dan ayam umur sehari masing-masing naik 26,18% dan 25,6% year on year, masing-masing menjadi Rp3,47 triliun dan Rp806,81 miliar. Segmen peternakan dan produk konsumen turun 9,4% menjadi Rp3,18 triliun pada kuartal I/2019, dari posisi Rp3,51 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga:   Kemendag Belum Terima Pengajuan Impor Daging Brazil dari Tiga BUMN

Sementara dari sisi kinerja saham, JAPFA masih tertahan di level Rp1.655 pada akhir perdagangan Kamis (11/7/2019). Sepanjang tahun berjalan 2019, JPFA masih terkoreksi 23,02%.

Kendati demikian, 60% konsesus Bloomberg masih merekomendasikan beli untuk JAPFA dengan target harga harga 12 bulan ke depan Rp1.680. Adapun 30% merekomendasikan tahan dan 10% merekomendasikan jual.

Narasumber : market.bisnis.com

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.