Skip to content

–

Menu
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI
Menu

Kasus Cacingan Pada Ruminansia Sapi, Kambing, Domba dan Rusa

Posted on

Tuimin peternak sapi Bali dengan sistem gaduhan di Kelurahan Lembah Damai Kecamatan Rumbai Pesisir Kota Pekanbaru menyatakan, sejauh ini belum ditemukan sapi dengan pertumbuhan yang lambat meskipun makanan yang diberikan cukup kandungan gizi dan jumlahnya.

”Konsep beternak itu sebenarnya adalah pemeliharaan ternak sesuai dengan habitat ternak itu sendiri,” papar Tuimin. Artinya adalah: pemeliharaan ternak dengan sepenuh hati. Ternak juga membutuhkan lingkungan yang sehat, pakan yang cukup dan perhatian penuh dari si pemeliharanya.

Bila kondisi ini diadopsi oleh peternak, “Saya yakin takkan ditemui lagi kasus kematian ternak mati akibat penyakit,” pungkas Bendahara Kelompok Petani Kecil (KPK) Kalui ini.

Sebetulnya, dengan perlakuan yang baik itu, apa saja jenis penyakit cacing yang sebetulnya berpotensi menyerang namun ternyata (mungkin) tidak menyerang sapi peternak itu?

(Balai Informasi Pertanian Lembang (Indonesia) menyatakan tiga jenis cacing yang paling sering menyerang ternak ruminansia adalah: Fasciola gigantica, haemonchus contortus dan Neoascaria vitulorum.

Fasciologis merupakan penyakit yang secara ekonomi menimbulkan banyak kerugian, baik penurunan berat badan dan karkas, produksi susu, gangguan reproduksi sampai pada kematian. Akibatnya pada manusia yang mengkonsumsi hati (mentah) yang berasal dari sapi, domba dan kambing terinfeksi, penelitian terhadap 3000 anak-anak di Egypt, sebanyak 3% terinfeksi dan menunjukkan gejala anemi berat. Syndrom fasciolocis ini di Libanon disebut Halzoun dan di Sudan disebut Marrera.

Akibat penyakit zoonosis ini, tidak kurang 2 juta kasus fasciolocis pada manusia mengalami peningkatan sejak tahun 1980 Dilaporkan, tingginya prevalensi penyakit ini terjadi terutama di daerah spesifik seperti di Bolivia (65-92%), Equador (24-53%), Mesir (2-17%) dan Peru (10%).

Demikian Prof Drh Kurniasih M VSc PhD dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Hewan UGM tahun yang selanjutnya menambahkan, beberapa usaha pencegahan dilakukan antara lain pemusnahan hospes intermedier (siput) dan rotasi penggembalaan.

“Meski begitu, sulit dan tidak efektif jika dilakukan di Indonesia. Karena peternak umumnya hanya memiliki sedikit hewan, 1-5 ekor dan kurangnya lahan rumput untuk penggembalaan,” ungkapnya.

Adapun Drh R Budi Cahyono dari PT Agrotech Veterindo Jaya menyatakan pada kambing kasus cacingan yang paling banyak dijumpai adalah cacing hati. Sementara pada ternak lain adalah cacing gelang. Namun kesemuanya mempunyai sama akibat: pertumbuhan ternak terganggu! Ujung-ujungnya masalah ekonomi.

Penyakit Cacing pada Sapi

Dr Drh Setiawan Koesdarto dan Dr Drh Sri Subekti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga dan Dr Herra Studiawan dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga menyatakan, Toxocara vitulorum, merupakan cacing askarid. Stadium dewasanya banyak dijumpai pada anak sapi (pedet). Akibat dari penyakit cacingan (toxocariasis), sangat menekan produktivitas ternak, berarti menjadi beban ekonomi bagi peternak secara berkepanjangan jika tidak dilakukan pengendalian.

Menurut mereka menyitir kata Connan, yang dikutip oleh Simon dan Syahrial, pedet yang menderita toxocarosis, akan kehilangan bobot badan sebesar 16 kg pada umur 12 minggu dibanding pedet yang bebas cacingan. Selain itu infeksi toxocariasis juga bersifat zoonotik (menular ke manusia dan sebaliknya).

Upaya pengendaliannya menurut mereka sampai saat ini belum jelas, hal ini disebabkan belum adanya informasi tentang keadaan toxocariasis pada pedet. Tersedianya obat cacing, umumnya hanya berkhasiat terhadap stadium dewasa, kurang berkhasiat untuk stadium larva dan telur. Ternak sapi, khususnya sapi Madura sangat potensial untuk dikembangkandan peranan ternak ini bagi peternak cukup besar.

Hal ini karena ternak sapi sewaktu-waktu dapat dijual bila diperlukan. Kepemilikan ternak sapi selain menghasilkan daging juga pupuk, serta kulit dan tulangnya mempunyai potensi untuk dikembangkan dalam bidang industri dan kerajinan.

“Sapi Madura adalah sapi yang termasuk dalam jenis sapi potong, tetapi pertumbuhannya lambat. Sapi yang biasa hidup di lahan kering, ditinjau dari sudut kesehatan ternak, sapi Madura relatif lebih tahan terhadapkondisi lingkungan yang ada, baik kondisi kekurangan pakan maupun infeksi penyakit,” kata peneliti Universitas Airlangga itu.

Walaupun demikian penyakit parasit cacing khususnya cacing saluran pencernaan pernah dilaporkan Disnak Jatim. Menurut Simon dan Syahrial serta Gunawan dan Putra penyakit yang sering dijumpai pada pedet adalah gangguan parasit usus.

Salah satu jenis parasit usus yang sering dilaporkan menyerang pedet muda adalah toxocariasis. Parasit cacing ini menimbulkan kerugian yang cukup besar, bahkan dapat mengakibatkan kematian pada pedet. Toxocariasis merupakan penyakit yang banyak ditemukan di negara tropik dengan kelembaban tinggi.

Menurut beberapa peneliti angka prevalensi toxocariasis pada pedetdi beberapa negara/daerah adalah sebagai berikut: Myanmar sebesar 89%; India 81,6%; Nigeria 98%; Surabaya 43,29%, Garut 54,24%, Malang Selatan 76%.

Setelah melakukan penelitian, Dr Drh Setiawan Koesdarto, Dr Drh Sri Subekti dan Dr Herra Studiawan menyatakan prevalensi telur Toxocara vitulorum pada pedet sapi Madura menunjukkan perbedaan sangat nyata antara musim kemarau dan musim penghujan. Prevalensi tertinggi didapatkan pada musim penghujan, yaitu sebesar 60,8% sedangkan pada musim kemarau sebesar 25,4%.

Setelah mengetahui angka prevalensi toxocariasis pada pedet di wilayah Madura dapat ditindak lanjuti dengan membuat dan melaksanakan program pengendalian dan pencegahan bagi terhadap infeksi terhadap Toxocara vitulorum.

Kasus Cacingan pada Kambing

Dinas Peternakan Banjarbaru Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan menyatakan penyebab penyakit cacing adalah berbagai jenis cacing bulat alat pencernaan lambung dan usus. Biasanya banyak menyerang kambing muda (di bawah umur 1 tahun).

Sumber di Dinas Peternakan Banjarbaru Kalimantan Selatan itu menyatakan, tanda-tanda ternak kambing yang diserang cacing adalah: kambing kelihatan lesu, lemah dan pucat; bulu kasar dan tidak mengkilat; kurus, pertumbuhan lambat; kadang-kadang mencret.

Pencegahannya antara lain dapat dilakukan dengan menghindarkan kambing dari tempat yang lembab dan digenangi air dimana banyak terdapat larva cacing, serta dengan pemberian obat cacing yang teratur.

Penyakit Cacing pada Domba

Program Warung Informasi dan Teknologi WARINTEK yang bersifat nasional yang ditangani Kementrian Riset dan Teknologi Republik Indonesia di Bantul Yogyakarta menyampaikan bahwa semua usia domba dapat terserang penyakit cacing.

Penyebabnya adalah cacing Fasciola gigantica (Cacing hati), cacing Neoascaris vitulorum (Cacing gelang), cacing Haemonchus contortus (Cacing lambung), cacing Thelazia rhodesii (Cacing mata).

Sumber pada Departemen Pertanian Republik Indonesia menyatakan untuk pencegahan penyakit: sebelum dikandangkan, domba harus dibebaskan dari parasit internal dengan pemberian obat cacing, dan parasit eksternal dengan dimandikan.

Cacing Pada Rusa

Adapun I Made Dwinata dari Laboratorium Parasitologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana telah melakukan penelitian untuk mengetahui prevalensi infeksi cacing nematoda pada rusa yang ditangkarkan di Bali.

Sumber pada Laboratorium Parasitologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Jumlah menyatakan, sampel penelitian sebanyak 55 ekor rusa. Pemeriksaan feses rusa dilakukan dengan menggunakan metode konsentrasi apung dan untuk mengetahui intensitas infeksi menggunakan metode modifikasi Cornel Mc. Master.

Hasil penelitian Parasitologi Veteriner FKH Unud itu, didapatkan prevalensi infeksi cacing nematoda pada rusa yang ditangkarkan di Bali sebesar 78,18 % dan hanya terinfeksi oleh cacing tipe strongyl.

Hasil analisis menunjukkan perbedaan tempat penangkaran rusa berpengaruh nyata, tetapi jenis kelamin dan jenis rusa tidak berpengaruh nyata terhadap prevalensi infeksi cacing nematoda. Rata-rata total telur per gram (TTPG) tinja pada rusa didapatkan sebesar 144  67 butir.

Memang ada tiga jenis cacing yang paling sering menyerang ternak ruminansia yaitu: Fasciola gigantica, haemonchus contortus dan Neoascaria vitulorum. Namun, jangan sepelekan jenis-jenis cacing yang lainnya, bukan? (Daman Suska, YR/ berbagai sumber)

Post Terkait:

  • TAHUN BERGANTI, MUSIM BERUBAH, PERNAFASAN BERPOLAH (( Pada layer atau broiler pun demikian, penyakit pun masih tercatat sebagai penyebab kerugian terbesar di peternakan. Dari sejumlah besar penyakit yang dapat menyerang ayam,…
  • Ketika Ternak (Jangan) Diserang Cacing Marilah berorientasi pada pengendalian penyakit, tindakan konprehensif yang tidak semata-mata menekankan pada pengobatan untuk mengobati setelah kasus penyakit terjadi.Itulah yang ingin dikatakan Hanafiah dan Dwi…
  • MENELISIK BISNIS PETERNAKAN INDONESIA 2010 Indonesia, negara kaya raya di jagad khatulistiwa terbentang dengan pongah di antara dua benua dan dua samudera. Memiliki ribuan pulau besar dan kecil, yang mengandung…
  • TARGET BESAR SUMATERA UTARA MENJADI LUMBUNG DOMBA… Domba dan kambing merupakan salah satu komoditas unggulan di Sumatera Utara. Hal ini terlihat dari permintaan pasokan domba dan kambing dari provinsi terdekat serta dari…
  • Cacingan Si Pencuri Nutrisi Ternak Edisi 167 Juni 2008Peternakan tanpa serangan penyakit merupakan suatu dambaan setiap peternak. Namun dengan program pengobatan yang ketat dari awal ayam masuk kandang sampai ayam…
  • Berbagai Metode Pengobatan Penyakit Parasitik (( Berbeda-beda tetapi tetap satu juga? Kiranya begitu. Banyak jalan menuju Roma, banyak obat melawan penyakit parasit, demi kesehatan ternak kita. ))Narasumber pada Pasca Sarjana…
  • Waspada 3 Penyakit Utama Penyebab Turunnya Produksi Telur Waspada 3 Penyakit Utama Penyebab Turunnya Produksi TelurFungsi terbesar produk peternakan adalah menyediakan protein, energi, vitamin dan mineral untuk melengkapi hasil-hasil pertanian. Salah satu nutrisi…
  • BALI BEBAS RABIES TINGGAL KENANGAN BALI BEBAS RABIES TINGGAL KENANGAN(( Bali yang merupakan kawasan pariwisata berkelas dunia yang sejak zaman penjajahan kolonial Belanda dinyatakan sebagai daerah bebas rabies sekarang tinggal…
  • CAMAR DI PETERNAKAN BROILER | Majalah Infovet I… CAMAR DI PETERNAKAN BROILER(( Faktor-faktor utama manajemen pemeliharaan broiler modern difokuskan pada tiga hal mendasar, yakni cahaya, makanan dan air (CAMAR). Sinergisme CAMAR dengan faktor…
  • LARA PETERNAK KARENA KHOLERA | Majalah Infovet I… Edisi 165 April 2008Di kalangan peternak kholera ayam lebih sering disebut ”berak hijau”. Nama itu berkaitan dengan feses atau kotoran yang dikeluarkan yang sakit berwarna…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DATA BISNIS PETERNAKAN

Artikel Terbaru

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

KALENDER

July 2026
MTWTFSS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031 
« May    

ARTIKEL TERBARU

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

ARTIKEL TERKAIT

  • TAHUN BERGANTI, MUSIM BERUBAH, PERNAFASAN BERPOLAH by Agribisnis (( Pada layer atau broiler pun demikian, penyakit pun masih tercatat sebagai penyebab kerugian terbesar di peternakan. Dari sejumlah besar penyakit yang dapat menyerang ayam,…
  • Ketika Ternak (Jangan) Diserang Cacing by Agribisnis Marilah berorientasi pada pengendalian penyakit, tindakan konprehensif yang tidak semata-mata menekankan pada pengobatan untuk mengobati setelah kasus penyakit terjadi.Itulah yang ingin dikatakan Hanafiah dan Dwi…
  • MENELISIK BISNIS PETERNAKAN INDONESIA 2010 by Agribisnis Indonesia, negara kaya raya di jagad khatulistiwa terbentang dengan pongah di antara dua benua dan dua samudera. Memiliki ribuan pulau besar dan kecil, yang mengandung…
  • TARGET BESAR SUMATERA UTARA MENJADI LUMBUNG DOMBA… by Agribisnis Domba dan kambing merupakan salah satu komoditas unggulan di Sumatera Utara. Hal ini terlihat dari permintaan pasokan domba dan kambing dari provinsi terdekat serta dari…
  • Cacingan Si Pencuri Nutrisi Ternak by Agribisnis Edisi 167 Juni 2008Peternakan tanpa serangan penyakit merupakan suatu dambaan setiap peternak. Namun dengan program pengobatan yang ketat dari awal ayam masuk kandang sampai ayam…

  • 1,202,761
  • 606,605
©2026 – | Design: Newspaperly WordPress Theme
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI