Mengupas Tantangan Budidaya Udang di Pesisir Timur Lampung

Keuntungan berlipat
yang diperoleh dalam waktu relatif singkat memang menjadi daya tarik budidaya
udang vaname yang sangat memikat. Begitu pula potensi budidaya udang di pesisir
timur Lampung. Namun, di balik keuntungan, ada pula tantangan yang harus
dihadapi para petambak.

Pemilihan jenis udang vaname sebagai jenis udang unggulan
dan favorit petambak udang di Lampung Timur bukan tanpa sebab. “Alasannya,
kualitas benih yang bagus (SPF) tersedia, 
tingkat kelangsungan hidupnya tinggi, pertumbuhannya cepat,
produktivitas tinggi, dan bisa hidup dengan baik pada salinitas rendah,” ungkap
Dr. Supono,
S.Pi., M.Si.
, Kaprodi Manajemen Wilayah Pesisir dan Laut Universitas Lampung (Unila).

Meskipun memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi,
udang vaname bukan lantas hidup tanpa masalah. Menurut Supono, penyakit menjadi
penyebab utama kegagalan budidaya udang di Lampung Timur.

Penyakit yang paling sering menyerang budidaya udang
vaname dan menyebabkan kegagalan panen adalah white spot syndrome virus (WSSV), myo, dan white feces disease (WFD). Penyakit
tersebut menyebabkan kegagalan budidaya karena menyerang pada semua umur udang.

“Sebagai salah satu daerah produsen utama udang,
kegagalan tersebut tentu menyebabkan penurunan produksi udang di Provinsi Lampung,”
terangnya.

Hal
tersebut juga diakui Muhyar petambak
udang di Desa Labuhan Maringai, Kabupaten Lampung Timur. Menurut penuturannya, produksi budidaya
udang menurun semenjak adanya serangan penyakit.

“Menurunnya
produksi udang di wilayah Lampung Timur diduga disebabkan oleh WSSV, namun
masih terus dicari sebab kebenarannya dengan dibantu oleh teknisi dari
perusahaan obat,” tambah Muhyar.

Dari Penyakit Sampai Sedimentasi

“Sepengetahuan saya, penyakit sudah menjadi masalah sejak dulu.
Tapi penyakit sekarang aneh jenisnya dan bermacam-macam.
Ada myo, white spot, dan berak putih,” tutur Soleh, yang juga petambak
udang di Desa Labuhan Maringai, Kabupaten Lampung Timur.

Menurut Soleh, serangan penyakit sangat berpengaruh pada
pendapatan dari hasil panennya. Sebelum ada
penyakit, modal Rp40 juta bisa menghasilkan Rp100 juta sampai Rp110 juta. Keuntungannya bisa Rp70 juta sampai Rp80 juta.

“Kalau sekarang, modal Rp40 juta, untungnya Rp 5 juta dalam 2 bulan. Kalau pas rugi, kerugiannya lumayan besar. Modal Rp40 juta bisa habis. Kalau tidak kita kontrol
udangnya, dari
modal Rp40 juta, kita bisa rugi Rp20 juta,” keluhnya.

Tidak jauh berbeda dengan Soleh, Bahrul
Ilmi
, yang juga merupakan petambak udang
di Lampung Timur menuturkan, adanya penyakit yang menyerang tambak udang membuat aktifitas
budidaya terganggu,
ditambah cuaca yang tidak menentu
mengakibatkan air di tambak mempengaruhi pertumbuhan udang.

Baca Juga:   PABRIK PAKAN IKAN MILIK KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN (KKP) DI PANGANDARAN SIAP BEROPERASI TAHUN INI

“Petambak
harus memperhatikan kualitas air baik dari
awal masuk sampai akhir (panen). Untuk itu perlu dibuatkan irigasi air masuk
dan air keluar sehingga dapat terkendali,” ujar Bahrul.

Menurut
Herman Mude,
A.Pi., MM.
, Kasi Tata Pelayanan di Balai Karantina
Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Lampung, penyakit merupakan faktor pembatas dalam budidaya udang. Jenis
penyakit yang disebabkan oleh virus di antaranya white spot syndrome
virus
(WSSV), infectious myonecrosis
virus
(IMNV), taura syndrome virus (TSV), infectious hypodermal and haematopoietic necrosis virus (IHHNV), yellow head virus (YHV), covert
mortality noda virus (CMNV).

Penyakit
udang akibat serangan bakteri di antaranya acute hepatopancreatic
necrosis disease (AHPND) atau EMS. Sementara penyakit akibat parasit
adalah enterocytozoon hepatopenaei (EHP) dan white feces disease (WFD).

“Beragam
peyakit ini bisa menyebabkan kematian massal, panen dini, dan menurunkan
hasil produksi budidaya udang,” paparnya.

Keterangan senada juga diungkapkan Dardjono, SP., Kepala
Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perikanan Budidaya Lampung Timur. Dari sisi
penyakit, penyakit pada budidaya udang
di  Lampung Timur—khususnya
udang vaname—adalah WFD.
Serangan penyakit ini ditandai dengan adanya
kotoran putih yang mengambang pada permukaan media budidaya dan biasanya
muncul pada DOC 35—45. Sebenarnya, WFD bisa dicegah dengan penerapan SOP manajemen dasar tambak yang
baik, dengan penyiponan serta pemberian probiotik aerob maupun anaerob
sejak awal.

Penyakit berikutnya adalah IHHNV yang ditandai dengan udang kerdil dan bagian
kepala atau hepatopankreas membesar. Namun, penyakit ini masih sedikit ditemukan. Adapun penyakit WSSVditandai dengan munculnya bintik
putih pada bagian karapas dan bisa mengakibatkan udang mengalami
kematian masal.

WSSV sering muncul pada
musim pancaroba, antara Bulan April—Mei dan September—Oktober.
Pada Oktober tahun 2018, penyakit ini sempat menyerang budidaya udang di Lampung Timur yang berdampak
pada turunnya produksi di triwulan I
tahun 2019 hingga 30%.
Kejadian serupa terjadi di hampir semua sentra
produksi di Lampung.

Lebih lanjut, Joko Waluyo, Teknisi Behn Meyer, menjelaskan bahwa WSSV menyebabkan kerugian
yang tinggi jika menginfeksi udang berumur kurang
dari 30 hari.
Udang tidak dapat dipanen karena ukuranya masih terlalu kecil.

Selain itu, WSSV pada
awalnya hanya menyerang
di musim hujan.
Namun sekarang, infeksi penyakit
yang paling merugikan ini banyak ditemukan sepanjang waktu. “Hal ini
disebabkan pola budidaya di sana mengunakan sumber air yang sama, pembuangan
dan pemasukan air berasal
dari saluran yang sama,” terangnya.

Baca Juga:   SR Rendah Hantui Zona Kebangkitan Udang Windu di Sulawesi Selatan

Joko menambahkan, penyakit lain yang juga
menyebabkan kerugian tinggi adalah WFD. Jika sudah terinfeksi, udang
tidak mau makan sehingga pertumbuhan menjadi lambat, udang kropos, dan SR panennya
rendah sehingga FCR-nya menjadi tinggi.

Sementara M. Ansori Maskur, Ketua Pokdakan Mina Sakti Mandiri, berpendapat bahwa dengan pola budidaya yang baru, tantangan yang paling menakutkan adalah penyakit dan cuaca ekstrim. Risiko yang paling berat
adalah cuaca ekstrim karena
sulit menduga penurunan kualitas udang.

“Kualitas air bisa turun
mendadak. Solusi yang baik untuk mengantisipasi risiko cuaca ekstrim adalah menghindari tebar
udang pada musim pancaroba, yaitu Bulan November sampai Bulan Februari. Pada bulan
itu, komoditas diganti dengan nila salin sehingga bisa memutus rantai penyakit,” terangnya.

Selain masalah penyakit, H. Suparman, salah seorang petambak di Lampung Timur memaparkan
terjadinya sendimentasi pesisir pantai. Hal ini membuat para petambak kesulitan
mengambil air laut. Menurutnya, diperlukan pembenahan saluran air
dari laut menuju ke tambak sehingga air masuk dengan air keluar tidak bercampur
jadi satu.

Banyaknya perizinan yang muncul juga menjadi kendala seperti
izin penggunaan air laut, izin genset,  izin penimbunan solar industri, izin amdal, sampai
izin pipa pengambilan air laut. “Tak hanya itu, harga yang fluktuatif juga
tidak mengenakkan para petambak,” ungkap Suparman.

Masalah harga juga diakui Dardjono menjadi faktor yang lebih berpengaruh terhadap produksi udang. “Harga udang
yang murah, size 100 sekarang Rp47 ribu per kilo gram membuat pembudidaya menjadi kurang
bergairah,”
terangnya.

Menjawab Tantangan

Budidaya di
Lampung Timur saat ini terus berkembang, pola budidaya pun mengalami pergeseran, dari  tambak tradisional
(udang windu) dengan ukuran kolam 1—2 hektar menjadi tambak intensif (udang vaname) dengan ukuran kolam 1.000—2.000 meter persegi.

“Selalu ada tambak baru yang dicetak
dengan investor dari luar Lampung,” ungkap Joko.

Menghadapi tantangan yang ada, solusi kongkret diperlukan agar usaha budidaya udang bisa berjalan secara
berkelanjutan. Menurut Joko ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, di antaranya:
(1) penggunaan tandon filter biologis dan tandon treatment, (2) pengaturan waktu tebar, (3) komunikasi grup yang
intensif, serta (4) perbaikan saluran inlet.  

Penggunaan tandon filter
biologis dilakukan
dengan memelihara ikan nila dan bandeng untuk mengetahui keamanan air media, baik
yang masuk maupun keluar dari kolam tambak. Tandon treatment juga diperlukan untuk menjamin keamanan air laut yang
masuk dari saluran ke dalam kolam. Jika mengunakan
sumur bor,
diperlukan tandon khusus untuk men-treatment
parameter air sumur bor agar sesuai dengan kriteria air media yang diharapkan,
terutama dari sisi kandungan mineral yang ada di dalamnya.

Baca Juga:   Optimalkan Hasil, Terapkan SOP Pembesaran

Pengaturan
waktu tebar terkait
dengan jumlah tebar benur ke dalam petak tambak. Biasanya,
kasus serangan WSSV terjadi pada musim
hujan. Untuk menghindari
risiko kerugian yang besar akibat kematian, padat tebar disarankan dikurangi.
Jika pada musim kemarau padat tebar bisa 100 ekor per meter persegi, pada musim
hujan dikurangi menjadi 50—70 ekor per meter persegi.

Komunikasi grup yang intensif antar petambak
bisa dilakukan lewat pembuatan grup chat WhatsApp (WA). Dengan berkumpulnya para petambak,
komunikasi terkait teknis pengelolaan tambak, terutama dalam hal sumberdaya
yang digunakan bersama, bisa dilakukan dengan cepat dan efektif.

Sebagai contoh, tambak yang diketahui terinfeksi WSSV dan
sedang membuang air tambak memberikan informasi ke grup. Dengan begitu,
petambak lain yang berdekatan tidak melakukan pengisian air dari saluran
tersebut. Setidaknya, ini merupakan solusi pragmatis ketika saluran inlet dan outlet antar-tambak masih menjadi satu.

Komunikasi intensif akan lebih efektif dengan terbentuknya
organisasi petambak. Dengan terbentuknya organisasi petambak, informasi teknologi budidaya udang dan penanggulangan penyakit bisa berjalan dengan lebih baik.

Organisasi menjadi wadah
bagi petambak untuk
menyampaikan permasalahan budidaya serta meningkatkan peran nyata pihak
pemerintah daerah dan swasta dalam menyukseskan budidaya udang yang
berkelanjutan.

Pendalaman
dan pelebaran saluran inlet sangat diperlukan untuk
menjamin pasokan air media budidaya di tambak. Mengingat pentingnya saluran
ini, upaya pendalaman dan pelebaran—jika memungkinkan—dilakukan secara swadaya. Tentu saja, bantuan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk
pendalaman saluran air yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi sangat
membantu meringankan beban petambak.

“Behn Meyer
melalui teknisinya juga membantu melakukan pengukuran kualitas air di tambak
langsung, supaya action permasalahan
di tambak lebih cepat ditangani,” tutur Joko.

Joko
menghimbau, pemerintah, melalui dinas perikanan dapat secara berkala mengandeng swasta—baik perusahaan
pakan, benur, dan obat—untuk dapat
lebih berperan aktif dalam mendukung budidaya udang yang berkelanjutan di Lampung Timur.

Hal senada juga disampaikan Muhammad Fitri, Teknisi Pakan Gold
Coin. Menurutnya, antisipasi munculnya serangan penyakit—salah satunya—lewat
manajemen pakan yang ketat. “Pakan harus kualitas baik dan menggunakan pakan
protein rendah, yaitu 30—32%. Hal ini disebabkan padat tebar rendah di bawah
100 ekor per meter persegi,” terangnya.

Fitri
berharap, terjalin kerja sama antara petambak, stakeholder, praktisi, dan dinas perikanan terkait untuk membuat
SOP standar sesuai kondisi di Lampung Timur. Diperlukan adanya komunikasi
antara petambak dan teknisi, pabrik pakan, hatchery,
teknisi obat-obatan, dan pembeli udang.

“Harus ada keterbukaan antar petambak.
Jika ada masalah penyakit harus saling memberi informasi dan ditangani bersama,”
pungkasnya. (Rochim/Adit/Resti)

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.