Breaking News

MERAIH PELUANG TREN BUDI DAYA AYAM BEBAS SANGKAR

Hal itu dibahas dalam Indonesia Livestock Club (ILC) edisi 21, Rabu (30/6/2021) dengan menghadirkan Guru Besar Fapet UGM Prof Dr Ali Agus, Manajer PT Inti Prima Satwa Sejahtera Roby T. Dharma Gandawijaya dan owner Rasyid Barokah Farm Muhammad Ridwan
Dalam webinar tersebut dijelaskan bahwa kandang ayam baterai dianggap sebagai tempat yang kurang sesuai dan berukuran kecil, sehingga ayam tidak dapat bergerak bebas atau mengekspresikan perilaku alaminya. Tren tersebut menuntut seluruh pemangku kepentingan bidang peternakan untuk tidak hanya fokus pada produksi semata, namun juga perlu memerhatikan aspek Kesrawan dalam usahanya.
Dijelaskan pula tren Kesrawan dalam hal ini pada sistem produksi telur dengan pola budi daya ayam bebas sangkar (cage free), memungkinkan ayam bergerak bebas sesuai nalurinya. Kemudian makan, minum, bersarang, bertengger dan berinteraksi dengan ayam lainnya.
Sistem bebas sangkar membuat setiap ayam lebih nyaman dan terhindar dari stres, dirawat dan dipelihara dengan baik menggunakan lima prinsip kesrawan. Pertama, terbebas dari rasa lapar dan haus. Kedua, bebas dari rasa tidak nyaman. Ketiga, kebebasan dari rasa sakit, cidera, dan penyakit. Keempat, bebas mengekspresikan tingkah laku alaminya. Kelima, bebas dari rasa takut dan tertekan.
Menurut Ali Agus, tren masa depan budi daya ayam bebas sangkar akan didorong dan ditarik oleh berbagai faktor. “Isu Kesejahteraan ternak, permintaan konsumen, gerakan pecinta atau penyayang hewan, regulasi pemerintah (insentif, grading egg quality), tata niaga yang mengikat (perusahaan multinasional), pasar segmented dan harga jual telur,” kata Dekan Fakultas Peternakan UGM tersebut.
Untuk strategi implementasi di Indonesia, kata dia, perlu untuk belajar dari praktik keseharian, dimulai dari populasi yang tidak terlalu besar, misalnya di bawah 10 ribu ekor. “Strategi berikutnya adalah perlu dilakukan penelitian berkesinambungan seputar aspek dalam budi dayam ayam bebas sangkar, peningkatan kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian, serta perlu adanya pembentukan asosiasi usaha sejenis, yakni lembaga tempat berinteraksi para praktisi budi daya ayam bebas sangkar,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *