Skip to content

–

Menu
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI
Menu

Pahlawan Devisa Itupun Tergantikan oleh Peternakan

Posted on

Oleh : Danang Herry Mantoro

Satu nusa satu bangsa satu bahasa kita
Tanah air pasti jaya
Untuk selama lamanya
Indonesia merdeka
Indonesia pusaka
Nusa bangsa dan bahasa

Kita bela bersama….

Sepenggal lagu kebangsaan tersebut diatas terasa sangat tersentuh apabila kita melihat pemberitaan di media cetak maupun elektronik akhir-akhir ini, dimana pekerja-pekerja asal Indonesia yang berada di luar negeri terutama di negeri tetangga banyak diusir secara paksa terkadang mendapat siksaan fisik. Pengusiran dilakukan terutama dengan alasan paling sering yaitu masuk ke negeri tetangga dengan illegal. Sungguh keadaan yang seharusnya tidak boleh terjadi mempertaruhkan harga diri dengan mengorbankan rasa kebangsaan dan kita tidak bisa berbuat apa-apa utnuk membantu saudara kita yang sering dibanggakan sebagai pahlawan devisa karena melalui mereka keluarganya bisa mendapatkan uang yang nilainya mencapai 1.7 triyun pada saat periode lebaran tahun 2009 atau 1430 Hijriyah lalu.

Angka yang mungkin terlihat besar kalau kita hanya melihat sesaat, tetapi menjadi tidak ada artinya karena sesungguhnya kita akan mendapakan penghasilan berlipat dari nilai diatas jika kita mau menggerakkan roda perekonomian bangsa. Salah satunya dari sektor pertanian, tanpa kita harus mengorbankan harga diri kita, tanpa kita harus men-sweeping warga negara yang telah mengusir saudara kita. Tapi mari kita ciptakan negeri ini sebagai magnet bagi warga negara lain untuk mengabdikan diri mereka kepada warga Negara Indonesia yang terkenal sangat ramah dan penuh penghormatan kepada para tamunya dengan menggiatkan kemampuan roda perekonomian. Sepatutnya kita bisa gali kembali potensi yang tertutupi oleh kemilau angin surga akan mimpi sebagai negara industri yang terlalu dini tanpa berpijak pada kemampuan dasar bangsa ini sebagai negara agraris.

Mari kita mencoba memikirkan kenapa mereka rela meninggalkan keluarga mengurangi hak sebagai orangtua untuk menyaksikan kebebasan dan kebahagian anak-anaknya berkembang bersamanya dan rela mengabdi kepada bangsa lain demi rupiah. Sebaliknya pemerintah mendukungnya dengan memberi gelar kehormatan sebagai pahlawan devisa sebuah gelar yang sangat tinggi sebagai PAHLAWAN yang bisa jadi pemberian gelar tersebut hanya untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah membuka peluang lapangan kerja di negeri sendiri.

Sontak pemberian gelar tersebut secara tidak langsung memacu jumlah tenaga kerja yang dikirim keluar negeri dan semakin membuat insan Indonesia lupa untuk mengolah dan menggali potensi anugerah Illahi. Jika mereka harus di usir di hina dan disiksa maka hal tersebut akan dipermaklumkan sebagai salah satu wujud perjuangan sebagai pelengkap gelar Pahlawan devisa yang mengorbankan harga diri demi ringgit, dollar ataupun real…… Dimanakah hati nurani kita sebagai bangsa yang dikaruniai oleh Sang Khalik kekayaan alam yang sungguh luar biasa dan sampai detik ini masih menyia-nyiakan anugerah-Nya dengan menelantarkan sumber daya alam yang kita miliki.

Mari kita balas perlakuan mereka dengan menunjukkan bahwa kita bisa menjadikan negeri ini sebagai magnet bagi mereka dibawah kendali bangsa ini kita menjadi tuan rumah dinegeri sendiri, biarkan insan-insan Indonesia yang cerdas menjadi pemimpin di negerinya karena mampu mengelola sumber daya alam sebagai senjata paling tajam melebihi runcingnya bayonet ataupun tajamnya pisau belati.

Seandainya kita berhitung dari sub sektor peternakan sebagai bagian dari sektor pertanian untuk menyumbang tenaga kerja sebagai langkah mengurangi pergerakan tenaga kerja ke luar negeri dengan pemanfaat maksimal dengan kemampuan menyediakan harga ekonomis dan terjangkau bagi masyarakat dan akan meningkatkan konsumsi daging dan telur hingga mampu menyamai Malaysia maka kita akan dapat meningkatkan jumlah kesempatan memperoleh pekerjaan di peternakan 8 kali lipat dari sekarang.

Dengan perhitungan sederhana,jika saat ini sektor peternakan dan pendukungnya mampu mempekerjakan 2,5 juta rumah tangga petani peternak, maka akan ada tambahan 7 kali dari sekarang atau ada tambahan 7 kali 2,5 juta setara dengan 17,5 juta tenaga kerja tambahan terserap di bidang peternakan.
Jika kita menilik berapa nilai yang akan didapatkan dengan penambahan konsumsi per kapita setara dengan Malaysia dalam bentuk rupiah akan terkumpul nilai seperti perhitungan di bawah ini.

  • I. Produksi DOC 25.000.000 per minggu
  1. Anak kandang = 25.000.000/500*8 periode = 400.000 orang
  2. Penjual ayam = 25.000.000/7 hari/25 ekor = 150.000 orang
  3. Penangkap = 25.000.000/7 hari/1000 ekor*7 orang = 25.000 orang
  4. Breeder dan Hatchery = 15.000 orang
  5. Pakan = 15.000 orang
  6. Petani jagung = (25.000.000*2kg*52mg*4) / (2 periode*7 ton/ha*2) = 312.000 orang
  7. Petani kedelai dan bahan baku lain = 312.000 orang

TOTAL = 1.229.000 orang

  • II. Dengan perhitungan yang hampir sama dengan konsumsi perkapita telur yang sekitar 80 butir pertahun akan didapatkan pula jumlah tenaga kerja pada bidang peternakan ayam petelur berkisar 1.250.000 orang yang berarti jumlah total perkiraan tenaga kerja di bidang peternakan ayam bukan ras baik pedaging dan petelur berkisar 2.500.000 orang.

Berdasarkan asumsi di atas, jika kita berhasil mengejar ketertinggalan konsumsi perkapita baik telur maupun daging asal unggas setara dengan Negeri Malaysia, maka kita harus memacu produksi kita delapan kali lipat dari sekarang yang tentunya akan mempeluas kesempatan kerja melonjak menjadi 2.500.000 kali 8 (delapan) atau 20.000.000 juta orang akan terkait secara langsung sebagai tenaga kerja pendukung sub sektor peternakan dengan kata lain akan tersedia tambahan lapangan pekerjaan sebesar 17.500.000 orang.

Sungguh jumlah yang sangat tidak sedikit dan akan sangat berarti bagi bangsa ini, kita tidakperlu lagi mengirimkan tenaga kerja keluar negeri yang berarti mengurangi kebersamaan keluarga, dan kita akan kembali mengingatkan sistem pertanian nenek moyang kita dimana keluarga petani hidup dan mencari kehidupan disekitar rumah mereka sebagai petani yang tangguh yang mampu menciptakan kreatifitasnya untuk kemajuan diri, keluarga, bangsa dan Negara.

Dengan kata lain maka aborsi DOC yang tidak lebih hanya merupakan legalitas atas penjunjungan kepentingan konglomerasi sebagian pelaku perunggasan sudah selayaknya untuk tidak dilakukan karena hal tersebut merupakan pembodohan publik yang terencana berkedok penyelamatan perunggasan bangsa. Biarkan bangsa ini mencari jati diri dengan membanggakan apa yang pantas untuk dibanggakan sebagai bangsa yang bermartabat. Satu sisi untuk penyelamatan kepentingan sepihak, malah sektor peternakan petelur dibuat babak belur karenanya. Saatnya untuk menciptakan produk berdaya saing tinggi dengan biaya ekonomis tetapi menguntungkan bukan dengan biaya tinggi tetapi menguntungkan dengan mengorbankan kesempatan warga Negara membeli produk asal unggas.

Seandainya kita berhitung berapakah nilai uang yang akan didapatkan seandainya kita benar-benar menggali potensi peternkan kita maka akan didapatkan nilai yang sungguh luar biasa dan kita akan dibuat berdecak kagum karenanya. Mari kita coba buktikan dengan asumsi yang akan dilukiskan sebagai berikut, jika keuntungan dari jumlah produksi DOC 25.000.000 ekor per minggu adalah Rp 1.000/ekor maka akan didapatkan nilai 25 milyar per minggu atau 200 Milyar per 8 minggu produksi.

Jika kita bisa melipatgandakan konsumsi perkapita dengan menyediakan produk asal unggas yang murah menjadi 8 kali dari sekarang maka akan terkumpul satu periode adalah tidak kurang dari 1,6 Trilyun setara dengan jumlah uang TKI yang dikirimkan selama periode lebaran tahun 2009. Sungguh pahlawan devisa tersebut bisa tergantikan oleh bidang peternakan tanpa harus mengorbankan harga dan martabat sebagai bangsa Indonesia dan penulis yakin Indonesia mampu menjadi magnet yang akan menggaet perhatian dunia.

Dan akhirnya sempalan lirik lagu …… NUSA BANGSA DAN BAHASA KITA BELA BERSAMA …. Akan semakin terasa merdu dan membanggakan setiap warga Negara INDONESIA meresap keseluruh relung sebagai pengejawantahan dan perwujudan SUMPAH PEMUDA 28 OKTOBER 1928. Salam Peternak! (Red)

Post Terkait:

  • KETIKA BIOSECURITY SELAMATKAN PETERNAKAN UNGGAS Kisah-kisah ini merupakan kisah kilas balik. Dengan kisah yang telah berlalu beberapa tahun saat wabah Avian Influenza merangsek dunia peternakan kita, kita dapat belajar banyak…
  • TAHUN BERGANTI, MUSIM BERUBAH, PERNAFASAN BERPOLAH (( Pada layer atau broiler pun demikian, penyakit pun masih tercatat sebagai penyebab kerugian terbesar di peternakan. Dari sejumlah besar penyakit yang dapat menyerang ayam,…
  • MENELISIK BISNIS PETERNAKAN INDONESIA 2010 Indonesia, negara kaya raya di jagad khatulistiwa terbentang dengan pongah di antara dua benua dan dua samudera. Memiliki ribuan pulau besar dan kecil, yang mengandung…
  • Pakan Ternak Tumbuh 7% Pertahun Capai 8,13 Juta Ton (( Tahun 2008 konsumsi pakan berkisar 8,13 juta ton dengan asumsi pertumbuhan kebutuhan peternakan 7%. ))Untuk mengimbangi kenaikan produksi unggas, maka konsumsi pakan ternak nasional…
  • Cacingan dan Pengobatannya | Majalah Infovet I… Edisi 167 Juni 2008Penyakit cacing atau helminthiasis terkadang masih kurang diperhatikan karena tidak menimbulkan kematian yang mendadak dan tinggi sepertinya halnya penyakit viral (misal ND…
  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia… PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) merupakan salah satu pemain utama dalam industri agri-food terintegrasi di Indonesia. Memasuki paruh kedua tahun 2026, saham JPFA menunjukkan…
  • Waspada 3 Penyakit Utama Penyebab Turunnya Produksi Telur Waspada 3 Penyakit Utama Penyebab Turunnya Produksi TelurFungsi terbesar produk peternakan adalah menyediakan protein, energi, vitamin dan mineral untuk melengkapi hasil-hasil pertanian. Salah satu nutrisi…
  • Harga Ayam Naik di Pertengahan 2020, Saham PT… Kenaikan harga ayam broiler sepanjang bulan Juni sempat mengangkat saham emiten poultry. Investor berekspektasi harga broiler yang naik signifikan akan membantu kinerja sektor poultry. Jika…
  • PENYAKIT 2006, KEBANGKRUTAN, PEMBERANTASAN DAN KESERIUSAN (( Penyakit-penyakit itu jelas merugikan dan membangkrutkan dunia peternakan serta bahkan juga memungkinkan manusia tertular. Ada yang dapat menyebabkan kerugian langsung yang dapat dilihat dan…
  • Problem Imunosupresi Melawan Mikotoksin | Majalah… Fokus Infovet edisi 164 Maret 2008Oleh: Tony Unandar (SAS Group)(( Selain berbekal kemampuan teknis yang memadai, seorang praktisi lapangan kadang kala membutuhkan suatu instuisi yang…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DATA BISNIS PETERNAKAN

Artikel Terbaru

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

KALENDER

July 2026
MTWTFSS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031 
« May    

ARTIKEL TERBARU

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

ARTIKEL TERKAIT

  • KETIKA BIOSECURITY SELAMATKAN PETERNAKAN UNGGAS by Agribisnis Kisah-kisah ini merupakan kisah kilas balik. Dengan kisah yang telah berlalu beberapa tahun saat wabah Avian Influenza merangsek dunia peternakan kita, kita dapat belajar banyak…
  • TAHUN BERGANTI, MUSIM BERUBAH, PERNAFASAN BERPOLAH by Agribisnis (( Pada layer atau broiler pun demikian, penyakit pun masih tercatat sebagai penyebab kerugian terbesar di peternakan. Dari sejumlah besar penyakit yang dapat menyerang ayam,…
  • MENELISIK BISNIS PETERNAKAN INDONESIA 2010 by Agribisnis Indonesia, negara kaya raya di jagad khatulistiwa terbentang dengan pongah di antara dua benua dan dua samudera. Memiliki ribuan pulau besar dan kecil, yang mengandung…
  • Pakan Ternak Tumbuh 7% Pertahun Capai 8,13 Juta Ton by Agribisnis (( Tahun 2008 konsumsi pakan berkisar 8,13 juta ton dengan asumsi pertumbuhan kebutuhan peternakan 7%. ))Untuk mengimbangi kenaikan produksi unggas, maka konsumsi pakan ternak nasional…
  • Cacingan dan Pengobatannya | Majalah Infovet I… by Agribisnis Edisi 167 Juni 2008Penyakit cacing atau helminthiasis terkadang masih kurang diperhatikan karena tidak menimbulkan kematian yang mendadak dan tinggi sepertinya halnya penyakit viral (misal ND…

  • 1,202,768
  • 606,612
©2026 – | Design: Newspaperly WordPress Theme
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI