Breaking News

YLKI ADAKAN KONFERENSI PERS TERKAIT PRODUK UNGGAS

Jumat (16/7) yang lalu Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bersama  World Animal Protection (WAP), dan CIVAS mengadakan ‘Press Conference Final Report: Penemuan Bakteri Kebal Antibiotik Pada Produk Pangan Ayam Broiler.’ Acara ini diselenggarakan secara daring via Zoom.

Hal tersebut adalah tindaklanjut dari hasil investigasi YLKI bersama CIVAS dan WAP terkait isu resistensi antimikroba yang menjadi isu global. Tulus Abadi selaku ketua YLKI berukar bahwa isu tersebut sudah menjadi isu yang sering diperbincangkan di lembaga konsumen dunia. Oleh karenanya YLKI sebagai lembaga perlindungan konsumen di Indonesia merasa harus melakukan sesuatu sebagai bentuk kontribusinya di masyarakat.

“Kami berusaha mengedukasi konsumen agar lebih cerdas dan paham mengenai apa itu food safety dan security. Daging ayam sudah menjadi bagian hidup sehari – hari di meja makan masyarakat, oleh karenanya ini harus diamankan agar tidak membahayakan,” tuturnya.

Ia juga menuturkan bahwa dengan adanya temuan ini diharapkan dapat menjadi pemacu bagi konsumen, pemerintah, maupun pelaku usaha untuk semakin concern dan berusaha menghasilkan produk perunggasan yang aman bagi masayarakat dan tidak meminimalisir cemaran residu antibiotik maupun bakteri yang kebal antibiotik agar tidak membahayakan kesehatan pemakannya.

Dalam kesempatan yang sama, Rully Prayoga dari WAP menjabarkan hasil temuannya. Setidaknya dari sampel karkas dan sekum yang diambil dari retail dan RPHU ditemukan adanya bakteri E.coli yang resisten terhadap beberapa jenis antimikroba seperti Ciprofloxacin, Kolistin, Meropenem, Sulfomethoxazole, dan Kloramfenikol.

“Ini cukup membahayakan, jika bakteri ini mengontaminasi dan termakan oleh konsumen tentunya akan menyebabkan risiko bagi konsumen. Oleh karenanya kami perlu mengklarifikasi hal ini,” tutur Rully.

Dirinya juga memberikan beberapa rekomendasi kepada pemerintah dan pelaku usaha untuk mencegah terjadinya hal ini. Diantaranya meningkatkan manajemen pemeliharaan ternak terutama dalam aspek biosekuriti dan meminimalisir penggunaan antibiotik pada ternak. Pemerintah juga dihimbau agar lebih menjalankan fungsi pengawasan kepada peternak dalam hal penggunaan antibiotik.

Ketua Umum PDHI yang juga hadir dalam pertemuan online tersebut Drh Muhammad Munawaroh mengapresiasi hasil investigasi tersebut. Dirinya pun mengakui bahwa fungsi pengawasan yang dilakukan juga belum maksimal karena terbatasnya sumber daya dari pemerintah. Oleh karenanya dia menghimbau kepada seluruh stakeholder yang berkecimpung agar bersinergi dan berkolaborasi menjalankan fungsi pengawasan tersebut.

Terkait temuan tersebut, Munawaroh menghimbau utamanya kepada YLKI agar tidak terlebih dahulu “kebakaran jenggot” menanggapi temuannya. Hal tersebut tentunya akan berdampak besar pada aspek sosio-ekonomi dimana nantinya masyarakat akan takut mengonsumsi daging ayam karena mengandung bakteri berbahaya.

“Temuan ini sebaiknya ditanggapi dengan bijak, toh yang ditemukan adalah bakteri kebal antibiotik pada karkas. Sebenarnya jika masyarakat dihimbau agar memasak ayamnya sampai benar – benar matang, bakterinya otomatis akan mati karena suhu panas tadi. Berbeda kalau yang ditemukan adalah residu antibiotik, ini lebih berbahaya karena residu antibiotik tidak mudah hancur dalam suhu panas sekalipun,” tutur Munawaroh.

Ia juga mengatakan kepada audiens terutama pewarta agar lebih bijak dalam menanggapi hal ini, karena seperti yang ia bilang tadi, dampak sosio-ekonominya akan sangat terasa terutama bagi peternak dan pelaku usaha. Terlebih lagi kini peternak dan pelaku usaha tengah dipusingkan dengan anjloknya harga ayam yang tentunya merugikan bagi mereka.

Sumber : http://www.majalahinfovet.com/ (CR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *