Parameter kualitas air yang optimal dan protein yang tinggi pada pakan, dapat memacu meningkatkan pertumbuhan sidat.
Ikan sidat sekilas terlihat mirip dengan belut, namun tubuh sidat lebih memanjang dan memiliki kepala berbentuk segi tiga serta memiliki empat sirip dibagian dada yang sering disebut telinga, dubur, punggung dan ekor. Kemudian memiliki sisik yang sangat halus dan tubuhnya ditutupi lendir.
Sidat memiliki siklus hidup yang unik, dimana sejak menetas hingga dewasa hidup di air tawar, sungai, atau danau namun ketika siap memijah akan migrasi serta hidup dilaut dalam dan induknya ini akan mati.
Sampai saat ini sidat belum bisa dipijahkan di kolam baik secara alami maupun buatan. Benih yang digunakan untuk usaha pembesaran sepenuhnya masih merupakan hasil penangkapan dari alam. Dimana saat migrasi glass eel ditangkap di genangan air payau hingga sungai untuk kemudian dibesarkan di kolam pembesaran.
Dosen Program Studi Akuakultur Universitas Tadulako Palu, Dr. Ir. Samliok Ndobe, M.Si., mengatakan, “Sungai – sungai di Sulawesi Tengah umumnya terdapat populasi ikan sidat, salah satu jenis ikan sidat ukuran glass eel yang melakukan ruaya anadromous di Sungai Palu adalah Anguilla marmorata.”
Glass eel merupakan salah satu tahapan dari tujuh tahapan siklus hidup ikan sidat, yaitu bentuk ikan sidat kecil (larva/benih) yang sudah menyerupai keseluruhan morfologi ikan sidat dewasa tetapi belum memiliki pigmen tubuh (transparan) sehingga disebut glass eel (sidat kaca).
Seperti yang dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, Benih sidat yang dipelihara mulai dari ukuran glass eel (0,16 gr) sampai ukuran 0,5 – 1 gr dengan lama pemeliharaan 2-3 bulan dengan SR diatas 80%. Setelah pemeliharaan tersebut kemudian dijual ke Jakarta, dengan harga Rp 500.000,-/kg atau 1000 ekor.
Perekayasa BPBAT Tatelu, Iman Sudrajat, S.Pi. mengatakan, “Sebenarnya kegiatan kami bisa sampai ke tingkat konsumsi namun faktor ketersediaan dan harga pakan sidat komersil bila masuk ke wilayah Sulawesi Utara tentu menjadi sangat tinggi.”
Kegiatan budidaya pembesaran benih sidat (elver) di BPBAT Tatelu yang dimulai dari glass eel, hingga 2 minggu tidak dilakukan pergantian air, cukup dengan hanya mengangkat kotoran yang ada menggunakan serok setiap pagi sebelum pemberian pakan. Setelah 2 minggu baru dilakukan pergantian air sebanyak 50% per 3 hari dan mulai dilakukan penjarangan.
Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur Edisi Mei 2016
