AK 53 Juni 19 – Rubrik Laput 1 REV
Genjot Produksi Udang, Pilih Windu atau Vaname?
Udang masih menjadi komoditas unggulan ekspor Indonesia di tahun 2018. Dari sisi nilai, udang menyumbang devisa sebesar USD 1,3 Milyar atau 36,96% dari total nilai ekspor. Padahal, dilihat dari volumenya, udang hanya menyumbang 18,35% dari keseluruhan volume komoditas ekspor Indonesia.
Menurut data Direktorat Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan tahun 2018; USA, Jepang, Belanda, dan China merupakan pasar utama produk udang Indonesia. Keempat negara tersebut menyerap lebih dari 85,62% produk udang Indonesia. Sementara dari sisi nilai, ekspor udang keempat negara tersebut mencapai 89,34% atau sebesar USD 1,16 Milyar dari keseluruhan udang yang diekspor Indonesia. Demikian papar Ir. Coco Kokarkin Soetrisno, M.Sc, Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, KKP, saat dihubungi Info Akuakultur.
Berbagai jenis udang—baik udang windu maupun vaname—pada umumnya digemari masyarakat tujuan ekspor. Dengan alasan, udang merupakan salah satu makanan laut yang lebih murah dibandingkan tuna, salmon, atau cumi-cumi. Selain harganya terjangkau dan kandungan gizinya relatif tinggi, pasokan dan ketersediaan udang di pasar tergolong aman.
Ekspor udang masih menjadi primadona ekspor ke Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Adapun Amerika Serikat (AS) masih menjadi pasar tujuan ekspor udang terbesar Indonesia. Di Negeri Paman Sam tersebut, ekspor udang dari Indonesia merupakan yang terbesar kedua setelah India. Sementara di Eropa, Indonesia berada di urutan ke-16 pengekspor udang ke benua biru tersebut sehingga peluangnya masih sangat besar.
Perkembangan produksi udang nasional tahun 2015—2018 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 35,22%. Sejak tahun 2017, produksi udang secara total telah mencapai target dan pada tahun 2018 capaian target produksi udang sebesar 153,63%. Jika melihat fakta di lapangan, geliat pembudidaya untuk memelihara udang semakin meningkat. Dari Laporan Kinerja DJPB Triwulan III Tahun 2018 terlihat bahwa hal tersebut dipicu oleh membaiknya harga udang dan meningkatnya produktivitas udang di tingkat pembudidaya.
Produksi udang nasional pada tahun 2013 hingga 2017 dapat dilihat pada grafik berikut.
Sumber: Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (2019)
Sedangkan ekspor udang Indonesia tahun 2018 hingga April 2019 dapat dilihat pada Tabel Data Ekspor udang Indonesia 2018—2019 berikut.
Tabel Data Ekspor Udang Indonesia 2018 – 2019* (angka sementara hingga April)
| Tahun | Volume (kg) | Nilai (USD) |
| 2018 | 197.433.608 | 1.742.119.193 |
| 2019 | 62.636.116 | 514.323.203 |
Sumber: Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (2019)
Sementara itu, potensi wilayah perikanan budidaya mencapai 12,9 juta hektar dan baru termanfaatkan sebesar 7%. Untuk budidaya tambak, pemanfaatan baru 650.509 hektar, sedangkan potensinya sebesar 2.964.331 hektar (Sumber: Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2019).
Pilih Windu atau Vaname?
Hingga pertengahan tahun 90-an, jenis udang yang paling diminati petambak di Indonesia adalah udang windu. Namun, seiring dengan menurunnya kualitas lingkungan dan merebaknya berbagai penyakit, budidaya udang vaname pun mendominasi budidaya udang di Indonesia.
Kegiatan budidaya udang terutama udang windu di Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 1991 – 1994. Penurunan kualitas lingkungan, kesalahan dalam penerapan teknologi, dan merebaknya berbagai macam penyakit menyebabkan gagal panen dan semakin menurunkan produksinya.
Setelah itu, budidaya udang vaname mulai berkembang di masyarakat. Hal fundamental yang melatarbelakangi popularnya budidaya vaname di kalangan petambak dapat dilihat secara teknis maupun ekonomi. Secara teknis, keunggulan udang vaname yaitu tahan penyakit, waktu budidaya lebih cepat, SR tinggi dan produktivitas tinggi, budidayanya lebih mudah, dan intensifikasi budidayanya relatif mudah untuk dilaksanakan. Dari sisi ekonomi, peluang pasar ekspornya tinggi, mampu meningkatkan pendapatan pembudidaya dan menyerap tenaga kerja karena produktivitasnya tinggi, dan potensi lahannya tersedia.
“Selain lebih kuat terhadap berbagai penyakit, alasan lain udang vaname lebih diminati oleh pembudidaya karena kepadatan tebar lebih tinggi, baik dengan teknologi ekstensif, semi-intensif, maupun intensif,” tutur Coco.
Hal ini terlihat pada Tabel Tingkat Teknologi Budidaya Udang.
Tabel Tingkat Teknologi Budidaya Udang
| Teknologi budidaya udang | Kepadatan (ekor/m2) | |
| Udang windu | Udang vaname | |
| Tradisional Monokultur PolikulturTradisional plus | 2 – 5 >2 2 – 3 5 | < 8 |
| Semi intensif | 6 – 15 | 15 – 25 |
| Intensif | >15 | > 50 |
Sumber: Pusat Riset Perikanan BRSDMKP (2018)
Saat ini, budidaya udang vaname dengan teknologi intensif berkembang pesat karena didukung ketersediaan benih SPF (Spesific Pathogen Free) yang cukup, sehingga memiliki kelangsungan hidup (SR) tinggi. Dengan kepadatan lebih tinggi, produktivitas budidaya udang vaname jelas lebih tinggi daripada udang windu. Produktivitas udang windu berkisar 600–3.000 kg/hektar per musim tanam, sedangkan udang vaname berkisar 6.000–10.000 kg/hektar per musim tanam.
Tak hanya menghasilkan produksi yang tinggi, udang vaname ternyata juga mampu membangkitkan kembali usaha pertambakan nasional yang tadinya sudah mulai lesu. Perkembangan udang vanamei sudah menyebar di sentra-sentra budidaya udang nasional seperti di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan. Dengan begitu, sangat tepat bila udang vaname menjadi andalan bagi industri perudangan nasional.
“Dari segi produktivitas tambak dan keuntungan finansial, udang vaname masih lebih unggul,” tutur Supono, senada. Menurut data dari Ketua Program Studi Magister Manajemen Wilayah Pesisir dan Laut Universitas Lampung tersebut, vaname memiliki produktivitas 15—20 ton/hektar, sedangkan udang windu 5—6 ton/hektar. Dari FCR, vaname lebih kecil, yaitu 1,4—1,6; sedangkan windu 1,8—2,0. Adapun dari SR, vaname lebih tinggi , dibanding windu, yaitu 90%:70%. Sementara kepadatan vaname lebih tinggi, yaitu lebih dari 100 ekor/m2, dan windu maksimal 40 ekor/m2.
Beberapa praktisi budidaya udang juga mengamini pendapat Coco dan Supono. Agus Suryadi, misalnya. Aqua Technical Support Manager PT Kemin Indonesia ini beranggapan bahwa budidaya tetap lebih menguntungkan, meskipun dari sisi indukan, udang windu lebih mudah diperoleh karena spesies lokal Indonesia.
“Vaname tetap lebih menguntungkan karena bisa dibudidayakan dengan densitas tinggi. Di habitatnya, vaname bisa mengisi kolom air yang lebih luas, sedangkan windu cenderung demersal. Jika dibandingkan, vaname tetap menjadi leader produksi dengan temuan-temuan teknologi baru dan upaya menjaga sustainability budidaya,” terangnya.
“Untuk saat ini, L. vannamei menjadi tren pasar. Kelebihan budidaya vaname yaitu laku di pasar walau size kecil, sedangkan udang windu harus size besar. Meskipun dalam risiko terkena masalah penyakit semuanya sama, tetapi vaname lebih punya nilai lebih dalam pasar dibanding windu pada size kecil,” ujar Nunung Nurhayat Daman, petambak dari Bengkayang, Pontianak, Kalimantan Barat. Pada 1992—2006, Nunung membudidayakan udang windu dan bandeng. Selanjutnya, pada 2006—2015, udang vaname mulai ia budidayakan selain tetap membudidayakan udang windu. Namun, pada 2015 sampai sekarang, Nunung beralih 100% ke udang vaname.
Hari Juliyanto, Sekjen SCI Banyuwangi, mengungkapkan bahwa vaname masih menjadi komoditas yang menarik bagi pelaku budidaya. “Minat masih di udang vaname karena produktivitasnya yang tinggi dan pangsa pasarnya. Udang vaname size 150 masih laku di pabrik, sedangkan windu size 70 masih pasar lokal. Pabrik juga masih jarang yang menerima udang windu. Yang kami tahu, windu masih barang premium, meskipun secara umum harganya relatif sama dengan vaname. Untuk size besar, windu masuk pasar Eropa dan AS, sedangkan size sedang masih oriental,” paparnya.
Saling Melengkapi
Meskipun produksi udang vaname Indonesia saat ini lebih tinggi dibandingkan udang windu karena tuntutan pasar dan kondisi lingkungan, keduanya sama-sama memiliki nilai strategis, baik dari sudut pandang kedaulatan serta ketahanan pangan, ekonomi, pasar ekspor, maupun diversifikasi komoditas budidaya.
“Saat ini, indukan vaname dengan kualitas baik sebagian besar masih harus di-impor. Meskipun ada juga perusahaan nasional yang memproduksi induk yang baik, tetapi masih sangat sedikit produksinya dibanding impor. Untuk udang windu pengetahuan saya terbatas, tetapi setahu saya yang dibudidayakan di Indonesia memang dari induk lokal,” ujar Aryo Wiryawan, Chairman and Founder JALA, Start Up Monitor Tambak Udang.
“Oleh karena itu, pengembangan keduanya sama-sama terus kita dorong. Kita tidak bisa mengesampingkan salah satunya, meskipun saat ini—karena tuntutan pasar dan kondisi lingkungan—vaname lebih mendominasi, baik produksinya, ketersediaan benih—termasuk hatchery/HSRT, maupun penguasaan dan penerapan teknologinya,” terang Coco.
Dari sisi pengadaan benih dan teknologi budidaya, untuk jenis vaname dan windu telah dikuasai dengan baik. Pemerintah telah mempunyai broodstock center, untuk udang windu di BBPBAP Jepara dan untuk vaname di BPIU2K Karangasem Bali, yang mampu memproduksi benih udang dengan kualitas tinggi. Langkah ini meminimalkan ketergantungan Indonesia terhadap benih-benih dari negara lain. Selain itu, pemerintah—melalui UPT DJPB—selalu mendorong dan membina HSRT dan unit pembenihan swasta agar mereka mampu mandiri dan menghasilkan udang yang berkualitas.
Dari sisi pemasaran, daya saing harga udang sangat menentukan. Oleh karenanya, pihak KKP menggalakkan usaha budidaya udang dalam sistem kluster, di mana ada integrasi kegiatan sehingga memudahkan dalam penyediaan benih, pengawasan teknologi, pencegahan dan penanganan penyakit, serta pembinaan yang akan berujung pada efisiensi usaha dan daya saing udang kita di luar negeri.
“Selain itu, dampak positif yang terjadi dengan pengembangan budidaya udang yaitu berkembangnya industri sarana penunjang seperti usaha pembenihan (hatchery), pabrik pakan, industri peralatan, dan usaha penanganan hasil perikanan,” ungkap Coco.
Saat ini, KKP juga sedang mengembangkan jenis udang lokal, yang bibitnya bisa ditemukan di perairan Indonesia. Jenis udang tersebut adalah udang putih, yang dikenal di pasar internasional dengan sebutan banana shrimp (Penaeus merguiensis). Pengembangan udang tersebut dilakukan langsung oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah selama dua tahun terakhir. Dibandingkan vaname, Marguiensis disebut lebih tahan dari serangan penyakit.
“Sebagai jenis baru yang sedang dikembangkan, Marguiensis adalah harapan baru untuk bisnis perudangan nasional. Namun, keberadaan Marguiensis ke depan tidak akan menggantikan vaname yang saat ini menjadi andalan Indonesia untuk ekspor ke pasar internasional,” tandas Coco. (Rch/Resti/Adit)
Tabel Produksi Udang Windu Nasional Tahun 2013 – 2017 (satuan Ton)
| No. | Provinsi | 2013 | 2014 | 2015 | 2016 | 2017 |
| 1. | Aceh | 5.621 | 8.048 | 8.114 | 9.418 | 16.349 |
| 2. | Sumatera Utara | 9.627 | 8.326 | 5.635 | 11.423 | 4.015 |
| 3. | Sumatera Barat | 2 | 2 | – | – | – |
| 4. | Riau | 27 | 8 | 11 | 86 | 20 |
| 5. | Kepulauan Riau | 0 | – | 2 | 13 | 0 |
| 6. | Jambi | – | 35 | 27 | 12 | 8 |
| 7. | Sumatera Selatan | 5.641 | 5.010 | 4.796 | 400 | 14.974 |
| 8. | Bangka Belitung | – | 1 | – | – | – |
| 9. | Bengkulu | 278 | 781 | 2.325 | 34 | – |
| 10. | Lampung | 2.791 | 1.103 | 1.788 | 808 | – |
| 11. | DKI Jakarta | 201 | 129 | 108 | 208 | 226 |
| 12. | Banten | 404 | 382 | 405 | 237 | 710 |
| 13. | Jawa Barat | 27.860 | 42.168 | 36.901 | 35.614 | 146 |
| 14. | Jawa Tengah | 33.580 | 5.083 | 2.775 | 2.511 | 4.480 |
| 15. | DI Yogyakarta | – | – | – | – | – |
| 16 | Jawa Timur | 9.842 | 9.774 | 9.472 | 10.247 | 7.690 |
| 17. | Bali | – | – | – | – | – |
| 18. | Nusa Tenggara Barat | 4.299 | 972 | 958 | 190 | – |
| 19. | Nusa Tenggara Timur | – | – | – | – | – |
| 20. | Kalimantan Barat | 1.865 | 4.654 | 3.011 | 3.100 | 20.996 |
| 21. | Kalimantan Tengah | 52 | 46 | 103 | 124 | – |
| 22. | Kalimantan Selatan | 4.758 | 5.881 | 7.214 | 14.113 | 14.637 |
| 23. | Kalimantan Timur | 10.758 | 8.774 | 9.466 | 10.524 | 19.960 |
| 24. | Kalimantan Utara | – | – | 1.047 | 941 | 6.892 |
| 25. | Sulawesi Utara | 390 | 65 | 74 | 85 | 276 |
| 26. | Gorontalo | 143 | 24 | 11 | 2 | – |
| 27. | Sulawesi Tengah | 22.403 | 3.985 | 8.832 | 4.393 | – |
| 28. | Sulawesi Barat | 1.898 | 2.549 | 3.075 | 5.591 | 383 |
| 29. | Sulawesi Selatan | 15.319 | 16.036 | 14.850 | 14.777 | 12.212 |
| 30. | Sulawesi Tenggara | 13.275 | 7.961 | 6.610 | 6.676 | 4.062 |
| 31. | Maluku | 526 | – | – | 1 | 1 |
| 32. | Maluku Utara | 1 | 0 | 2 | 17 | – |
| 33. | Papua | 17 | 5 | 9 | 5 | – |
| 34. | Papua Barat | 4 | 9 | 4 | 6 | – |
| TOTAL | 171.583 | 131.809 | 127.627 | 131.556 | 128.038 |
Sumber: Statistik Perikanan Budidaya, Ditjen Perikanan Budidaya
Tabel Produksi Udang Vaname Nasional Tahun 2013 – 2017 (satuan Ton)
| No. | Provinsi | 2013 | 2014 | 2015 | 2016 | 2017 |
| 1. | Aceh | 1.244 | 1.391 | 4.470 | 11.679 | 17.266 |
| 2. | Sumatera Utara | 19.791 | 16.161 | 17.475 | 28.440 | 23.289 |
| 3. | Sumatera Barat | 3 | 2 | 3 | 16 | – |
| 4. | Riau | 32 | 49 | 40 | 35 | 316 |
| 5. | Kepulauan Riau | 32 | 2 | 1 | – | 42 |
| 6. | Jambi | – | – | – | – | – |
| 7. | Sumatera Selatan | 40.016 | 40.928 | 42.331 | 34.000 | 45.178 |
| 8. | Bangka Belitung | 710 | 747 | 1.056 | 1.637 | 1.098 |
| 9. | Bengkulu | 945 | 3.302 | 4.103 | 5.788 | 6.791 |
| 10. | Lampung | 72.051 | 62.872 | 42.883 | 55.153 | 45.980 |
| 11. | DKI Jakarta | – | – | – | 0 | – |
| 12. | Banten | 1.407 | 1.606 | 1.223 | 1.178 | 2.855 |
| 13. | Jawa Barat | 61.633 | 60.120 | 60.920 | 62.124 | 120.769 |
| 14. | Jawa Tengah | 13.872 | 30.610 | 19.924 | 21.799 | 20.900 |
| 15. | DI Yogyakarta | 812 | 2.446 | 3.364 | 2.787 | 2.987 |
| 16 | Jawa Timur | 47.150 | 54.373 | 65.582 | 78.704 | 146.076 |
| 17. | Bali | 2.932 | 3.423 | 3.243 | 5.318 | 5.277 |
| 18. | Nusa Tenggara Barat | 56.960 | 78.967 | 89.884 | 115.389 | 92.488 |
| 19. | Nusa Tenggara Timur | 13 | 7 | 31 | 14 | – |
| 20. | Kalimantan Barat | 39.092 | 32.073 | 1.544 | 1.500 | – |
| 21. | Kalimantan Tengah | – | – | 4 | 5 | 11 |
| 22. | Kalimantan Selatan | – | – | – | – | – |
| 23. | Kalimantan Timur | – | – | – | – | – |
| 24. | Kalimantan Utara | – | – | – | – | – |
| 25. | Sulawesi Utara | 272 | 84 | 64 | 66 | 3 |
| 26. | Gorontalo | 996 | 2.209 | 3.239 | 1.802 | 27.585 |
| 27. | Sulawesi Tengah | 91 | 500 | 1.237 | 11.286 | 19.923 |
| 28. | Sulawesi Barat | 1.138 | 3.025 | 9.707 | 13.980 | 17.145 |
| 29. | Sulawesi Selatan | 8.542 | 15.247 | 12.827 | 14.835 | 24.296 |
| 30. | Sulawesi Tenggara | 18.369 | 27.230 | 25.769 | 25.711 | 126.591 |
| 31. | Maluku | 2.065 | 4.915 | 10.142 | 4.897 | 10.924 |
| 32. | Maluku Utara | 111 | 90 | 23 | 32 | – |
| 33. | Papua | – | – | – | – | – |
| 34. | Papua Barat | – | – | – | – | – |
| TOTAL | 390.278 | 442.380 | 421.089 | 498.174 | 757.793 |
Sumber: Statistik Perikanan Budidaya, Ditjen Perikanan Budidaya