Windu, Masih Jadi Primadona

Meskipun
udang asli Indonesia ini telah kehilangan dominasinya di ranah budidaya dalam
negeri, bukan berarti ia kehilangan penggemar. Tak sedikit yang tetap setia menggelutinya
dan berharap windu kembali menjadi primadona.

Wajar jika vaname menjadi primadona
pasar ekspor, terlebih ke pasar Amerika Serikat. Pasalnya, udang vaname memang
spesies asli di pantai Pasifik timur di Amerika bagian tengah dan Selatan. Demikian
ungkap Dr. Romi
Novriadi
,
S.Pd.Kim, M.Sc,
Peneliti Senior di DJPB, KKP. Kondisi ini juga didukung oleh banyaknya warga Amerika
bagian Tengah dan Selatan yang datang dan berbaur menjadi penduduk di Amerika
Serikat.

“Selama saya kuliah di
sana, khususnya di beberapa negara bagian yang berada di selatan seperti
Alabama, Mississippi, Florida, dan Georgia, fast
food
yang khusus menjual udang vaname seperti shrimp basket cukup menjamur dan menjadi destinasi favorit bagi
warga setempat untuk ber-kuliner ria bersama keluarga,” jelas Romi.

Pria yang juga menjabat sebagai Director World Aquaculture Society-Asian
Pacific Chapter
ini juga mengungkapkan bahwa kedua jenis udang—windu dan
vaname—bisa dijadikan andalan untuk mendatangkan devisa. Dengan begitu,
budidaya udang bisa menjadi sektor andalan untuk membuka lapangan kerja dan
menyejahterakan kehidupan masyarakat.

Saat ini, jika dilihat dari volume
ekspor dan permintaan, tentu udang vaname lebih diminati. Namun, dengan
stabilnya harga udang windu di pasaran, komoditas ini—dengan bantuan riset, teknologi,
dan promosi dari berbagai pihak—dapat dijadikan alternatif potensial untuk
peningkatan produksi udang nasional

Tidak bisa dipungkiri, teknologi hulu ke
hilir—mulai dari pemuliaan induk, produksi benih, teknologi pakan, manajemen
pemeliharaan dan pasar—sangat berpihak ke vaname. Terkait udang windu, meskipun
teknologi pemuliaan dan produksi benihnya juga sudah dikuasai, sektor pasar
internasional masih menjadi tantangan tersendiri.

“Selama berada di Malaysia, saya melihat
udang windu menjadi alternatif utama untuk recovery
tambak vaname yang terkena imbas mewabahnya AHPND (acute hepatopancreatic necrosis
disease)
di beberapa lokasi seperti
Johor Bahru, Ipoh, Kedah, dan Selangor. Dengan produksi yang konsisten di dua
tahun terakhir, para petambak bisa mendorong konsumen untuk mulai menikmati
udang windu. Saat ini, permintaan untuk komoditas udang windu di Malaysia
semakin meningkat dan kondisi ini bisa menjadi celah ekspor untuk produsen
udang windu di Indonesia karena produksi di Malaysia tidak mampu mencukupi
akibat jumlah benih yang terbatas,” ungkap Romi.

Baca Juga:   Peran Startup di Sektor Akuakultur

“Jika semua parameter keberhasilannya
sama antara vaname dan windu, sebenarnya dari rasa orang akan lebih memilih windu
karena rasanya lebih “lezat” dibandingkan vaname,” tutur Fauzan Bahri, Sales Manager Skretting Indonesia.

Masih menurut Fauzan, sebagian besar induk
vaname masih mengandalkan impor, sedangkan windu kemungkinan masih bisa di-supply dari kertersediaan di alam. Dari
sisi peluang mandiri, yang paling berpeluang adalah windu karena sumber induk
masih banyak di area laut Indonesia. Namun, dibutuhkan proses genetic improvement
untuk mendapatkan calon induk windu yang berkualitas.

Untuk fasilitas budidaya seperti pakan, peralatan,
dan obat-obatan, Indonesia sudah mencukupi. Untuk windu, faktor Induk
berkualitas masih menjadi ‘PR’. Sementara tantangan pada budidaya vaname saat
ini adalah serangan penyakit seperti IMNV, WFD, APHND, dan penyakit lainnya sehingga
diperlukan sistem yang tepat untuk menghadapi serangan penyakit tersebut.

“Selain itu adalah masalah tekanan harga
secara global sehingga ‘PR’ sekararang adalah bagaimana memproduksi udang dengan
efektif dan effisien sehingga bisa menekan atau mengurangi biaya produksi udang,”
ungkap Fauzan.

Tetap Bertahan

Meskipun sempat
terpuruk, tak dipungkiri bahwa komoditas windu pernah mengantarkan industri
udang Indonesia berjaya di era tahun 1980—1990-an dan membawa kemakmuran bagi
para pembudidayanya. Banyak tambak beralih membudidayakan udang vaname, jenis
introduksi dari Amerika. Namun, tak sedikit pula yang tetap ‘setia’ menggeluti
usaha budidaya udang asli Indonesia ini.

Salah satu pembudidaya
udang windu ini adalah Abdul Waris
Mawardi
, petambak dari Desa Waetuoe, Kecamatan Larinsang, Kabupaten Pinrang,
Sulawesi Selatan. Dengan motivasi meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga,
Waris mulai terjun dan menekuni usaha tambak udang sejak 20 tahun lalu. Sejak
awal, ia membudidayakan udang windu dan bandeng. Bicara soal loyalitas pada
udang windu sebagai komoditas utama tambak, Waris mengatakan akan tetap loyal
pada komoditas windu dan bandeng. Pasalnya?

Baca Juga:   Genjot Produksi Udang, Pilih Windu atau Vaname?

“Udang windu dan
bandeng masih sangat dicari di pasaran. Selain itu, udang windu dan bandeng
sesuai dan sangat cocok dibudidayakan di lahan tambak daerah kami,” ungkap
Waris.

Dari 5 hektar tambak
yang dimiliki, Waris bisa memanen 500 kg udang windu/hektar per tahun. Hasil
panennya langsung diambil PT Atina, eksportir udang ke Jepang. Adapun harga
yang berlaku Rp125 ribu/kg untuk size 25, Rp80 ribu/kg size 40, Rp50 ribu/kg
size 60, dan Rp50 ribu/kg untuk size 70—100.

Pendapat senada juga
diungkap oleh Syarifuddin.Ketua Pokdakan Pottotau,
Kelurahan Larinsang, Kecamatan Larinsang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi
Selatan ini mengaku mulai terjun ke dunia tambak udang sejak tahun 1990.
“Ketika itu harga udang cukup mahal dan tidak banyak masalah seperti saat ini.
Selain itu, harga sarana produksinya terjangkau dan selalu tersedia,”
kenangnya.

Di awal usaha, Syarifudin membudidayakan
udang windu dengan pola polikultur bercampur bandeng secara tradisional. Namun,
tren budidaya udang vaname membuatnya tertarik untuk mencoba udang asal Amerika
Serikat itu pada tahun 2015. Alasannya tak jauh berbeda dengan petambak udang
vaname lainnya, tahan penyakit dan harga jual mahal.

Setahun membudidayakan vaname tak lantas
membuat Syarifudin jatuh hati. Menurutnya, vaname justru lebih mudah terserang
penyakit. Sejak 2016, ia pun kembali beralih membudidayakan udang windu dan
fokus pada komoditas tersebut sampai sekarang.

“Meskipun menggunakan teknologi
tradisional secara turun-temurun, masih bisa dapat untung dengan menggunakan
pakan alami phronima suppa. Perkembangan harganya pun terus membaik, mulai dari
size 100 hingga size besar. Itulah alasan kami bertahan pada udang windu. Masalahnya, saat ini benurnya terkadang langka karena banyak permintaan, terutama pada bulan September sampai Januari,”
ujar Syarifudin.

Kebangkitan Nasional Udang Windu

“Secara nasional, keberadaan
udang windu harus dipertahankan. Selain memiliki nilai ekonomis, udang windu juga
memiliki nilai ekologis penting karena merupakan udang endemik dan pembentuk
keragaman plasma nutfah Indonesia,” tulis Dr. Tarunamulia, ST., M.Sc.,
Peneliti Madya BRPBAP3 Maros kepada Info
Akuakultur
. Menyitir
pernyataan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Dr. Ir. Slamet Soebjakto.
M.Si, Taruna mengungkapkan bahwa induk dan benih yang bebas penyakit menjadi
syarat mutlak bagi keberhasilan budidaya udang windu.

Baca Juga:   2019: Teropong Peluang Indonesia dalam Pasar Ekspor Udang Dunia

Sementara itu, Dr. Ir. Andi Parenrengi, M.Sc., Ketua Kelompok Peneliti Bioteknologi
Akuakultur, BRPBAP3 Maros, mengakui bahwa strain udang windu unggulan hasil
domestikasi “belum” ada. Namun, induk udang windu yang memiliki keunggulan dari
karakter genetiknya dapat diperoleh dari perairan alam Indonesia.

Hasil penelitian Prof. Dr. Haryanti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut
(BBPPBL) Gondol, Bali,
menunjukkan bahwa induk udang windu asal perairan Aceh memiliki karakater
genetik yang lebih unggul atau terbaik dibandingkan dengan beberapa lokasi
induk udang windu lainnya. Lokasi lain tersebut secara berturut-turut adalah Timika,
Pangandaran, Sulawesi Selatan, Sumbawa, Bali, Madura, Tarakan, dan Cilacap.

Sementara itu, Balai Riset Perikanan
Budidaya Air Payau (BRPBAP3) Maros sedang melakukan serangkaian kegiatan
litbang terkait dengan domestikasi dan perakitan strain unggul udang windu
melalui teknologi transgenesis dan marker DNA, dengan fokus pada perbaikan
karakter ketahanan penyakit dan pertumbuhan. Hasil sementara riset perakitan
strain udang windu kerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan
adanya peningkatan ketahanan penyakit terhadap virus bintik putih (WSSV)
sebesar 24,5% dan Vibrio harveyi sebesar
67%. Sementara hasil riset kerjasama dengan (BBPPBL) Gondol menunjukkan bahwa aplikasi marker DNA tumbuh cepat memperlihatkan peningkatan
pertumbuhan sebesar 35,2% dibandingkan dengan kontrol.

“Meskipun demikian, kegiatan domestikasi
dan perakitan strain udang windu unggul masih dihadapkan pada kendala dalam
pematangan induk. Oleh karena itu, sebagai langkah awal penggunaan udang windu
berstatus SPF (specific pathogen free)—baik
benur maupun induk—merupakan rekomendasi yang harus dilakukan dalam mencegah
tersebar luasnya wabah penyakit pada sentra-sentra produksi udang windu di
Indonesia,” aku Andi Pangrengi.

Terbentuknya pasar ekspor udang windu
dapat mengakibatkan peningkatan kebutuhan benur untuk kepentingan budidaya.
Untuk mengantisipasi ketersedian benur yang memadai—baik jumlah maupun kualitas,
terdapat beberapa langkah yang bisa diambil (lihat boks).

Untuk mengembalikan kejayaan
udang windu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan
pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti WWF
(World Wildlife
Fund
) terus mendorong penerapan prinsip-prinsip pengelolaan akuakultur  berkelanjutan (sustainable aquaculture). Aplikasinya antara lain melalui cara
budidaya ikan yang baik (CBIB) dan akuakultur 
berbasis ekosistem (Ecosystem Approach to Aquaculture—EAA).
Secara lokal, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memprakarsai “Gerakan
Kebangkitan Udang” sejak tahun 2008. (Rch/Resti/Adit)

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.