Peran Startup di Sektor Akuakultur

Menahan masuknya kemajuan teknologi (Statup di sektor Akuakultur) )hanya akan membuat kemunduran dan gagap teknologi, untuk itu dibutuhkan peran startup yang bisa menjadi jembatan informasi ke pembudidaya di lapangan.

Arus kemajuan teknologi
nyaris tidak terbendung yang kemudian menuntut kehidupan menjadi lebih praktis
dan dinamis. Bahkan, teknologi dapat mempengaruhi hal terkecil dalam kehidupan
manusia, yakni soal gaya hidup (life
style).
Lantas seperti apa kemajuan teknologi menyentuh sektor akuakultur
atau budidaya perikanan Indonesia saat ini?

Di era digitalisasi
saat ini, telah lahir banyak startup
di kalangan anak-anak muda kreatif, termasuk di bidang teknologi digital
akuakultur. Mereka mampu menghadirkan model bisnis akuakultur yang efisien di
tengah-tengah masyarakat pembudidaya.

Bahkan ketika membuka play store di smartphone dan mengetik keyword
‘budidaya ikan dan udang’ dan lain sebagainya, akan banyak bermunculan
aplikasi android yang bisa menjadi pilihan dalam membantu budidaya ikan dan
udang.

Startup
sendiri, menurut Aryo Wiryawan, Founder and Chairman JALA, ialah perusahaan
rintisan yang mengincar pertumbuhan eksponensial dengan memberikan solusi produk
maupun jasa yang sebelumnya tidak bisa disediakan oleh perusahaan atau pihak
lain secara konvensional.

Tidak jauh berbeda dengan Aryo, Andri
Saputra
dari Mina
Indonesia mengatakan, startup selain sebagai
perusahaan rintisan atau yang sedang mengembangkan berbagai bisnis model
inovatif untuk memberikan solusi kepada konsumennya, startup juga bisa memberikan solusi menggunakan pendekatan
teknologi informasi (TI) yang memang sedang berkembang pesat di Indonesia dan
di seluruh dunia.

“Dengan adanya beragam startup dan berbagai solusi yang ditawarkan tentu akan membuat
sektor perikanan budidaya akan berkembang sangat pesat,” tambah Andri.

Bagus
Facsi Aginsa
ex CEO FisHby
mengatakan, pada dasarnya startup
adalah suatu entitas yang terdiri dari beberapa orang yang ingin menyelesaikan
suatu permasalahan yang ada dengan sebuah inovasi. “Startup yang menyelesaikan permasalahan yang ada di dunia
akuakultur atau perikanan budidaya berarti dinamakan startup akuakultur atau perikanan budidaya,” pungkas Bagus.

Tren startup
ini tentu akan bisa memperkuat konektivitas rantai bisnis akuakultur dan
menjembatani secara efisien para pemangku kepentingan akuakultur dan beberapa startup yang mulai berkembang di sektor
akuakultur seperti eFishery, Iwa-Ke, fisHby, fishlog, JALA, InFishta, Growpal, Mina
Ceria, Venambak, Nalayan, Minapoli, dan Mina Indonesia.

Baca Juga:   PT Bayer Indonesia secara resmi melepaskan kontrainer ekspor ke-3.000 unit untuk tujuan pasar Eropa

Berdasarkan data Indonesia Digital Landscape 2018, lebih dari 130 juta penduduk
Indonesia telah terkoneksi dengan internet. Penetrasi teknologi digital sudah
mulai menjadi suatu kebiasaan atau pola hidup masyarakat mulai dari belanja online, transportasi online hingga pembayaran non tunai untuk
berbagai transaksi.

Hal tersebut, menurut Rully Setya Purnama CEO Minapoli, akan menjadi peluang yang sangat
potensial untuk menghadirkan inovasi-inovasi sampai ke pembudidaya. Tentunya
peluang tersebut bukan tanpa syarat, kuncinya adalah inovasi harus menjadi
solusi dari permasalahan yang ada di pembudidaya dan terlebih dapat memberikan
benefit dari sisi finansial/ekonomi.

Selain itu, Rully menambahkan, munculnya startup di sektor akuakultur dapat membawa
perubahan ataupun bisnis model baru yang akan memberikan dampak positif pada
kemajuan perikanan budidaya baik dari sisi ekonomi, sosial maupun lingkungan (sustainability).

Hal tersebut sejalan dengan karakter startup itu sendiri, kata Aryo, yaitu inovatif
dan lincah dalam mengembangkan solusi untuk permasalahan sektor akuakultur di
Indonesia. Inovatif dalam arti mereka bisa menawarkan teknologi baru yang
terjangkau oleh para pembudidaya.

Lincah, karena startup biasanya didirikan oleh tim kecil yang secara operasional
sangat efisien sehingga mampu beradaptasi terhadap berbagai tantangan baik dari
sisi teknologi maupun dari sisi bisnis.

Dengan demikian, startup dapat menjadi lokomotif dalam penerapan teknologi baru di
dunia akuakultur untuk meningkatkan kualitas, efisiensi dan sustainability pada budidaya perikanan. “Startup juga dapat masuk ke berbagai
aspek budidaya mulai dari pendanaan, teknologi baru sampai pemasaran,” tutur
Aryo.

Peran dan
Jenis Startup

Saat ini, Rully
menjelaskan, beberapa inovasi yang dikembangkan para startup perikanan di Indonesia cukup beragam mulai dari akses
permodalan, alat kualitas air dan alat pemberi pakan otomatis yang bisa
dikontrol dan monitor secara jarak jauh.

Peranan startup
dalam memajukan perikanan budidaya di era saat ini sangat penting, kata Andri, misalnya
saja dulu banyak pembudidaya ikan atau udang yang kesulitan mencari permodalan
usaha, namun berkat startup yang
bergerak dibidang financial technology
(fintech) masalah ini dapat diatas
dengan baik, melalui permodalan dari investor yang dilakukan secara bergotong
royong (crowd funding).

Contoh beberapa aplikasi android budidaya perikanan

Masyarakat urban/perkotaan yang mempunyai uang
namun memiliki kesibukan dapat menginvestasikan uangnya kepada pembudidaya ikan
atau udang, hasil keuntungan ini pun dibagi rata antara investor dan
pembudidaya ikan dengan sistem sharing
profit
yang saling menguntungkan.

Baca Juga:   PT Malindo Feedmill Pangkas Rencana Belanja Modal Di Pademi Covid-19

Peranan startup
fintech
inilah yang menghubungkan antara pembudidaya yang membutuhkan modal
dan investor tersebut dan memberikan laporan kegiatan budidaya secara berkala
dan transparan menggunakan teknologi. Startup
Fintech
yang memfasilitasi permodalan ini diantaranya Growpal, InFishta,
Crowde, Mina Ceria dan lainnya.

Startup
yang juga berperan penting dalam sektor perikanan budidaya adalah startup yang bergerak dibidang Internet Of Things (IoT). Startup IoT berperan dalam mempermudah
pekerjaan budidaya dengan terintegrasi teknologi,

Beberapa contoh startup IoT seperti eFishery yang membantu pembudidaya ikan dan
udang untuk memberikan pakan ikan secara otomatis yang selama ini masih
dilakukan secara manual oleh pembudidaya.

Dengan adanya eFishery, pemberikan pakan ikan pun
dapat dilakukan secara otomatis sesuai dengan waktu yang ditentukan dan jumlah pakan
ikan atau udang yang diberikan dapat sesuai kebutuhan, sehingga pemberian pakan
menjadi lebih efektif dan tidak ada pakan yang terbuang atau tidak dimakan oleh
ikan atau udang dan membuat biaya pakan dapat ditekan seminimal mungkin.

Startup
IoT yang juga tidak kalah menarik dan bermanfaat bagi pembudidaya adalah JALA, startup ini menciptakan sebuah alat yang
dapat memantau kualitas air tambak secara otomatis dengan menggunakan sensor,
sehingga mampu memantau kualitas air tambak secara otomatis yang membuat pembudidaya
ikan atau udang dapat mengetahui suhu, pH, salinitas, DO (Dissolved Oxygen) dan kualitas air lainnya secara realtime.

Dari situ, pembudidaya dapat mengambil keputusan
secara tepat seperti mengganti air, meningkatkan atau menurunkan pH, salinitas
dan hal lainnya yang diperlukan untuk menjaga kualitas air yang sesuai dengan
yang diperlukan.

“Uniknya semua aktivitas ditambak tersebut dapat
dipantau dan dilakukan melalui smartphone,
sehingga pembudidaya dapat melakukan pekerjaan di manapun dan kapan pun
berada,” ujar Andri.

Kemudian ada startup
yang bergerak di bidang Education
Technology
(EdTech) seperti Mina
Indonesia juga sangat berperan dalam membantu pembudidaya ikan di Indonesia
melalui pendidikan, pelatihan dan pendampingan usaha budidaya.

Pelatihan tentang manajemen bisnis, manajemen
kualitas air, pembuatan pakan ikan atau udang, pengendalian hama dan penyakit
ikan dan udang, pemasaran dan lainnya menjadi materi pelatihan yang sering
diajarkan oleh Mina Indonesia kepada pembudidaya ikan dan udang di seluruh Indonesia.

Baca Juga:   Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan

Selain itu bagi yang ingin memulai usaha budidaya
ikan dan udang namun memiliki kendala pengetahuan dan keahlian dalam memulai
usaha, Mina Indonesia juga siap memberikan pendampingan usaha sejak awal,
sehingga usaha yang dijalankan dapat berhasil dan berkembang.

Pemasaran hasil budidaya tentu juga menjadi kendala
pembudidaya ikan dan udang di Indonesia, untuk itulah startup yang bergerak dibidang pemasaran atau E-Commerce seperti Aruna Indonesia dan Nalayan berperan penting
dalam membantu pemasaran baik dalam negeri maupun ekspor, sehingga dapat
bermanfaat besar bagi pembudidaya.

Sementara itu Minapoli lebih fokus dalam
mengembangkan jejaring informasi dan bisnis perikanan melalui platform
onlinenya yang menyediakan media untuk pemasaran produk/jasa, publikasi event
dan berbagi informasi perikanan.

Kendala Startup

Menahan masuknya kemajuan teknologi hanya akan
membuat kemunduran dan gagap teknologi. Menjadi kendala ketika era digitalisasi
tidak bisa dirasakan juga sampai ke pembudidaya langsung.

Menurut Bagus, kurang sampainya kemajuan
teknologi kepada kalangan terbawah ini yang memang menjadi kesulitan
tersendiri. Menurut pengalaman pribadinya, pembudidaya di daerah-daerah memang
membutuhkan bimbingan dari para pelaku startup
secara intensif.

Senada dengan Bagus, Andri menjelaskan, agar
penggunaan teknologi dapat berdampak luas bagi pembudidaya tentu edukasi bagi
pembudidaya menjadi faktor penting yang terus dilakukan. Dalam melakukan
edukasi dilakukan dengan dua cara yakni melalui online dan offline.

Melalui online,
edukasi dilakukan dengan membuat konten yang menjelaskan tentang pemanfaat
teknologi dan pentingnya teknologi dalam membantu pembudidaya ikan dan udang
baik berupa tulisan, infografis, maupun video yang diupload di website, facebook, youtube dan media online lainnya yang sering diakses
oleh pembudidaya. Sedangkan edukasi yang dilakukan secara offline yakni melakukan seminar, pelatihan maupun pendampingan
langsung ke pembudidaya langsung di lapangan.

“Kita harus menyediakan pendamping di lapangan
agar teknologi yang kita bawa ke pembudidaya dapat diterima dengan baik.
Pembudidaya akan merasa membutuhkan teknologi baru jika dia sudah merasakan
dampak positifnya. Maka temani dan bimbing mereka paling tidak selama 2 – 3
siklus budidaya, setelah teknologi tersebut terbukti bagus, mereka akan inisiatif
belajar dengan sendirinya,” pungkas Bagus.

Startup merupakan bagian yang sangat penting bagi kemajuan suatu industri, dengan banyaknya startup di sektor perikanan budidaya, akan semakin banyak inovasi yang dilahirkan dan semakin pesat juga perkembangan industri akuakultur Indonesia. (Adit/Resti)

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.