Skip to content

–

Menu
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI
Menu

JANGAN TAKUT KONSUMSI DAGING AYAM

Posted on

Daging ayam. (Istimewa)


((Masih saja ada oknum dokter yang menganjurkan pasiennya untuk tidak mengonsumsi daging ayam broiler. Jika dibiarkan, akan makin banyak masyarakat yang takut konsumsi protein hewani ini.))

Dalam perbincangan antara Infovet dan Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Drh Irawati Fari, awal Maret lalu di Sekretariat ASOHI di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ada hal yang manarik untuk disimak. Ternyata, kekhawatiran sebagian masyarakat mengonsumsi daging ayam broiler karena takut mengandung kolesterol bukan saja disebabkan oleh informasi yang bersumber dari “katanya”.


Ketakutan sebagian masyarakat mengonsumsi daging ayam negeri juga ada yang disebabkan oleh anjuran para oknum dokter kepada pasiennya. Menurut Ketua Umum ASOHI ini, masih ada dokter yang menganjurkan pasiennya untuk tidak mengonsumsi ayam broiler, karena mengandung hormon, ayam disuntik obat tertentu dan info menakutkan lainnya.


“Anjuran macam ini jelas tidak tepat disampaikan ke pasien. Biasanya oknum dokter yang begini karena dia belum tahu bagaimana proses produksi ayam broiler yang sebenarnya,” ungkap Irawati. Karena itu, sangat disayangkan jika masih ada tenaga medis yang masih memberikan anjuran keliru kepada pasiennya, sementara dia sendiri tidak tahu persis proses produksinya.


Kekhawatiran sebagian masyarakat mengonsumsi daging ayam broiler bukanlah perkara baru. Fenomena ini sudah terjadi sejak lama. Ketidakmengertian dan mendapatkan informasi dari sumber yang keliru menjadi penyebab utama mereka tak mau mengonsumsi daging ayam broiler.


Beberapa informasi keliru yang hingga kini masih beradar di tengah masyarakat antara lain, ayam broiler cepat besar karena disuntik hormon, diberi obat-obatan khusus dan mengandung kolesterol tinggi. Yang lebih memprihatinkan, tak sedikit media online yang menyuguhkan berita tentang bahaya mengonsumsi ayam broiler, tanpa didasari literatur dan sumber yang jelas. Hanya mengutip sebagian informasi dari media asing, lalu diterjemahkan secara bebas.


Jika dilihat di media online, dalam rubrik kesehatan, seringkali tersaji berita yang menyebutkan banyak peternak ayam yang menggunakan zat kimia dan antibiotik dalam memelihara ayam broiler. Ada juga media online yang menyebutkan bahwa tidak semua orang cocok makan ayam broiler, karena cenderung rendah nutrisi. Di samping itu, ayam tersebut juga telah terpapar zat kimia yang bisa membahayakan tubuh. “Karenanya, Anda harus berhenti makan daging ayam itu, apalagi kalau diolah dengan cara digoreng,” begitu kutip salah satu media online mainstream di dalam negeri tanpa menyebutkan narasumber yang jelas.


Bagi masyarakat yang sudah paham dengan kandungan protein hewani pada daging ayam, berita macam ini akan dianggap angin lalu. Tapi bagaimana jika pembacanya tidak paham soal nustrisi protein hewani? Informasi macam ini sangat membingungkan, bahkan cenderung menyesatkan. Bisa-bisa pembaca jadi ragu atau malah berhenti sama sekali untuk mengonsumsi daging ayam.


Harus Dilawan
Dosen Pangan Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjahmada (UGM) Yogyakarta, Yuny Erwanto, berpendapat, ketakutan sebagian masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam broiler memang masih terjadi hingga sekarang. Penyebabnya, bisa karena mendapat informasi yang salah tentang cara beternak ayam negeri atau karena ada anjuran dari orang lain agar tak mengonsumsi daging ayam broiler.


Menurut ahli gizi ini, fenomena tersebut harus dilawan dengan menggencarkan kampanye konsumsi daging ayam dan telur. Kampanye ini menjadi sangat penting agar publik lebih paham tentang proses sebenarnya beternak ayam broiler, mulai dari awal hingga panen.


Banyak cara kampanye yang bisa dilakukan, misalnya dengan mengajak sarapan ayam dan telur bersama anak-anak sekolah, atau melalui demo atau lomba masak di kalangan ibu-ibu rumah tangga dengan bahan baku daging ayam broiler dan telur. Melalui demo atau lomba masak, dapat dijadikan ajang untuk menggugah masyarakat Indonesia untuk lebih gemar mengonsumi daging ayam.


Langkah ini penting mengingat tingkat konsumsi daging masyarakat Indonesia hingga saat ini masih tergolong rendah. Erwanto menyebut, saat ini konsumsi daging masyarakat Indonesia tak lebih dari 10 kg per kapita per tahun. Sedangkan Malaysia sudah sekitar 50 kg dan negara maju sekitar 100 kg per kapita per tahun. “Secara karakter, makanan yang lebih bercita rasa akan dihargai lebih tinggi, karena manusia membutuhkan lebih dibanding yang kurang bercita rasa,” ujar Erwanto. 


Faktor lain penyebab masih rendahnya konsumsi daging di dalam negeri, lanjut Erwanto, adalah faktor ketersediaan dan distribusi. Namun itu pengaruhnya kecil. Faktor ini hanya dialami di beberapa wilayah yang memiliki tingkat pendapatan tinggi, namun ketersediaan daging masih kurang, karena belum banyak peternakan di wilayah tersebut atau alasan perusahaan tidak ekonomis mendirikan usaha di tempat tersebut.


Erwanto kembali menjelaskan, informasi gizi terkait daging ayam sebenarnya sederhana saja. Daging ayam memiliki kandungan protein tinggi, asam amino yang dibutuhkan tubuh manusia terpenuhi dan lengkap, serta mengandung mineral yang juga bermanfaat bagi tubuh.


“Mungkin salah satu faktor yang menyebabkan masih rendahnya konsumsi daging ayam adalah kekhawatiran kandungan antibiotik dan obat-obatan pada ayam broiler yang tinggi, padahal sebenarnya tidak separah yang dikhawatirkan,” ujarnya. Erwanto memberikan solusi, bagi masyarakat yang khawatir mengonsumsi daging ayam broiler dapat menggantinya dengan daging ayam kampung.


Kebutuhan Per Kapita
Tingginya kandungan gizi pada daging ayam semestinya menjadi rangsangan bagi masyarakat untuk lebih sering mengonsumsinya. Memang tak harus setiap hari, tapi setidaknya beberapa kali dalam sepekan dengan takaran yang memadai.


Erwanto menyarankan, konsumsi daging ayam dalam sepekan dapat diasumsikan, jika kebutuhan protein manusia setiap hari di rata-rata 60 gram dan sekitar 10 gram berasal dari daging ayam, maka dapat dihitung bahwa 10 gram itu berasal dari 50 gram daging ayam segar. Daging ayam segar kadar proteinnya mencapai 20%. Jadi dalam satu hari, minimal konsumsi daging ayam adalah 50 gram atau setara 350 gram setiap pekan atau sekitar 1,4 kg setiap bulan per kapita. Jika ini bisa diterapkan, maka setiap tahun minimal adalah 16,8 kg per kapita.


“Dengan asumsi tersebut, maka jika negara akan terus berkembang dan kesejahteraan terus meningkat, otomatis konsumsi meningkat dan dapat melebihi angka minimal tersebut seperti negara lain,” ungkapnya.


Jika konsumsi daging meningkat (termasuk daging ayam), maka keseimbangan gizi akan tercapai dan fisiologis tubuh akan lebih sehat. Dengan tubuh yang sehat, diharapkan produktivitas masyarakat juga meningkat dan akan berdampak pada peningkatan ekonomi. (Abdul Kholis)

Agribiz Network

Post Terkait:

  • Tahun 2018 Peternakan Diprediksi Masih Tumbuh di… Pemerintah diharapkan memiliki cetak biru (blueprint) pembangunan peternakan yang diketahui dan disepakati oleh semua pemangku kepentingan peternakan, sehingga semua pihak memahami dan juga mendukung akan  kemana…
  • LUAR BIASA, NILAI EKSPOR OBAT HEWAN INDONESIA CAPAI… JAKARTA, 5 April 2017. Pada era pemerintahan Jokowi-JK, yaitu tahun 2015 dan 2016 Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah…
  • Bisnis Peternakan Tahun 2017 Diprediksi Tumbuh Ketua umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Drh. Irawati Fari mengatakan, usaha obat hewan tahun 2016 ini diperkirakan tidak sesuai dengan prediksi yang diungkap dalam…
  • MENILIK UNTUNG - RUGI PASCA PELARANGAN AGP Setahun berlalu sejak terbitnya Permentan No.17/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Salah satu poin dalam peraturan tersebut yakni dilarangnya Antibiotic Growth Promoter (AGP) ke dalam pakan…
  • Strategi Sukses Pemasaran Produk Peternakan Daging… Dalam dunia peternakan, strategi pemasaran produk daging ayam menjadi hal yang tak bisa diabaikan. Bukan hanya sekadar bisnis, tetapi juga sebuah kebutuhan. Begitu banyak pertanyaan…
  • Ditkeswan Bermaksud Tunjukkan Keberpihakan Kepada… Kasubdit Pengawasan Obat Hewan (POH) drh Ni Made Ria Isriyanthi, PhD menyatakan komitmen Direktorat Kesehatan Hewan  untuk menegakkan hukum di bidang obat hewan.  Hal ini…
  • ASOHI JAWA TIMUR DAN ASOHI PUSAT SELENGGARAKAN… Bertempat di Hotel Novotel Samator Surabaya, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Cabang Jawa Timur menyelenggarakan pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PJTOH) XX. Acara yang…
  • Tentang AGP (Antibiotic Growth Promoter) dan Antikoksidia Tanggal 6 Mei 2017 lalu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menandatangani Permentan no 14/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Dalam peraturan ini tercantum pelarangan antibiotika imbuhan…
  • AUDIENSI VIRTUAL ASOHI-DIRJEN PKH Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dr. Ir. Nasrullah MSc menegaskan bahwa ASOHI adalah bagian dari keluarga besar Dirjen PKH. "Jadi ASOHI jangan jauh-jauh dari…
  • Animo Tinggi, ASOHI Kembali Adakan Pelatihan PJTOH Ketua Panitia, Drh Forlin Tinora, saat memberikan sambutanpembukaan PPJTOH angkatan ke-15.Antusiasme Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PPJTOH) terlihat dari padatnya peserta yang memenuhi ruangan…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DATA BISNIS PETERNAKAN

Artikel Terbaru

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

KALENDER

July 2026
MTWTFSS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031 
« May    

ARTIKEL TERBARU

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

ARTIKEL TERKAIT

  • Tahun 2018 Peternakan Diprediksi Masih Tumbuh di… by Agribisnis Pemerintah diharapkan memiliki cetak biru (blueprint) pembangunan peternakan yang diketahui dan disepakati oleh semua pemangku kepentingan peternakan, sehingga semua pihak memahami dan juga mendukung akan  kemana…
  • LUAR BIASA, NILAI EKSPOR OBAT HEWAN INDONESIA CAPAI… by Agribisnis JAKARTA, 5 April 2017. Pada era pemerintahan Jokowi-JK, yaitu tahun 2015 dan 2016 Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah…
  • Bisnis Peternakan Tahun 2017 Diprediksi Tumbuh by Agribisnis Ketua umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Drh. Irawati Fari mengatakan, usaha obat hewan tahun 2016 ini diperkirakan tidak sesuai dengan prediksi yang diungkap dalam…
  • MENILIK UNTUNG - RUGI PASCA PELARANGAN AGP by Agribisnis Setahun berlalu sejak terbitnya Permentan No.17/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Salah satu poin dalam peraturan tersebut yakni dilarangnya Antibiotic Growth Promoter (AGP) ke dalam pakan…
  • Strategi Sukses Pemasaran Produk Peternakan Daging… by Allen Dalam dunia peternakan, strategi pemasaran produk daging ayam menjadi hal yang tak bisa diabaikan. Bukan hanya sekadar bisnis, tetapi juga sebuah kebutuhan. Begitu banyak pertanyaan…

  • 1,202,780
  • 606,624
©2026 – | Design: Newspaperly WordPress Theme
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI