Skip to content

–

Menu
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI
Menu

Kecukupan Mineral Tambak, Jangan Diabaikan!

Posted on

Ir. Suprapto

Technical Advisor

PT Indonesia Evergreen Feed

 

Seiring dengan maraknya usaha tambak udang, berbagai upaya untuk menyiasati lahan yang kurang memenuhi syarat untuk tambak pun dilakukan. Penerapan teknologi tambak plastik maupun semen semakin berkembang untuk mengatasi lahan dengan tanah poros, lahan gambut, maupun tambak tua, yang kondisi lahannya sudah rusak atau daya dukungnya telah menurun.

Adanya lapisan yang menyekat tanah dengan air—baik dengan penyemenan atau penggunaan plastik—tersebut membuat tanah tidak optimal dalam menyediakan mineral bagi media budidaya udang. Ditambah dengan penerapan biosekuritas yang ketat, suplai mineral dari lingkungan alam menjadi sangat terbatas. Hal ini terjadi akibat pembatasan jumlah air yang masuk ke dalam tambak dengan alasan untuk mencegah masuknya bibit penyakit. Kondisi ini diperparah dengan kecenderungan meningkatkan padat penebaran yang semakin tinggi sehingga tingkat kebutuhan mineral pun semakin naik.

Pentingnya mineral bagi lingkungan tambak

Mineral adalah substansi anorganik yang memiliki beberapa fungsi dalam tubuh hewan, di antaranya untuk menjaga proses metabolisme; sebagai pembentuk tulang, gigi, dan karapas; sebagai koenzim; serta menjaga keseimbangan tekanan osmotik dan asam-basa dalam tubuh. Namun kenyataannya, unsur-unsur tersebut sering diabaikan. (Sukarman dan Lili Solichah, 2012).

Berbagai mineral terkandung di dalam air laut dan tanah dasar tambak, baik berupa mineral makro maupun mikro. Kandungan mineral (garam) dalam air laut berkisar 31—38 gram per kg atau 31—38‰ dengan kandungan rata-rata 35‰ (35 gr/L, 599 mM) (Wikipedia). Perhitungan jumlah mineral dalam air laut dapat dilihat pada Boks 1.

Mikroba (bakteri) dan plankton merupakan organisme nabati yang sangat memerlukan mineral untuk kelangsungan hidupnya. Jika plankton dalam tambak stabil dan mikroba berkembang baik, kondisi lingkungan tambak pun menjadi baik. Dengan kondisi lingkungan yang baik, udang dan ikan yang ada di dalamnya juga tumbuh dengan baik dan tidak mudah terserang penyakit.

Dalam pertumbuhannya, fitoplankton membutuhkan mineral sebagai nutrisinya. Sebagai produsen primer, fitoplankton mampu mengubah C-anorganik (CO2) menjadi karbohidrat melalui proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari. Fitoplankton mengambil N dalam bentuk ammonium (NH4+) atau nitrat (NO3–) untuk menyusun protein. Diperlukan pula mineral lain seperti orthophosphate (H2PO4– dan HPO4=) untuk menyusun ATP; magnesium untuk membentuk klorofil; serta trace element untuk pembentukan enzim dan hormon, serta untuk proses biokimia yang terjadi di dalam sel.

Seperti halnya plankton, bakteri juga membutuhkan mineral. Bakteri mengambil N, baik dalam bentuk organik maupun anorganik. Bakteri heterotrofik memanfaatkan N-anorganik (ammonia maupun nitrat), tergantung pada nilai C/N ratio. Jika C/N ratio tinggi (lebih dari 12) maka bakteri heterotrofik menggunakan N-anorganik seperti ammonia sebagai sumber nitrogennya (Ebeling et al, 2006). Bakteri juga menyerap P, baik dalam bentuk anorganik maupun organik. Selain itu, bakteri membutuhkan mineral seperti K, Na, Cl, Ca, Mg, S, serta mikro mineral seperti Fe, Mn, Mo, Cu, Zn, Co, B, Ni, maupun mikro mineral lainnya.

Terbatasnya persediaan mineral dalam lingkungan tambak dapat menyebabkan ekosistem menjadi tidak stabil dan tidak seimbang. Plankton menjadi tidak stabil dan mikroba pun tidak dapat berkembang dengan baik. Akibatnya, lingkungan menjadi goncang dan tidak stabil sehingga kualitas air menjadi tidak baik. Udang atau ikan pun menjadi mudah stress dan mudah terserang penyakit.

Sering ditemukan kasus udang yang terlihat kram saat dipantau perkembangannya lewat anco. Hal ini bisa disebabkan udang kekurangan mineral dan stress akibat dominasi plankton blue-green algae atau dinoflagellata. Selain itu, sering pula ditemukan kasus kulit udang lembek serta tidak bisa mengeras akibat kekurangan mineral kalsium dan fosfor.

Kasus kematian udang, yang sering ditemukan dengan kondisi banyaknya udang tanpa kulit, diduga akibat kekurangan mineral. Sementara PH dan alkalinitas yang terlalu rendah diduga sebagai penyebab utama terjadinya molting massal pada udang.

Selanjutnya Baca Majalah Info Akuakultur Edisi April 2018

Post Terkait:

  • Waspada dan Cegah Penyakit Udang Bercak Putih atau… Penyakit udang bercak putih dan myo sangat membuat petambak udang cemas. Pasalnya, akibat yang ditimbulkan tidak tanggung-tanggung, kematian massal pada udang. Meskipun akibat myo tidak…
  • Prospek Cerah Industri Hatchery Udang Bisnis udang dalam negeri, terutama udang jenis vaname, semakin menggeliat. Tak mengherankan, komoditas tambak ini merupakan salah satu produk dengan pangsa pasar tidak hanya domestik,…
  • Cegah Myo pada Udang Vaname Anda tahu myo (mio)? Bukannya sebuah motor matic, sporty, keren, dan gaya; tapi myo yang dimaksud di sini adalah biang penyakit ganas yang bisa membuat…
  • Peran Probiotik Sukseskan Budidaya Vaname Tak dapat dipungkiri, kondisi air yang baik sangat mutlak dan penting dalam budidaya udang vaname. Hal ini disebabkan air menjadi media atau tempat bagi udang…
  • KKP Berikan Benih Ke Pembudidaya Udang Windu Data mencatat bahwa hingga pertengahan bulan Mei 2020, BPBAP Takalar telah menggelontorkan total bantuan benih seperti Udang, Bandeng, Rajungan, Nila Salin dan Kakap Putih sebanyak…
  • Kenali Fitoplankton dari Ciri dan Potensinya Bagai dua sisi mata pisau, fitoplankton pun ada yang baik dan dan buruk. Kenali jenis dan cirinya agar budidaya udang tetap aman.   Keberadaan dan…
  • Probiotik Herbal untuk Sukses Budidaya Udang Mendengar kata herbal, yang ada dibayangan kita adalah bahan alami. CV Pradipta Paramita ciptakan produk-produk probiotik herbal untuk budidaya udang yang baik untuk udang dan…
  • Langkah Praktis Budidaya Udang Berkelanjutan Dalam tiga dekade terakhir, usaha budidaya air payau di tambak berkembang sedemikian pesat. Konstribusinya terhadap produksi perikanan di pasar internasional pun cukup tinggi. Sayangnya, masih…
  • 3 Jurus Mencegah White Feses Disease (WFD) dari Jepara   Serangan kotoran putih berdampak besar menurunkan produktivitas budidaya udang vaname. Namun, teknik pengendalian yang dilakukan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara ini dapat…
  • Vaksinasi Ikan, Efisien dan Penting Salah satu penghambat dalam budidaya perikanan adalah penyakit yang menyerang ikan. Cara penanganan ikan yang sakit bisa dilakukan dengan pencegahan maupun pengobatan, salah satunya dengan…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DATA BISNIS PETERNAKAN

Artikel Terbaru

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

KALENDER

July 2026
MTWTFSS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031 
« May    

ARTIKEL TERBARU

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

ARTIKEL TERKAIT

  • Waspada dan Cegah Penyakit Udang Bercak Putih atau… by Agribisnis Penyakit udang bercak putih dan myo sangat membuat petambak udang cemas. Pasalnya, akibat yang ditimbulkan tidak tanggung-tanggung, kematian massal pada udang. Meskipun akibat myo tidak…
  • Prospek Cerah Industri Hatchery Udang by Agribisnis Bisnis udang dalam negeri, terutama udang jenis vaname, semakin menggeliat. Tak mengherankan, komoditas tambak ini merupakan salah satu produk dengan pangsa pasar tidak hanya domestik,…
  • Cegah Myo pada Udang Vaname by Agribisnis Anda tahu myo (mio)? Bukannya sebuah motor matic, sporty, keren, dan gaya; tapi myo yang dimaksud di sini adalah biang penyakit ganas yang bisa membuat…
  • Peran Probiotik Sukseskan Budidaya Vaname by Agribisnis Tak dapat dipungkiri, kondisi air yang baik sangat mutlak dan penting dalam budidaya udang vaname. Hal ini disebabkan air menjadi media atau tempat bagi udang…
  • KKP Berikan Benih Ke Pembudidaya Udang Windu by Agribisnis Data mencatat bahwa hingga pertengahan bulan Mei 2020, BPBAP Takalar telah menggelontorkan total bantuan benih seperti Udang, Bandeng, Rajungan, Nila Salin dan Kakap Putih sebanyak…

  • 1,202,827
  • 606,671
©2026 – | Design: Newspaperly WordPress Theme
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI