Skip to content

–

Menu
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI
Menu

MENJAGA MUTU BAHAN PAKAN TERNAK

Posted on

 

Bahan pakan ternak wajib dijaga agar kualitasnya terjamin dan tidak membahayakan ternak. (Foto: Istimewa)

Bahan pakan ternak di Indonesia sebagian besar masih berkualitas rendah dan sangat bervariasi. Hal itu disebabkan karena adanya pengolahan yang tidak benar, serta pemalsuan. Kenyataan ini sangat memengaruhi kualitas ransum yang dihasilkan.


Dalam memproduksi pakan, produsen wajib menghasilkan dan mempertahankan kualitas ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak dan sesuai dengan yang tercantum dalam label pakan. Produsen juga harus menjaga agar ransum yang dihasilkan tidak membahayakan kesehatan ternak dan manusia sebagai konsumen produk  peternakan, serta menjamin bahwa semua bahan baku telah memenuhi standar kualita, dan tidak terdapat benda asing pada bahan baku atau ransum.


Untuk menjamin mutu pakan yang dihasilkan tersebut, maka dapat dilakukan dengan pengawasan mutu (quality control) pada tiap tahap proses produksi. Pengawasan mutu dilakukan pada setiap aktivitas dalam memproduksi pakan, mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga pengemasan, penyimpanan dan pengiriman.


Bahan baku yang digunakan sebagai input dalam industri pakan ternak diperoleh dari berbagai sumber dan mempunyai kualitas yang bervariasi. Penyebab beragamnya mutu bahan baku umumnya dikarenakan variasi alami (natural variation), pengolahan (processing), pencampuran (adulteration) dan penurunan kualitas (damaging and deterioration).


Itulah sebabnya mengapa secara berkala bahan baku pakan harus perlu dievaluasi, setidaknya dilakukan empat jenis evaluasi, yakni evaluasi fisik, biologi, kimia dan mikrobiologi:


1. Evaluasi fisik, pengujian bahan pakan secara fisik merupakan analisis pakan dengan cara melihat kondisi fisik bahan baku pakan. Pengujian secara fisik bahan pakan dapat dilakukan baik secara langsung (makroskopis) maupun dengan alat bantu (mikroskopis). Pengujian secara fisik, disamping dilakukan untuk mengenali bahan pakan secara fisik, juga berguna untuk mengevaluasi bahan pakan secara kualitatif. Namun, sebenarnya analisis secara fisik saja tidak cukup, karena adanya variasi antara bahan, sehingga diperlukan analisis lebih lanjut, seperti analisis secara kimia, biologis atau kombinasi keduanya.


2. Evaluasi biologis, tujuan evaluasi bahan pakan secara biologis untuk mengetahui kecernaannya. Pengujian biologis sangat penting terutama untuk mengetahui nilai konversi pakan (FCR/feed conversion ratio). Namun demikian, nilai tersebut sebenarnya tidak merupakan angka mutlak, karena FCR tidak hanya ditentukan oleh kualitas, tetapi juga dipengaruhi faktor-faktor lain, diantaranya jenis ternak, umur ternak dan lain sebagainya. Semakin kecil nilai konversi pakan, berarti semakin baik kualitas pakan, karena akan semakin ekonomis. Untuk mengetahui nilai konversi pakan, perlu dilakukan pengujian lapangan dalam berbagai percobaan.


3. Evaluasi kimia, dimaksudkan untuk mengetahui persentase kandungan suatu zat yang terdapat pada suatu bahan pakan. Dari evaluasi itu, dapat diketahui kandungan gizi dari bahan pakan tersebut, misalnya kadar protein, lemak, karbohidrat, abu, serat dan kadar air. Hasil evaluasi kimia dapat dijadikan acuan untuk menentukan formulasi ransum, yaitu seberapa banyak bahan baku pakan tersebut akan digunakan dalam campuran formulasi ransum.


4. Evaluasi mikrobiologi, dalam uji mikrobiologi, sebuah mikroorganisme dipilih yang dikenal untuk menentukan nutrient yang ada. Jika nutrien yang akan diuji tidak ada, maka mikroorganisme yang dipilih tidak akan tumbuh.


Begitulah penjelasan mengapa perlunya bahan baku pakan melalui empat tahap evaluasi, agar aman dan terjamin kualitasnya.


Kemudian, pengolahan bahan baku yang tidak benar juga dapat menyebabkan kandungan zat pakan menjadi berubah. Bahan baku pakan yang terkontaminasi atau sengaja dicampur dengan benda-benda asing, dapat menurunkan kualitasnya, sehingga perlu dilakukan pengujian secara fisik untuk menentukan kemurniannya.


Penurunan kualitas bahan baku pakan dapat terjadi karena penanganan, pengolahan atau  penyimpanan yang kurang tepat. Penanganan bahan baku yang tidak benar dapat menyebabkan kerusakan sebagai akibat adanya serangan jamur (karena kadar air tinggi), ketengikan (bau) dan serangan serangga.



Ransum Berkualitas Baik
Menurut Ketua Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI), Prof Nahrowi, ciri ransum yang baik harus memenuhi beberapa hal, diantaranya ransum harus seimbang, yakni mempunyai semua nutrien dalam jumlah yang benar sesuai kebutuhan ternak. Pembuatan ransum juga harus memerhatikan aspek lingkungan kandang, seperti suhu dan kelembaban lingkungan. Kemudian, ransum juga semestinya yang palatable atau disukai ternak, serta harga yang bersaing. Selain itu, ransum yang baik juga ditandai dengan pencampuran bahan bakunya yang merata, baik dari bahan micronutrients maupun feed additives-nya, serta tidak mengandung unsur berbahaya bagi ternak.


Untuk meminimalkan variasi kualitas ransum yang dihasilkan, AINI menyarankan beberapa langkah, diantaranya:
• Mengetahui asal-usul bahan pakan yang akan digunakan.
• Melakukan uji fisik dan kimia terhadap bahan pakan sebelum formulasi ransum.
• Penanganan yang baik untuk bahan pakan yang akan disimpan.
• Meminimalisasi kesalahan selama proses pembuatan pakan, termasuk saat proses pencampuran.
• Menerapkan SOP terhadap pembelian, penerimaan, pengolahan dan pengiriman pakan.


Agar tidak terjadi variasi kualitas ransum yang terlalu berlebihan, maka sebaiknya dalam pengadaan bahan baku pakan dilakukan secara terorganisir, misalnya dengan satu organisasi khusus atau koperasi. Langkah lainnya adalah dengan melakukan prosedur standar sampling dan inspeksi sebagai upaya meminimalisir variasi bahan pakan. ***

Andang S. Indartono

Pengurus Asosiasi Ahli Nutrisi

dan Pakan Indonesia (AINI)

Agribiz Network

Post Terkait:

  • PRINSIP PEMBERIAN PAKAN SAPI PEDAGING   Ternak sapi pedaging (Sumber: Istimewa) Dalam penggemukan sapi, pakan yang diberikan harus memenuhi jumlah tertentu dengan kandungan energi dan protein yang cukup, sehingga menghasilkan…
  • Maksimalkan Potensi Genetik Ayam Modern, Optimalkan… Pemakaian infrared radiant heater sebagai alat pemanas untuk sistem lokal brooder mampu menghasilkan rasa hangat yang konstan terhadap anak ayam dalam lingkungan brooder, sehingga sangat…
  • Mengoptimalkan Agribisnis dan Pemuliaan Ternak untuk Sukses Dalam dunia agribisnis dan pemuliaan ternak, terbentang lautan peluang yang menarik untuk dijelajahi. Begitu banyak aspek menarik dari sektor ini, mulai dari inovasi teknologi hingga…
  • LUAR BIASA, NILAI EKSPOR OBAT HEWAN INDONESIA CAPAI… JAKARTA, 5 April 2017. Pada era pemerintahan Jokowi-JK, yaitu tahun 2015 dan 2016 Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah…
  • MENILIK UNTUNG - RUGI PASCA PELARANGAN AGP Setahun berlalu sejak terbitnya Permentan No.17/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Salah satu poin dalam peraturan tersebut yakni dilarangnya Antibiotic Growth Promoter (AGP) ke dalam pakan…
  • Tips Sukses Pemeliharaan Ternak Itik Pemeliharaan ternak itik yang sukses merupakan tantangan menarik bagi para peternak di seluruh dunia. Merawat itik bukan hanya tentang memberi makan dan memberikan tempat tinggal,…
  • REFLEKSI HARI LAHIR PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN… Tanggal 26 Agustus merupakan hari lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia. Tanggal ditetapkan karena berdasarkan penelusuran sejarah pada tanggal tersebut tepatnya ditahun 1836 pemerintah Hindia-Belanda…
  • Menjaga Kesehatan dan Performance Sistem Pencernaan… Diperlukan perhatian sungguh-sungguh dalam memilih dan menggunakan feed additive atau kombinasi beberapa feed additive yang akan ditambahkan ke dalam sediaan pakan, untuk menjaga kesehatan dan…
  • Tahun 2018 Peternakan Diprediksi Masih Tumbuh di… Pemerintah diharapkan memiliki cetak biru (blueprint) pembangunan peternakan yang diketahui dan disepakati oleh semua pemangku kepentingan peternakan, sehingga semua pihak memahami dan juga mendukung akan  kemana…
  • POTRET BISNIS PETERNAKAN 2017 DAN PREDIKSI 2018… Selama 2017 dan mungkin masih dilanjutkan pada 2018, ada dua program nasional di bidang peternakan dan kesehatan hewan yang terkait langsung dengan pembangunan binis dan…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DATA BISNIS PETERNAKAN

Artikel Terbaru

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

KALENDER

July 2026
MTWTFSS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031 
« May    

ARTIKEL TERBARU

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

ARTIKEL TERKAIT

  • PRINSIP PEMBERIAN PAKAN SAPI PEDAGING by Agribisnis   Ternak sapi pedaging (Sumber: Istimewa) Dalam penggemukan sapi, pakan yang diberikan harus memenuhi jumlah tertentu dengan kandungan energi dan protein yang cukup, sehingga menghasilkan…
  • Maksimalkan Potensi Genetik Ayam Modern, Optimalkan… by Agribisnis Pemakaian infrared radiant heater sebagai alat pemanas untuk sistem lokal brooder mampu menghasilkan rasa hangat yang konstan terhadap anak ayam dalam lingkungan brooder, sehingga sangat…
  • Mengoptimalkan Agribisnis dan Pemuliaan Ternak untuk Sukses by Allen Dalam dunia agribisnis dan pemuliaan ternak, terbentang lautan peluang yang menarik untuk dijelajahi. Begitu banyak aspek menarik dari sektor ini, mulai dari inovasi teknologi hingga…
  • LUAR BIASA, NILAI EKSPOR OBAT HEWAN INDONESIA CAPAI… by Agribisnis JAKARTA, 5 April 2017. Pada era pemerintahan Jokowi-JK, yaitu tahun 2015 dan 2016 Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah…
  • MENILIK UNTUNG - RUGI PASCA PELARANGAN AGP by Agribisnis Setahun berlalu sejak terbitnya Permentan No.17/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Salah satu poin dalam peraturan tersebut yakni dilarangnya Antibiotic Growth Promoter (AGP) ke dalam pakan…

  • 1,202,937
  • 606,781
©2026 – | Design: Newspaperly WordPress Theme
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI