SEMINAR KESEHATAN UNGGAS MENGUAK MISTERI PENURUNAN PRODUKTIVITAS UNGGAS

Foto bersama pembicara dan seluruh peserta. (Foto: Infovet)

Seminar Kesehatan Unggas diselenggarakan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) bekerjasama dengan majalah Infovet dan Gita Organizer, dengan mengusung tema “Menguak Misteri Penurunan Produktivitas Unggas”. Seminar yang dihadiri sekitar 50 peserta ini digelar pada Rabu (22/5) di Menara 165, Jakarta

Ketua Panitia Seminar Kesehatan Unggas, Drh Yana Ariana menuturkan selama dua tahun belakangan peternak masih dihantui penyakit 90-40-60 atau secara teknis disebut penyakit H9N2 yang membuat ayam layer gagal memproduksi telur.

Pada kesempatan yang sama Ketua ASOHI Drh Irawati Fari mengemukakan, menerapkan biosekuriti yang baik mutlak dilaksanakan.

Farm yang sudah bagus manajemen maupun biosekuritinya, walaupun farm kecil sudah tidak ada masalah penurunan produksi,” tegas Irawati.

“Penyebab penurunan produktivitas unggas masih penyakit klasik, tidakada hal baru,” kata Prof Charles Rangga Tabbu, selaku pembicara pertama. Selain permasalahan klasik, dijelaskan bahwa aspek manajemen yang tidak optimal salah satu faktornya adalah pencemaran mikotoksin dalam pakan.

Baca Juga:   YUK HADIRI SEMINAR KESEHATAN UNGGAS PERSEMBAHAN ASOHI

Persoalan pakan masih berkaitan dengan sistem perkandangan seperti biosekuriti yang tidak maksimal. “Salah satunya adalah keberadaan vektor serangga, khususnya frenki yang tidak dibasmi secara maksimal,” imbuh Prof Charles.

Adanya pelarangan AGP, menurut Prof Charles, menjadi sebuah cambuk atau masukan berarti bagi peternak untuk lebih meningkatkan manajemen kesehatan unggas.

Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Dr Drh Nlp Indi Dharmayanti MSi hadir sebagai pembicara kedua banyak menguraikan perkembangan virus Avian Influenza (AI) dari tahun ke tahun.

Momen penyerahan plakat oleh Ketua ASOHI dan Ketua Panitia kepada pembicara.

Indi mengatakan, virus H5N1 clade 2.1.3 di Indonesia masih merupakan ancaman yang serius terutama terhadap populasi manusia. “Korban meninggal akibat virus ini masih disebabkan oleh virus H5N1 clade 2.1.3,” ujarnya.

Virus tersebut, lanjut Indi, berubah dengan beberapa cara selain mutasi juga dengan melakukan modifikasi genetik dengan pencampuran materi genetic berbeda yang disebut dengan reassorment. (NDV)

Agribiz Network

Similar Posts:

Baca Juga:   VENTILASI NYAMAN, PRODUKSI AMAN | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.