Bahu-membahu Hadapi Penyakit

Mengenal
lebih jauh potensi perudangan di Desa Labuhan Maringai, Kabupaten
Lampung Timur. Explore perudangan
Lampung Timur di awali dari Jakarta, tim redaksi Info Akuakultur memulai
perjalanan dan menyeberangi  Selat Sunda
dari Merak ke Bakaheuni.

Akses
menuju ke Maringgai terbilang ekstrim dengan jalan berbatu yang mengharuskan
mobil tidak lebih berjalan 30 kilimeter/jam, dari pusat kota Bandar Lampung
waktu yang ditempuh mencapai 3 – jam perjalanan.

Cuaca terik
dan panas menemani perjalanan, tepat matahari berada di atas kepala kami tiba
dan di sambut ramah dengan Muhyar (petambak). Cuaca yang membakar kulit tidak
menahan laju kaki para petambak untuk datang ke kediaman Muhyar untuk
menghadiri temu petambak sekaligus sharing informasi langsung dengan para
teknisi lapangan dari perusahaan yang hadir.

Antusiasme
petambak yang hadir sungguh luar biasa, mereka aktif bertanya langsung dengan Joko
Waluyo (Technical Support Behn Meyer) terkait
penyebaran dan penanganan penyakit udang yang saat ini sedang menyerang
tambak-tambak mereka.

Selain itu,
Muhammad Fitri (Teknisi Pakan Gold Coin) dibanjiri pertanyaan-pertanyaan dari
petambak seputar kandungan dan manajemen pemberian pakan yang baik dan tepat guna
meminimalisir terjadinya over feeding yang
dapat merusak lingkungan tambak.

Baca Juga:   Kuliah Perdana Unpad

Seperti
yang sudah diketahui, terjadi penurunan produksi budidaya udang semenjak adanya
serangan penyakit yang diduga disebabkan oleh white spot syndrome
virus
(WSSV). Segala upaya terus dilakukan
petambak untuk terhindar atau paling tidak meminimalisir kerugian akibat ulah
penyakit yang meyerang tambak udang mereka.

Penuturan
petambak di sana, serangan
penyakit mempengaruhi pendapatan dari hasil panen. Sebelum adanya serangan penyakit, modal Rp40 juta
bisa menghasilkan Rp100 juta sampai Rp110 juta. Keuntungannya bisa Rp70
juta sampai Rp80 juta.

Saat ini, modal Rp40 juta, untungnya Rp 5 juta dalam 2 bulan. Saat merugi, kerugiannya lumayan besar. Modal Rp40 juta bisa habis,
jika tidak ada kontrol
pada udangnya, dari
modal Rp40 juta, bisa rugi hingga Rp20 juta.

Oleh sebab itu, dibutuhkan peran segala stakeholder mulai dari pemeintah, perusahaan swasta dan petambak itu sendiri untuk terbuka dan sharing informasi guna mencari solusi terbaik mengatasi serangan penyakit yang menyebabkan kerugian. (Adit)

Similar Posts:

Baca Juga:   Terobosan pada Industri Patin

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.