Skip to content

–

Menu
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI
Menu

DISERBU AYAM IMPOR BRASIL, BAGAIMANA NASIB SEKTOR PERUNGGASAN?

Posted on

Kendati memenangkan gugatan di WTO, ayam Brasil belum tentu mudah masuk ke Indonesia (Foto: Google Image)
Oleh : Rivan Kurniawan – Indonesia Value Investor

Rivan Kurniawan

Belakangan
ini muncul berita ke permukaan bahwa Indonesia akan kembali diserbu oleh ayam
ras impor dari Brasil, pasca
World Trade Organization (WTO) memenangkan
gugatan Brasil terkait masalah impor daging ayam atas Indonesia. Tak pelak
kondisi tersebut membuat sejumlah emiten di sektor
poultry diprediksikan terimbas sentimen negatif, dan dikhawatirkan
akan menjadi kendala bagi pertumbuhan sektor ini. Kira-kira dengan serbuan ayam
impor Brasil tersebut, akan seperti apa pengaruhnya terhadap emiten di sektor
perunggasan?

Tantangan yang dihadapi Brazil Untuk Mengekspor Daging Ayam ke Indonesia
Kendati
Brasil dinyatakan memenangkan gugatan di WTO, nampaknya hal tersebut tak serta
merta membuat produk ayam ras impor Brasil masuk dengan mudah ke Indonesia,
karena Brasil masih harus berjuang menghadapi beberapa situasi yang berlaku di
Indonesia, seperti:
Pertama,
masalah distribusi yang terlalu jauh.

Ayam ras impor mana pun termasuk dari Brasil biasanya akan masuk ke Indonesia
dalam bentuk daging beku atau olahan turunan. Seperti halnya nugget ataupun
sejenis frozen food lainnya. Hal itu terjadi karena permasalahan jarak
yang terlalu jauh, sehingga tentu menyulitkan produsen ayam di luar negeri
untuk menyediakan ayam yang masih segar. Tentu kondisi itu tidak sejalan dengan
kebiasaan masyarakat Indonesia yang
lebih dominan senang membeli ayam segar yang baru dipotong.
Secara market
share,
sekitar 85% pasar ayam di Indonesia menyediakan produk ayam dalam
bentuk fresh yang baru dipotong. Sedangkan sekitar 15% nya adalah daging
ayam beku dan produk olahan turunannya.
Kedua,
sertifikasi halal
. Setiap emiten yang bergerak di sektor perunggasan di Indonesia
sejatinya sudah memiliki senjata untuk mengatasi serbuan ayam-ayam impor dari
negara lain. Di mana setiap produk yang
dihasilkan oleh emiten sektor perunggasan
di Indonesia sudah dilengkapi dengan sertifikasi halal,
dan itu
berlaku untuk menjamin lisensi kehalalan produk ayam yang dihasilkan. Apalagi
jika melihat mayoritas penduduk Indonesia yang Muslim, tentu lisensi halal
menjadi hal yang sangat sensitif. Demikian pula, proses pemotongan daging ayam
juga harus sesuai dengan syariat Islam. Misalkan salah satu syarat pemotongan
halal adalah menyayat 3 saluran, yaitu saluran nafas, saluran makan, dan
pembuluh darah. Hal ini menjadi Pekerjaan Rumah tersendiri bagi Brasil, yang
notabene mayoritas penduduknya bukan beragama Muslim.
Ayam Brasil Lebih Murah, Ancaman Bagi Indonesia ?
Meskipun
menghadapi beberapa tantangan di atas, Brasil sendiri memiliki sejumlah
keunggulan dibandingkan dengan emiten poultry
di Indonesia. Seperti yang kita tahu bahwa sektor poultry di Indonesia masih sangat banyak menemui hambatan, seperti
perlambatan pertumbuhan di tahun 2017 lalu yang diakibatkan oleh kebijakan
pemerintah, di mana Kementerian Pertanian (Kementan) sudah tidak lagi
mengeluarkan rekomendasi impor jagung untuk pakan ternak.
Hal
tersebut membuat supply menjadi
terbatas, dan membuat harga jagung
merangkak naik.
Permasalahan harga jagung cukup mempengaruhi pertumbuhan
sektor poultry, mengingat bahan baku
pakan ternak yang mahal adalah salah satu faktor utama yang mengakibatkan biaya produksi ayam ras lokal juga menjadi
lebih tinggi sehingga tidak seunggul ayam ras impor.
Apalagi hal
tersebut diiringi dengan harga bibit ayam alias day old chick yang juga
mahal. Dengan kondisi yang demikian, besar kemungkinan Indonesia ayam ras lokal
akan menghadapi persaingan ketat dengan ayam ras Brasil. Lantaran industri unggas di Brasil sudah sangat
efisien
, sehingga harga ayamnya
akan lebih murah.

Persaingan
ini akan berdampak negatif pada harga jual ayam. Rata-rata jumlah produksi ayam
ras lokal adalah sebesar 60 juta ton – 65 juta ton. Sedangkan kebutuhan
konsumsi masyarakat terhadap ayam hanya sekitar 55 juta ton per/tahun. Artinya,
jumlah produksi ayam ras lokal melebihi kebutuhan konsumsi ayam. Ditambah lagi
dengan masuknya ayam ras impor secara berlebih, akan memicu oversupply di
pasar. Supply meningkat,
permintaan tetap. Akibatnya akan menurunkan harga ayam.

Antisipasi Emiten Sektor Poultry
Di tengah Tantangan Serbuan Ayam Impor Brazil
Dengan
mengetahui sejumlah kondisi yang akan mempengaruhi pasar ayam lokal di
Indonesia, penting bagi kita untuk mengetahui juga seperti apa antisipasi yang
dilakukan emiten sektor poultry
menghadapi serbuan ayam impor ras Brasil untuk beberapa waktu ke depan. Secara
umum, sejumlah emiten poultry tidak
gentar dan tetap optimis menghadapi serbuan ayam dari Brasil.
Sebut saja
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA).
Meskipun berada ditengah ketidakpastian pertumbuhan sektor poultry, langkah JAPFA dalam berekspansi
sangat optimis. Terhitung sejak Juni 2019 saja, JAPFA sudah melakukan akuisisi
terhadap perusahaan pengeringan jagung yakni PT Celebes Agro Semesta. Adapun
akuisisi tersebut dilancarkan melalui dua anak usahanya PT Ciomas Adisatwa dan
PT Santosa Utama Lestari. Akuisisi yang dilakukan JAPFA di bidang industri
pengeringan jagung adalah untuk mengantisipasi kenaikan harga jagung akibat
musim kering.
Pada
Juli 2019 ini JAPFA juga melakukan ekspansi bisnis melalui peresmian anak
usahanya PT Indojaya Agrinusa (Indojaya) di Kawasan Industri Modern 4 Deli
Serdang – Sumatera Utara. Pabrik Indojaya tersebut adalah perluasan dari pabrik
sebelumnya yang berada di wilayah Tanjung Morawa – Deli Serdang. Pabrik ini
sebagai solusi kebutuhan pasokan pakan ternak di wilayah Aceh, Sumatera Utara,
Pekanbaru, dan Riau dengan kualitas produk berstandar internasional. Melalui
pabrik ini JAPFA memperoleh peningkatan kapasitas produksi dari 20 ribu
ton/bulan menjadi 40 ribu ton/bulan. Bahkan di area yang sama juga sedang
dilakukan proses pembangunan pabrik pakan ikan dan udang dengan kapasitas
produksi pakan ikan apung sebesar 9.500 ton/bulan, pakan ikan tenggelam sebesar
2 ribu ton/bulan, dan pakan udang sebesar 700 ton/bulan. Tentu langkah yang
dilakukan JAPFA melalui anak usahanya ini adalah untuk menyiasati serbuan
produk-produk impor, sehingga kualitas produknya akan lebih unggul.
Demikian
halnya dengan PT Charoen PokPhand
Indonesia Tbk, yang berencana memperbesar divisi pakan ternaknya

melalui pembangunan dua pabrik anyar di tahun ini. Adapun pembangunan pabrik
tersebut sudah dilakukan sejak tahun kemarin dan ditargetkan rampung pada
kuartal III-2019 nanti, dengan lokasi berada di Semarang dan Padang. Melalui
pabrik ini kapasitas produksi pakan ternak akan meningkat dari 5.5 juta
ton/tahun menjadi 6.5 juta – 7 juta ton/tahun.
Sementara
langkah berbeda lain, ditempuh oleh PT
Sierad Produce Tbk yang lebih memilih untuk memaksimalkan kapasitas dan
kemampuannya
saat ini. Salah satunya dengan lebih banyak menjalin
kemitraan dengan para peternak tradisional. Di mana hal itu akan lebih
menguatkan brand produk olahan Bellfoods dan juga akan menguatkan supply
chain
.
Penanganan yang Perlu Dilakukan Pemerintah
Setelah
kita mengetahui apa saja dampak dari adanya serbuan ayam impor ras Brasil ke
depannya dan bagaimana emiten poultry
mengantisipasi serbuan ayam impor ras Brasil ini, kita juga perlu meninjau
kembali langkah pemerintah dalam mengatasi tantangan ayam impor ini. Apalagi
jika serbuan ayam ras impor ini sudah tidak mungkin dapat dihindari, itu
berarti pemerintah perlu membatasi jumlah ayam ras impor yang masuk ke
pasar-pasar modern. Dalam waktu yang bersamaan, pemerintah juga harus menjaga pasar tradisional agar secara
mayoritas produk yang dijual lebih didominasi oleh ayam ras lokal ketimbang
impor
. Bahkan pemerintah perlu mengupayakan peningkatan efisiensi produksi ayam nasional, salah satunya yang
bisa dilakukan adalah dengan menyediakan pakan ayam yang stabil murah.

Berkaitan
dengan kebutuhan pakan ayam yang sekitar 50% komposisinya masih berasal dari
jagung, maka itu artinya pemerintah
harus mampu menstabilkan harga komoditas jagung
. Apalagi untuk bisa
menjaga stok ketersediaan jagung yang habis, tidak ada salahnya pemerintah
melakukan impor jagung, asal dilakukan secara terbatas. Jika tujuan pemerintah
tidak lagi melakukan impor jagung untuk menjaga petani lokal, maka sebenarnya
pemerintah bisa memberlakukan bea masuk
bagi impor jagung
yang nantinya bisa digunakan untuk meningkatkan
produktivitas petani jagung lokal. **

Artikel ini telah terbit di Majalah Infovet edisi 302 – September 2019

Agribiz Network

Post Terkait:

  • Keamanan Daging Sapi Brazil dari PMK Dipertanyakan Daging impor.Kemenangan Brazil dalam sidang banding di WTO (World Trade Organization/WTO), yang memenangkan sebagian gugatan Brazil atas Indonesia ternyata masih menyisakan tanda tanya dan kekhawatiran.…
  • Strategi Sukses Pemasaran Produk Peternakan Daging… Dalam dunia peternakan, strategi pemasaran produk daging ayam menjadi hal yang tak bisa diabaikan. Bukan hanya sekadar bisnis, tetapi juga sebuah kebutuhan. Begitu banyak pertanyaan…
  • Masih ada Jalan Menghadapi Ancaman Impor     “Daging Impor Asal Brazil akan Gempur Pasar Indonesia”, demikian sebuah judul artikel di sebuah media cetak nasional awal Mei lalu yang beredar di…
  • Tahun 2018 Peternakan Diprediksi Masih Tumbuh di… Pemerintah diharapkan memiliki cetak biru (blueprint) pembangunan peternakan yang diketahui dan disepakati oleh semua pemangku kepentingan peternakan, sehingga semua pihak memahami dan juga mendukung akan  kemana…
  • Mewaspadai Beredarnya Daging Oplosan Jelang Ramadhan Dalam hitungan hari, Bulan Suci Ramadhan akan segera tiba. Momentum yang penuh hikmah ini membawa keberkahan hampir di setiap lini bisnis, mulai dari bisnis makanan,…
  • SIASAT PAMUNGKAS PASCA NON-AGP (BAG. I: GUT INTEGRITY) Pasca non-AGP banyak pilihan produk suplementasi yang dapat digunakan untuk membantu pertumbuhan ataupun merawat integritas saluran cerna ayam. (Sumber: Istimewa) Oleh: Tony Unandar (Konsultan Perunggasan &…
  • POLA PERDAGANGAN DAGING PERLU DITATA KEMBALI Para pembicara pada diskusi Pataka di Jakarta, Kamis (2/11). “Menata Pasar Daging yang Tersegmentasi” menjadi bahasan dalam program Bincang-Bincang Agribisnis (BBA), yang dilaksanakan Pusat Kajian…
  • RAHASIA MENYIMPAN DAGING AGAR AWET DAN SEGAR Menyimpan daging di freezer dengan cara yang tepat akan mempertahankan kualitas daging dengan baik. (Sumber: Istimewa)Perayaan hari raya Idul Adha sebentar lagi tiba. Bagi umat…
  • JANGAN TAKUT KONSUMSI DAGING AYAM Daging ayam. (Istimewa) ((Masih saja ada oknum dokter yang menganjurkan pasiennya untuk tidak mengonsumsi daging ayam broiler. Jika dibiarkan, akan makin banyak masyarakat yang takut…
  • ATASI BAU TAK SEDAP PADA DAGING SAPI     Penjual daging sapi di pasar tradisional. (Sumber: Istimewa) Kelompok yang paling rentan terhadap bakteri penyebab daging bau busuk ini adalah pasien kanker, orang…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DATA BISNIS PETERNAKAN

Artikel Terbaru

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

KALENDER

September 2026
MTWTFSS
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930 
« Jul    

ARTIKEL TERBARU

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

ARTIKEL TERKAIT

  • Keamanan Daging Sapi Brazil dari PMK Dipertanyakan by Agribisnis Daging impor.Kemenangan Brazil dalam sidang banding di WTO (World Trade Organization/WTO), yang memenangkan sebagian gugatan Brazil atas Indonesia ternyata masih menyisakan tanda tanya dan kekhawatiran.…
  • Strategi Sukses Pemasaran Produk Peternakan Daging… by Allen Dalam dunia peternakan, strategi pemasaran produk daging ayam menjadi hal yang tak bisa diabaikan. Bukan hanya sekadar bisnis, tetapi juga sebuah kebutuhan. Begitu banyak pertanyaan…
  • Masih ada Jalan Menghadapi Ancaman Impor by Agribisnis     “Daging Impor Asal Brazil akan Gempur Pasar Indonesia”, demikian sebuah judul artikel di sebuah media cetak nasional awal Mei lalu yang beredar di…
  • Tahun 2018 Peternakan Diprediksi Masih Tumbuh di… by Agribisnis Pemerintah diharapkan memiliki cetak biru (blueprint) pembangunan peternakan yang diketahui dan disepakati oleh semua pemangku kepentingan peternakan, sehingga semua pihak memahami dan juga mendukung akan  kemana…
  • Mewaspadai Beredarnya Daging Oplosan Jelang Ramadhan by Agribisnis Dalam hitungan hari, Bulan Suci Ramadhan akan segera tiba. Momentum yang penuh hikmah ini membawa keberkahan hampir di setiap lini bisnis, mulai dari bisnis makanan,…

  • 1,235,301
  • 637,692
©2026 – | Design: Newspaperly WordPress Theme
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI