Skip to content

–

Menu
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI
Menu

Mewaspadai Beredarnya Daging Oplosan Jelang Ramadhan

Posted on



Dalam hitungan hari, Bulan Suci Ramadhan akan segera tiba. Momentum yang penuh hikmah ini membawa keberkahan hampir di setiap lini bisnis, mulai dari bisnis makanan, busana dan lainnya. Pada bulan ini, lazimnya, banyak pedagang dadakan yang membuka usaha menu berbuka puasa (takjil) hingga beragam lauk-pauk. Keuntungan berlipat sudah terbayang oleh para pelaku usaha setahun sekali itu.

Namun, kali ini ada rasa khawatir yang menyergap Rindha Wardani. Seorang ibu rumah tangga di Depok, Jawa Barat, ini punya kisah tak mengenakkan saat akan berjualan daging rendang untuk menu berbuka puasa, tahun lalu. Tak kurang dari 5 kg daging yang ia beli di pasar tak jauh dari tempat tinggalnya harus dibuang sia-sia.

Daging yang ia beli itu ternyata daging oplosan antara daging sapi dengan daging babi hutan (celeng). Rindha mengetahui daging yang ia beli ternyata oplosan, setelah diinformasikan seorang temannya yang berprofesi sebagai dosen dan ahli gizi.

“Saat beli di pasar, tidak kelihatan beda warnanya karena dicampur. Baru kelihatan beda warna dagingnya setelah mau diolah di rumah. Pantas saja waktu itu harganya jauh lebih murah dibanding biasanya,” tutur Rindha kepada Infovet.

Ia bisa jadi, hanya salah satu korban saja dari kasus daging oplosan yang hampir setiap tahun terjadi. Di beberapa kota lain, cukup banyak orang yang juga terkena imbas dari bisnis licik ini. Banyak ragam modus yang dilakukan oleh para pelaku untuk mengoplos daging sapi dan daging babi hutan. Dari pemberitaan yang ada selama ini, pihak kepolisian menemukan sedikitnya dua modus yang bisa dilakukan pelaku. Modus pertama, dengan mengoplos daging sapi dengan daging celeng ke dalam satu kotak, lalu dimasukan ke dalam tempat pendingin. Untuk mengelabuhi petugas, bagian luar dari kontak penyimpanan itu diberi label daging impor.

Modus kedua, menyamarkan daging babi hutan sebagai daging sapi dengan cara menyiram daging celeng dengan darah sapi. Dengan begitu, sekilas daging celeng itu menjadi mirip daging sapi. Untuk menghindari ini, biasanya aparat kepolisian akan mengimbau masyarakat sebaiknya membeli daging sapi pada pedagang yang biasa berjualan daging sehari-hari. Hindari membeli daging pada pedagang daging dadakan yang berjualan di pinggir jalan.

Rugi Jasmani dan Rohani
Berulangnya kasus daging oplosan yang terjadi di berbagai daerah mengundang keprihatinan dari banyak kalangan, termasuk para ahli gizi. Menurut Dosen Laboratorium Ilmu dan Teknologi Daging, Departemen Teknologi Hasil ternak, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir Edi Suryanto, MSc., Ph.D., IPU, peristiwa pencampuran daging sapi dengan daging babi hutan yang berulang-ulang merupakan tindakan kriminal.

Edi Suryanto

“Peristiwa ini harus dilakukan tindakan pencegahan dengan mendasarkan pada UU PK No. 8 tahun 1999, UU Pangan No. 18 tahun 2012 dan UURI No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH),” ujarnya.

UU JPH menyatakan, bahwa untuk menjamin setiap pemeluk agama untuk beribadah dan menjalankan ajaran agamanya, negara berkewajiban memberikan pelindungan dan jaminan tentang kehalalan produk yang dikonsumsi dan digunakan masyarakat. 

Menurut pakar gizi ini, dari sisi Agama Islam, pencampuran atau pengoplosan akan menimbulkan kerugian kerohanian yang besar, karena masuknya barang atau zat yang haram ke dalam tubuh seorang Muslim, sehingga amal ibadahnya dapat tidak diterima atau tidak berpahala.

Bahkan, kerugian juga datang dari sisi jasmani atau tubuh orang yang mengkonsumsi barang haram tersebut. Dari sisi gizi dan kesehatan barang yang haram mengandung berbagai kotoran yang dapat minimbulkan gangguan kesehatan tubuh (fisik) dan gangguan kejiwaan (psikis).

“Kotoran yang ada dalam barang yang haram antara lain seperti racun-racun, mikrobia perusak, mikrobia penyebab penyakit, parasit, virus dan sampah-sampah metabolit lainnya,” tegasnya. 

Perbedaan Kasat Mata
Untuk menghindari keraguan masyarakat dalam membeli daging, Edi menjabarkan tips penting untuk membedakan antara daging sapi dan daging babi hutan. Tidak terlalu sulit untuk membedakan antara daging sapi dengan daging babi hutan yang masih mentah, secara kasat mata.

Cara membedakan jenis daging dapat dilakukan secara sensoris atau organoleptis dan secara laboratorium (fisis, kemis dan biokemis). “Pembedaan secara kasat mata daging sapi dengan daging babi dapat dilakukan menggunakan indera manusia atau secara inderawi,” kata Edi.

Menurut dia, daging mempunyai ciri-ciri atau karakteristik sendiri-sendiri. Misalnya, daging sapi berbeda dengan daging babi, daging unggas berbeda dengan daging sapi atau pun daging babi. Perbedaan ini dapat disebabkan antara lain oleh genetik, pakan, umur dan manajemen. 

Berikut adalah perbedaan kandungan kimia atau sering disebut kandungan gizi daging-daging tersebut secara kasat mata.

Daging sapi
Daging babi hutan (celeng)
Warna merah tua
Warna merah muda
Bau: khas daging sapi dan lebih kuat aromanya
Bau: khas daging babi agak apek
Serat daging lebih kasar
Serat daging lebih halus
Perlemakan lebih rendah
Perlemakan lebih banyak
Lemak punggung tipis
Lemak punggung tebal
Kulit dilepas dari karkas
Kulit tetap menempel pada karkas


Pemahaman lain yang perlu diperhatikan konsumen dalam mencermati perbedaan antara daging sapi dan daging babi hutan, adalah saat kedua daging sudah diolah atau matang. Menurut Edi, daging sapi dan daging babi hutan yang sudah matang juga masih dapat dibedakan dari sensorisnya. “Warna daging sapi matang coklat gelap, sedangkan warna daging babi matang coklat pucat,” ujarnya.

Jika olahan berkuah, maka kuah daging sapi memberikan aroma yang khas daging sapi, sedangkan kuah daging babi aromanya berbeda dari daging sapi. Sementara itu, lemak daging sapi akan menggumpal saat dingin, sedangkan lemak daging babi tetap cair saat dingin.

“Namun jika telah dilakukan pengolahan lebih lanjut, misalnya sosis, maka pembedaan secara sensoris ini tidak mudah dilakukan. “Perlu didukung dengan analisis laboratorium menggunakan metode yang lebih canggih yaitu penentuan DNA (metode PCR),” jelas Edi.

Tips Pilih Daging Berkualitas 
Selain kasus daging oplosan, di beberapa daerah juga masih terjadi kasus penjualan daging sapi yang sudah busuk yang diberi perlakuan khusus, sehingga terlihat seperti daging sapi segar. Karena itu, ahli gizi dari UGM ini memberikan tips sederhana dalam memilih daging sapi segar, agar kandungan gizinya sempurna.

Menurutnya, belilah daging yang berasal dari sapi sehat dan yang disembelih secara halal. Daging sapi sehat berwarna merah segar. Memiliki bau atau aroma khas daging sapi, yaitu lebih amis atau anyir. Serat daging lebih kasar dan tampak jelas. Selain itu, tidak ada memar atau pembuluh darah yang pecah karena jatuh, terhimpit, tertanduk, serta memiliki tekstur padat, solid dan kaku. “Jika ditanya, antara daging beku dan daging segar, lebih baik mana untuk dipilih? Itu sangat tergantung dari tujuan pengolahan berikutnya,” ujarnya.

Untuk produksi bakso, misalnya, kata Edi, maka daging segar adalah daging yang lebih baik dipilih, karena akan menghasilkan bakso yang kenyal, padat dan kompak. Sehingga tidak perlu menambahkan banyak bahan pengenyal, terkadang tidak perlu ditambahkan.

Sementara untuk daging beku, sebelum diolah harus disegarkan kembali atau thawing. Thawing ini akan menyebabkan cairan daging yang berwarna merah (drip) keluar. Drip ini membawa sebagian nutrien atau zat gizi daging, sehingga terjadi penurunan zat gizi daging. (Abdul Kholis)

Post Terkait:

  • MENILIK UNTUNG - RUGI PASCA PELARANGAN AGP Setahun berlalu sejak terbitnya Permentan No.17/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Salah satu poin dalam peraturan tersebut yakni dilarangnya Antibiotic Growth Promoter (AGP) ke dalam pakan…
  • ATASI BAU TAK SEDAP PADA DAGING SAPI     Penjual daging sapi di pasar tradisional. (Sumber: Istimewa) Kelompok yang paling rentan terhadap bakteri penyebab daging bau busuk ini adalah pasien kanker, orang…
  • POLA PERDAGANGAN DAGING PERLU DITATA KEMBALI Para pembicara pada diskusi Pataka di Jakarta, Kamis (2/11). “Menata Pasar Daging yang Tersegmentasi” menjadi bahasan dalam program Bincang-Bincang Agribisnis (BBA), yang dilaksanakan Pusat Kajian…
  • Peluang Menantang Usaha Bibit Ayam Lokal DOC ayam lokal. (Foto: Dok. CV Nitnot) Hingga kini belum ada data pasti kebutuhan DOC ayam lokal secara nasional. Namun, yang jelas, sejumlah pasar masih…
  • Prediksi Pasar Domba dan Kambing Momen Idul Adha menjadi penting bagi peternak dan pedagang ternak (domba dan kambing) untuk memaksimalkan laba. ((Momen Idul Adha menjadi penting bagi peternak dan pedagang…
  • Hasil Survei: Masyarakat Lebih Pilih Pulsa Dibanding Daging Daging ayam. (Sumber foto: meatworld.co.za)Pantauan tim Infovet di lapangan membuktikan bahwa beberapa masyarakat Indonesia kini lebih cenderung gemar “mengonsumsi” pulsa ketimbang protein hewani.Hal ini dibuktikan…
  • REFLEKSI HARI LAHIR PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN… Tanggal 26 Agustus merupakan hari lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia. Tanggal ditetapkan karena berdasarkan penelusuran sejarah pada tanggal tersebut tepatnya ditahun 1836 pemerintah Hindia-Belanda…
  • Tahun 2018 Peternakan Diprediksi Masih Tumbuh di… Pemerintah diharapkan memiliki cetak biru (blueprint) pembangunan peternakan yang diketahui dan disepakati oleh semua pemangku kepentingan peternakan, sehingga semua pihak memahami dan juga mendukung akan  kemana…
  • TONTON SENI KETANGKASAN DOMBA GARUT GRATIS BARENG… Buperta Cibubur (22 September 2017). Budaya beternak masyarakat Jawa Barat erat kaitannya dengan budaya beternak domba, hal ini dapat dilihat dan dibuktikan dari data populasi…
  • JANGAN TAKUT KONSUMSI DAGING AYAM Daging ayam. (Istimewa) ((Masih saja ada oknum dokter yang menganjurkan pasiennya untuk tidak mengonsumsi daging ayam broiler. Jika dibiarkan, akan makin banyak masyarakat yang takut…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DATA BISNIS PETERNAKAN

Artikel Terbaru

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

KALENDER

September 2026
MTWTFSS
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930 
« Jul    

ARTIKEL TERBARU

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

ARTIKEL TERKAIT

  • MENILIK UNTUNG - RUGI PASCA PELARANGAN AGP by Agribisnis Setahun berlalu sejak terbitnya Permentan No.17/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Salah satu poin dalam peraturan tersebut yakni dilarangnya Antibiotic Growth Promoter (AGP) ke dalam pakan…
  • ATASI BAU TAK SEDAP PADA DAGING SAPI by Agribisnis     Penjual daging sapi di pasar tradisional. (Sumber: Istimewa) Kelompok yang paling rentan terhadap bakteri penyebab daging bau busuk ini adalah pasien kanker, orang…
  • POLA PERDAGANGAN DAGING PERLU DITATA KEMBALI by Agribisnis Para pembicara pada diskusi Pataka di Jakarta, Kamis (2/11). “Menata Pasar Daging yang Tersegmentasi” menjadi bahasan dalam program Bincang-Bincang Agribisnis (BBA), yang dilaksanakan Pusat Kajian…
  • Peluang Menantang Usaha Bibit Ayam Lokal by Agribisnis DOC ayam lokal. (Foto: Dok. CV Nitnot) Hingga kini belum ada data pasti kebutuhan DOC ayam lokal secara nasional. Namun, yang jelas, sejumlah pasar masih…
  • Prediksi Pasar Domba dan Kambing by Agribisnis Momen Idul Adha menjadi penting bagi peternak dan pedagang ternak (domba dan kambing) untuk memaksimalkan laba. ((Momen Idul Adha menjadi penting bagi peternak dan pedagang…

  • 1,235,301
  • 637,692
©2026 – | Design: Newspaperly WordPress Theme
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI