Skip to content

–

Menu
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI
Menu

Hilirisasi, untuk Stabilitas Harga dan Kesehatan Unggas

Posted on

Saat tulisan ini disusun, harga daging ayam di pasar tradisional di
wilayah Jakarta sekitar Rp 37 ribu
per kg,
harga telur ayam Rp 24 ribu
per kg. Berbagai
media memberitakan, memasuki bulan puasa, masyarakat mengeluh harga terus
melonjak. Pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan dan Kementan tampak
sibuk mengupayakan agar harga kebutuhan pokok masyarakat tidak mengalami
kenaikan.
Dalam kasus ini, peternak unggas mendapat bagian yang disalahkan karena
dianggap menjual ayam dan telur dengan harga terlalu tinggi. Padahal fakta di
lapangan tidak demikian. Harga telur di Blitar Rp 17 ribu
per kg, di Pakanbaru bahkan hanya Rp 16 ribu per kg. Ini adalah harga yang normal, tidak ada
lonjakan sama sekali,
bahkan
pakanbaru harga lebih rendah dari harga normal. Memang, menjelang bulan Puasa,
harga di peternak sempat mengalami kenaikan, namun masuk
pekan kedua sudah mulai kembali ke harga normal.
Bahkan, dibanding dengan harga acuan Kementan sebesar Rp 18 ribu
per kg untuk telur maupun ayam hidup, harga di
peternak di sebagian daerah masih di bawah harga acuan pemerintah.
Pelaku usaha peternakan sebagai produsen sejatinya wajar jika berharap
adanya kenaikan harga di waktu permintaan naik. Setidaknya bagi mereka, ada saatnya
untuk menikmati untung, karena di bulan-bulan lain meskipun harga jatuh, mereka
tetap berkomitmen tidak melakukan mogok produksi. “Meski rugi, saya tetap
pelihara, untuk menjaga kelangsungan hubungan bisnis,” ujar para peternak.
Ingat kasus 2014 hingga 2016, harga ayam dan telur berada di bawah
harga pokok produksi selama berbulan-bulan. Sebagian peternak yang tidak kuat
untuk menanggung kerugian terpaksa mengistirahatkan kandangnya, bahkan ada yang
berhenti total dan mengupayakan mengais rejeki dengan upaya lainnya.
Publik mungkin kurang paham bahwa menjalankan usaha “barang hidup”
dalam sebuah negara kepulauan yang sangat luas ini sangat berbeda dengan
memproduksi barang manufaktur.  Produsen
peralatan rumah tangga dapat melakukan proyeksi bahwa di bulan tertentu
misalkan menjelang lebaran dan saat tahun baru, terjadi lonjakan permintaan
alat rumah tangga. Hal ini dapat diantisipasi dengan jumlah produksi yang
sesuai kebutuhan pasar. Jika di saat tertentu terjadi oversupply juga tidak terlalu menjadi masalah karena barang yang
diproduksi dapat disimpan di gudang dan dapat di jual kembali di saat
permintaan melonjak.
Menjalankan usaha peternakan, tidak bisa dijalankan seperti
memproduksi alat rumah tangga. Prediksi naik turunnya permintaan harus lebih
cermat. Supply demand sepanjang tahun
di sebuah negara harus dianalisa sehingga dapat diprediksi pergerakan naik
turunnya permintaan.  Pertumbuhan ekonomi
wilayah, laju inflasi dan tingkat kesadaran masyarakat akan konsumsi protein
hewan ikut mempengaruhi permintaan. Pergerakan permintaan juga harus dilihat
per daerah, karena Indonesia memiliki adat konsumsi protein hewani yang
berbeda-beda waktunya.  Musim hajatan di
berbagai daerah yang waktunya tidak seragam biasanya ikut berkontribusi
meningkatkan konsumsi protein hewani.
Sementara itu dari sisi produksi juga ada beberapa aspek yang harus
dikaji agar bisa menyediakan produk peternakan sesuai permintaan. Misalkan saja
wabah penyakit hewan, kelangkaan produksi bibit, musim kemarau panjang, pasokan
bahan baku pakan dan sebagainya, akan berpengaruh pada kualitas dan kuantitas
produksi.
Ini semua tidak bisa bisa diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme
pasar. Jika produksi peternakan diserahkan ke mekanisme pasar, resikonya adalah
produksi tidak bisa terkendali. Ketika diprediksi bahwa saat tertentu akan
terjadi lonjakan permintaan semua pelaku usaha akan berlomba memproduksi,
hingga akibatnya terjadi oversupply
dan harga anjlok.
Tahap berikutnya, karena harga jatuh, pelaku usaha akan mengurangi
produksi. Sebagian di antaranya berhenti total. Selanjutnya karena para pelaku
usaha mengurangi produksinya maka pasokan berkurang hingga di bawah permintaan.
Harga menjadi naik kembali. Demikian seterusnya, setelah harga naik, gairah
usaha peternakan kembali meningkat hingga kembali terjadi oversupply.
Kejadian ini berputar-putar terus dengan skala gejolak yang makin
membesar, akibat konsumsi protein dan jumlah penduduk terus meningkat. Untuk
memudahkan pemahaman terhadap permasalahan unggas, Dr Soehadji (Dirjen Peternakan
1988-1996) menggambarkan masalah ini sebagai lingkaran siput.
Bagaimana mengatasi semua ini? Sebagaimana disebut di muka, manajamen
pengendalian produksi tetap harus dilakukan oleh pemerintah. Adanya tim ahli
Dirjen PKH saat ini sebagai tim untuk menganalisa supply demand unggas, adalah langkah yang baik. Hendaknya kita
tidak apriori dengan upaya ini
. Publik
harus mendukung dan mengkritisi jika ada kekurangan.
Langkah ini perlu dilanjutkan dengan langkah lain untuk mengurangi
gejolak, yaitu hilirisasi perunggasan. Gagasan hilirisasi sudah cukup lama
bergaung, namun belum berjalan optimal. Maksud hilirisasi adalah upaya
memperkuat industri hilir perunggasan mulai dari pemotongan, penyimpanan dan
pengolahan.
Asumsi bahwa gejolak akan semakin besar adalah
apabila industri hilir tidak digarap. Jika mayoritas masyarakat membeli ayam
harus dalam bentuk ayam hidup, maka gejolak akan terus membesar. Itu sebabnya
masyarakat harus dibiasakan membeli ayam beku
, ayam dingin segar dan hasil olahannya.
Dengan indusri hilir yang baik, keuntungannya bukan hanya pada stabilitas harga, tapi juga kesehatan unggas
dan juga kesehatan konsumen. Penyebaran penyakit AI (dan beberapa penyakit
lain) akan lebih terkendali jika peredaran perdagangan ayam bukan lagi ayam
hidup.
Pekerjaan rumah berikutnya adalah bagaimana agar konsumen membeli ayam
dengan harga yang wajar dan seirama dengan harga di peternak. Kementerian
Perdagangan perlu mengurai masalah ini dengan secermat-cermatnya. Jangan
seperti sekarang, konsumen membeli produk unggas dengan harga mahal, padahal
peternak tidak menikmati harga yang melonjak tinggi.
***

Editorial Majalah Infovet Edisi 288/Juli 2018

Post Terkait:

  • POTRET BISNIS PETERNAKAN 2017 DAN PREDIKSI 2018… Selama 2017 dan mungkin masih dilanjutkan pada 2018, ada dua program nasional di bidang peternakan dan kesehatan hewan yang terkait langsung dengan pembangunan binis dan…
  • Mewaspadai Beredarnya Daging Oplosan Jelang Ramadhan Dalam hitungan hari, Bulan Suci Ramadhan akan segera tiba. Momentum yang penuh hikmah ini membawa keberkahan hampir di setiap lini bisnis, mulai dari bisnis makanan,…
  • POLA PERDAGANGAN DAGING PERLU DITATA KEMBALI Para pembicara pada diskusi Pataka di Jakarta, Kamis (2/11). “Menata Pasar Daging yang Tersegmentasi” menjadi bahasan dalam program Bincang-Bincang Agribisnis (BBA), yang dilaksanakan Pusat Kajian…
  • BEGINI UPAYA KEMENTAN WUJUDKAN KETAHANAN PANGAN ASAL TERNAK Dalam rangka mendukung kebijakan pembangunan nasional terutama mewujudkan pencapaian ketahanan pangan, pembangunan peternakan baik yang dilakukan oleh pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota bertujuan untuk mencapai…
  • Keamanan Daging Sapi Brazil dari PMK Dipertanyakan Daging impor.Kemenangan Brazil dalam sidang banding di WTO (World Trade Organization/WTO), yang memenangkan sebagian gugatan Brazil atas Indonesia ternyata masih menyisakan tanda tanya dan kekhawatiran.…
  • Peluang Menantang Usaha Bibit Ayam Lokal DOC ayam lokal. (Foto: Dok. CV Nitnot) Hingga kini belum ada data pasti kebutuhan DOC ayam lokal secara nasional. Namun, yang jelas, sejumlah pasar masih…
  • JANGAN TAKUT KONSUMSI DAGING AYAM Daging ayam. (Istimewa) ((Masih saja ada oknum dokter yang menganjurkan pasiennya untuk tidak mengonsumsi daging ayam broiler. Jika dibiarkan, akan makin banyak masyarakat yang takut…
  • Hasil Survei: Masyarakat Lebih Pilih Pulsa Dibanding Daging Daging ayam. (Sumber foto: meatworld.co.za)Pantauan tim Infovet di lapangan membuktikan bahwa beberapa masyarakat Indonesia kini lebih cenderung gemar “mengonsumsi” pulsa ketimbang protein hewani.Hal ini dibuktikan…
  • HARGA AYAM DAN TELUR JEBLOK, RIBUAN PETERNAK GERUDUK… JAKARTA, Kamis 30 Maret 2013. Ribuan peternak ayam pedaging (broiler) dan petelur (layer) hari ini menggelar aksi di depan Istana Merdeka. Mereka menuntut pemerintah segera…
  • MENILIK UNTUNG - RUGI PASCA PELARANGAN AGP Setahun berlalu sejak terbitnya Permentan No.17/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Salah satu poin dalam peraturan tersebut yakni dilarangnya Antibiotic Growth Promoter (AGP) ke dalam pakan…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DATA BISNIS PETERNAKAN

Artikel Terbaru

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

KALENDER

July 2026
MTWTFSS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031 
« May    

ARTIKEL TERBARU

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

ARTIKEL TERKAIT

  • POTRET BISNIS PETERNAKAN 2017 DAN PREDIKSI 2018… by Agribisnis Selama 2017 dan mungkin masih dilanjutkan pada 2018, ada dua program nasional di bidang peternakan dan kesehatan hewan yang terkait langsung dengan pembangunan binis dan…
  • Mewaspadai Beredarnya Daging Oplosan Jelang Ramadhan by Agribisnis Dalam hitungan hari, Bulan Suci Ramadhan akan segera tiba. Momentum yang penuh hikmah ini membawa keberkahan hampir di setiap lini bisnis, mulai dari bisnis makanan,…
  • POLA PERDAGANGAN DAGING PERLU DITATA KEMBALI by Agribisnis Para pembicara pada diskusi Pataka di Jakarta, Kamis (2/11). “Menata Pasar Daging yang Tersegmentasi” menjadi bahasan dalam program Bincang-Bincang Agribisnis (BBA), yang dilaksanakan Pusat Kajian…
  • BEGINI UPAYA KEMENTAN WUJUDKAN KETAHANAN PANGAN ASAL TERNAK by Agribisnis Dalam rangka mendukung kebijakan pembangunan nasional terutama mewujudkan pencapaian ketahanan pangan, pembangunan peternakan baik yang dilakukan oleh pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota bertujuan untuk mencapai…
  • Keamanan Daging Sapi Brazil dari PMK Dipertanyakan by Agribisnis Daging impor.Kemenangan Brazil dalam sidang banding di WTO (World Trade Organization/WTO), yang memenangkan sebagian gugatan Brazil atas Indonesia ternyata masih menyisakan tanda tanya dan kekhawatiran.…

  • 1,202,937
  • 606,781
©2026 – | Design: Newspaperly WordPress Theme
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI