Inovasi Takesi Dukung Program UPSUS SIWAB

Kepala BBLITVET Dr drh NLP Indi Dharmayanti MSi bersama Kepala Balitbangtan Dr Ir Muhammad Syakir MS ketika me-launching aplikasi Takesi.

Bogor – INFOVET. Takesi, selintas mengingatkan kita pada nama salah satu aktor kebangsaan Jepang, namun bukan. Ini Takesi yang merupakan aplikasi kesehatan sapi yang dikembangkan Badan Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui unit kerja Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLITVET).

Aplikasi Takesi dapat diunduh secara gratis melalui Appstore. Aplikasi ini memiliki empat menu utama antara lain penyakit dan gangguan reproduksi pada sapi indukan, penyakit dan gangguan pada anak sapi, manajemen kesehatan, dan kontak ahli.

Berdasarkan jenis penyakitnya, aplikasi ini dibagi menjadi penyakit infeksius dan noninfeksius. Takesi dikemas menggunakan bahasa yang sederhana, singkat, dan jelas, termasuk memasukkan beberapa bahasa daerah popular terkait nama-nama penyakit tertentu pada ternak ruminansia, yakni sapi.

Kepala Balitbangtan Dr Ir Muhammad Syakir MS mengemukakan teknologi dan inovasi yang dihasilkan para peneliti di BBLITVET sejalan dengan yang disampaikan Presiden Joko Widodo bahwa pertanian dapat maju dengan inovasi dan teknologi.

Baca Juga:   DAGING KERBAU IMPOR AMANKAH? | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan

“Karena itu, semua program strategis nasional yang dimiliki Kementerian Pertanian berbasis riset dan teknologi,” kata Dr Ir Muhammad Syakir MS di BBLITVET Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (13/2/2018).

Kepala BBLITVET Dr drh NLP Indi Dharmayanti MSi mengatakan, Takesi adalah satu dari sejumlah inovasi yang diluncurkan untuk mendukung program strategis Kementerian Pertanian dalam mewujudkan swasembada daging melalui UPSUS SIWAB (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting).

“BBLITVET memiliki inovasi lengkap mulai dari tahap pertama proses pemeriksaan hewan sampai tahap akhir pengembangbiakkan dan menghasilkan sapi indukan yang berkualitas,” katanya.

Imbuhnya, saat ini sudah ada 1.700 orang yang mengunduh aplikasi tersebut sejak disosialisasikan November 2017. Sosialisasi masih terbatas di sejumlah wilayah yang menjadi sentra peternakan sapi, seperti Jawa Tengah, Sulawesi, dan NTB.

Sekitar 30 dokter hewan tergabung dalam aplikasi Takesi sebagai ahli, yang bersiap membantu peternak dalam menjawab berbagai pertanyaan dan persoalan yang dihadapi oleh peternak.

Takesi dilengkapi dengan galeri foto dan video tentang penyakit-penyakit sapi di Indonesia. Selain itu, aplikasi ini memiliki mesin pencari jenis penyakit berbasis gejala. Misalnya pengguna dapat memasukkan kata kunci “lumpuh” (sesuai dengan gejala klinis yang dilihat pada sapinya), maka dengan menyentuh tombol “cari”, layar ponsel pintar akan menyajikan beberapa alternatif kemungkinan penyakit yang menyerang ternaknya.

Baca Juga:   Menyelaraskan Hubungan Asosiasi dengan Pemerintah (Editorial Infovet Juli 2017)

Menurut salah satu peneliti BBLITVET, April Hari Wardhana SKH MSi PhD, Takesi dirancang sebagai bentuk pengabdian para dokter hewan, konsultasi kesehatan hewan melalui aplikasi ini tidak dipungut biaya.

“Kecuali ada tindakan yang mengharuskan dokter turun ke lokasi dan harus dilakukan pengobatan, atau pemberian vaksin kemungkinan ada biaya yang dikenakan,” pungkasnya. (ndv)

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.