Skip to content

–

Menu
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI
Menu

Kenali dan Hindari Cacing Lambung Haemonchus Contortus

Posted on

Domba yang digembalakan lebih mudah terkena cacing H. contortus.

Performa produksi domba dan kambing salah satunya ditentukan oleh kuantitas dan kualitas ransum pakan yang diberikan. Rumput sebagai salah satu sumber serat yang dibutuhkan ternak ruminansia berlambung jamak seperti domba dan kambing, ternyata juga turut andil menyumbang larva stadium tiga (L3s) cacing Haemonchus contortus, yang ikut terkonsumsi ketika rumput di makan. Larva L3s ini hidup nyaman dan berkembang biak di dalam lambung keempat domba dan kambing (abomasum). Ya, spesifik dan hanya ditemukan di abomasum, lambung yang memiliki pH asam ini. Si cacing betina bertelur, lalu telur di keluarkan melalui feses. Feses di suhu lingkungan yang sedikit hangat, menjadi media menetasnya telur-telur cacing H. contortus menjadi larva stadium satu dan dua, sebelum berkembang menjadi larva L3s yang hidup bertahan di pangkal rerumputan, yang dekat dengan tanah. Larva L3s ini akan masuk ke dalam lambung ternak lagi ketika rumput sebagai habitatnya di makan oleh ternak. Demikian seterusnya.


Infestasi dan Eksistensinya di Lambung
Siklus hidup cacing H. contortus yang demikian sederhananya menjadikan prevalensi ditemukannya cacing ini di lambung domba dan kambing sangat tinggi, terutama pada kondisi domba dan kambing yang digembalakan. Sebenarnya, kemampuan hidup larva L3s di rerumputan tidaklah sekuat yang dibayangkan. Larva ini rentan mati akibat perubahan suhu lingkungan ataupun adanya agen pemusnah seperti pestisida yang digunakan di persawahan. Namun, kurangnya ketersediaan lahan untuk rotasi padang gembala menjadi salah satu sebab, mengapa siklus cacing penyebab anemia ini tidak terputus.


Cacing H. contortus merupakan parasit nematoda yang biasa disebut cacing lambung (stomach worm), atau barber pole worm. Disebut sebagai yang terakhir ini karena khusus pada cacing betina terdapat uterus berwarna putih yang diselingi usus berwarna kemerahan, kemudian berpilin sehingga mirip dengan ikon tempat cukur rambut para pria, sebuah bentuk lampu boks silinder dengan hiasan pilinan dua warna kontras. Namun, hal ini tidak ditemukan pada cacing dewasa jantan, yang hanya mempunyai warna tubuh merah cerah. Panjang cacing dewasa mencapai 10-30 mm, dengan si betina lebih panjang dan besar dibanding cacing jantan. Seekor cacing H. contortus betina mampu bertelur hingga 5.000-10.000 butir/hari, atau diestimasikan setiap 16-17 detik terjadi ovulasi, tergantung dari kematangan reproduksi dan umur cacing tersebut.

Cacing H. contortus yang dikoleksi
dari abomasums domba betina.

Satu ekor domba atau kambing dianggap normal, bila prevalensi ditemukannya telur cacing H. contortus ini di bawah 500 butir/gram feses. Pengamatan dilakukan secara mikroskopis di bawah mikroskop. Ada juga standar yang menyatakan harus di bawah 200 butir/gram feses atau bahkan diharuskan nol atau bersih total. Mereka dengan standar ini lebih mengutamakan pada optimalisasi performa produksi. Biasanya dibarengi dengan pola pemeliharaan intensif dan pemberian anthelmintika (obat cacing). Domba betina dan anak domba yang digembalakan di lahan persawahan biasanya terserang cacing lebih tinggi, hingga di atas 1.000 butir/gram feses. Bahkan pada beberapa kasus yang pernah penulis teliti, ditemukan beberapa ekor domba ekor tipis betina dari kawanan penggembalaan dengan jumlah telur cacing mencapai lebih dari 5.000 butir/gram feses. Meskipun jumlah telur tinggi (lebih dari 2.000 butir/gram feses), tidak serta-merta menunjukkan gejala fisik yang sama antar ternak satu dengan lainnya. Namun secara umum, domba atau kambing yang terinfestasi cacing H. contortus mempunyai penampilan fisik yang cenderung kurus, mata berair, tidak aktif dan bulu kusam hingga mudah rontok. Nafsu makan masih tetap tinggi pada periode awal-awal infestasi, tapi konversi pakan tinggi, sehingga performa produksi daging buruk.


Kerugian yang Diderita
Cacing H. contortus dewasa mengaitkan ujung mulutnya di mukosa dinding abomasum dan menghisap darah ternak inangnya. Setiap hari, satu ekor cacing dewasa mampu menghisap sekitar 0,05 ml darah segar dari abomasum. Bayangkan jika satu ekor ternak terdapat 1.000 ekor cacing dewasa, maka diperkirakan akan kehilangan 50 ml darah setiap harinya. Tentu saja ini menyebabkan anemia dan dikatakan bahwa cacing H. contortus  merupakan penyebab primer anemia pada ternak, diiringi defisiensi kalsium dan fosfat. Dalam kondisi hiperakut, kematian tidak dapat dihindarkan, terlebih pada ternak usia muda dengan daya tahan yang lebih lemah dibanding dewasanya.

Penampakan mikroskopis perbesaran 10×10 telur dan
larva cacing H. contortus dan telur koksidia.

Anemia dan turunannya menjadikan penurunan bobot karkas, konsumsi pakan dan nutrien menjadi tidak optimal, penurunan imunitas ternak, serta meningkatnya resiko kegagalan pertumbuhan fetus, termasuk meningkatnya angka kematian cempe pasca kelahiran. Selain prematur, perkembangan kelenjar susu di ambing induk juga terhambat dan tidak maksimal, sehingga anak yang lahir akan kekurangan asupan susu induknya, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Kerugian ekonomi akibat infestasi cacing H. contortus tidak terelakkan lagi. Ditambah dengan ditemukannya resistensi cacing H. contortus terhadap beberapa obat cacing komersial spektrum luas seperti albendazole dan avermectine, yang menyebabkan semakin kurang efektifnya pengobatan dengan dosis mainstream dan meningkatnya biaya produksi untuk obat (Pathak et al., 2016; Van den Brom et al., 2015).


Cegah dan Atasi dengan Cara Ini
Berbagai cara direkomendasikan oleh para peneliti peternakan, khususnya dalam hal menangani dan mencegah serangan cacing H. contortus. Secara umum, yang dapat dilakukan adalah dengan memotong siklus hidup cacing dan membunuh cacing pada fase tertentu, atau pada seluruh fase kehidupannya (spektrum luas).

Strategi cut and carry pada pakan hijauan, direkomendasikan
untuk memotong siklus hidup cacing H. contortus.

Memotong siklus hidup cacing dapat dilakukan dengan melakukan rotasi padang gembalaan dan memberikan waktu yang cukup agar larva-larva cacing di lokasi pertama mati, tanpa sempat termakan ternak. Cara lain adalah dengan melakukan strategi cut and carry pada pakan hijauan. Frekuensi ternak digembalakan dikurangi, atau bahkan tanpa digembalakan sama sekali. Sehingga tidak ada feses ternak yang tertinggal di lahan hijauan. Rumput lapangan (sawah) ataupun rumput budidaya seperti rumput raja, rumput gajah, tebon jagung, dll. dipotong (cut) di kebun budidaya dan dibawa (carry) ke kandang ternak. Tentunya hal ini perlu pertimbangan biaya tenaga kerja. Namun dengan cara ini, ada sisi positif lain yang diperoleh, yakni feses yang tertampung dapat diolah menjadi pupuk kandang bernilai ekonomi tinggi.


Cara berikutnya adalah dengan membinasakan cacing pada berbagai fase. Pemberian obat cacing komersial spektrum luas seperti albendazole dengan dosis 3-5 mg/kg bobot badan ternak, dirasa sangat efektif menekan jumlah infestasi cacing di saluran cerna, bukan hanya terhadap cacing H. contortus, melainkan terhadap parasit lainnya seperti cacing hati dan koksidia. Pemberian pakan hijauan berbasis leguminosa (kacang-kacangan) dan herbal yang mengandung senyawa metabolit sekunder (tanin, saponin, dll) juga terbukti ampuh menurunkan infestasi cacing, di samping meningkatkan asupan protein ternak dari tanaman legum tersebut.


Terkait dengan protein, pemberian pakan penguat atau konsentrat sumber energi dan protein juga terbukti mampu menurunkan resiko infestasi cacing. Nilai nutrien yang tinggi dari pakan penguat, mampu memberikan asupan nutrisi bagi sel-sel mukosa saluran cerna yang rusak karena infestasi cacing, serta meningkatkan imunitas, sehingga ternak lebih kuat dan mampu mengatasi resiko lanjutan dari infestasi cacing tersebut. Di Benua Biru, yang memiliki lahan gembala yang luas, mereka mencampur rumput di lahan pastura dengan tanaman legum yang kaya protein dan zat aktif antiparasit, sehingga mampu menekan resiko cacingan meski tetap digembalakan. Semua ini sebenarnya merupakan rangkuman dari sistem pemeliharaan semiintensif-intensif. Karena untuk menunjang produktivitas peternakan dewasa ini, pola pemeliharaan juga harus update dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Itu lah tuntutan peternak zaman now.

Awistaros A. Sakti

Peneliti Bidang Pakan dan Nutrisi Ternak

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Peternakan,

Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada

Post Terkait:

  • Anthelmentika Alami Hijauan Pakan | Majalah Infovet… Haemonchus contortus, salah satu nematoda yang sering ditemukanpada ternak kambing, domba dan sapi. ((Kearifan lokal peternak memanfaatkan pakan dedaunan (Jawa: ramban), secara tidak langsung melindungi…
  • PRINSIP PEMBERIAN PAKAN SAPI PEDAGING   Ternak sapi pedaging (Sumber: Istimewa) Dalam penggemukan sapi, pakan yang diberikan harus memenuhi jumlah tertentu dengan kandungan energi dan protein yang cukup, sehingga menghasilkan…
  • Potensi Pengembangan Ternak Domba Waringin Domba Waringin yang beratnya mencapai 135 kg dari penelitian Ir Tirta Waringin. (Sumber: Tirta Waringin) Nama domba Waringin tidaklah setenar nama domba Garut dari Jawa…
  • KERAKAS SAWIT SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA KECIL Kerakas sawit yang sudah di parut. (Dok. pribadi)Indonesia sebagai penghasil minyak sawit terbesar dunia mempunyai luasan kebun sawit yang sangat besar. Dengan luasan kebun sawit,…
  • Rawan Hijauan Pakan, (Masihkah) Silase jadi Solusi Bahan baku seperti rumput raja, dedak padi dan molasses. (Foto: Dok. pribadi) ((Ketahanan pakan bukan melulu soal sukses menyediakan, tetapi juga soal kemampuan bertahan menghadapi…
  • PERUMUSAN SKEMA PEMBIAYAAN USAHA PEMBIAKAN DAN… Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementan bersama Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) menyelenggarakan kegiatan Perumusan Skema Pembiayaan Usaha Untuk Kegiatan Pembiakan…
  • Potensi Keuntungan dan Manfaat Dalam Beternak Kambing Ternak kambing yang ditampilkan pada kegiatan Jambore Peternakan Nasional tahun lalu. Ternak kambing di Indonesia populasinya menduduki urutan ketiga diantara hewan ruminansia, yaitu sebesar 10.012.794…
  • MENJAGA MUTU BAHAN PAKAN TERNAK   Bahan pakan ternak wajib dijaga agar kualitasnya terjamin dan tidak membahayakan ternak. (Foto: Istimewa) Bahan pakan ternak di Indonesia sebagian besar masih berkualitas rendah…
  • MENILIK UNTUNG - RUGI PASCA PELARANGAN AGP Setahun berlalu sejak terbitnya Permentan No.17/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Salah satu poin dalam peraturan tersebut yakni dilarangnya Antibiotic Growth Promoter (AGP) ke dalam pakan…
  • Prediksi Pasar Domba dan Kambing Momen Idul Adha menjadi penting bagi peternak dan pedagang ternak (domba dan kambing) untuk memaksimalkan laba. ((Momen Idul Adha menjadi penting bagi peternak dan pedagang…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DATA BISNIS PETERNAKAN

Artikel Terbaru

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

KALENDER

July 2026
MTWTFSS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031 
« May    

ARTIKEL TERBARU

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

ARTIKEL TERKAIT

  • Anthelmentika Alami Hijauan Pakan | Majalah Infovet… by Agribisnis Haemonchus contortus, salah satu nematoda yang sering ditemukanpada ternak kambing, domba dan sapi. ((Kearifan lokal peternak memanfaatkan pakan dedaunan (Jawa: ramban), secara tidak langsung melindungi…
  • PRINSIP PEMBERIAN PAKAN SAPI PEDAGING by Agribisnis   Ternak sapi pedaging (Sumber: Istimewa) Dalam penggemukan sapi, pakan yang diberikan harus memenuhi jumlah tertentu dengan kandungan energi dan protein yang cukup, sehingga menghasilkan…
  • Potensi Pengembangan Ternak Domba Waringin by Agribisnis Domba Waringin yang beratnya mencapai 135 kg dari penelitian Ir Tirta Waringin. (Sumber: Tirta Waringin) Nama domba Waringin tidaklah setenar nama domba Garut dari Jawa…
  • KERAKAS SAWIT SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA KECIL by Agribisnis Kerakas sawit yang sudah di parut. (Dok. pribadi)Indonesia sebagai penghasil minyak sawit terbesar dunia mempunyai luasan kebun sawit yang sangat besar. Dengan luasan kebun sawit,…
  • Rawan Hijauan Pakan, (Masihkah) Silase jadi Solusi by Agribisnis Bahan baku seperti rumput raja, dedak padi dan molasses. (Foto: Dok. pribadi) ((Ketahanan pakan bukan melulu soal sukses menyediakan, tetapi juga soal kemampuan bertahan menghadapi…

  • 1,202,937
  • 606,781
©2026 – | Design: Newspaperly WordPress Theme
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI