Kincir Angin Savonius, Efisien Pasok Oksigen Terlarut Dalam Air

Aspek kecukupan oksigen memegang peranan penting bagi keberhasilan budidaya. Terlebih dalam budidaya udang intensif dan superintensif, di mana kepadatan tebar udang sangat tinggi.

 

Seperti halnya hewan air lain, udang membutuhkan oksigen untuk kelangsungan hidupnya. Begitupula ketika udang dipelihara di dalam petak-petak tambak, keberadaan zat asam tersebut sangat vital. Pada tambak-tambak tradisional, di mana kepadatan udang yang ditebar cukup rendah, pemasangan kincir air tidak begitu diperlukan. Hal ini disebabkan, secara alami, oksigen dari udara dapat mengalami difusi ke dalam air. Jumlah oksigen yang terdifusi secara alami tersebut dianggap cukup untuk memasok kebutuhan oksigen udang yang dibudidayakan.

Namun, hal ini tidak berlaku untuk tambak-tambak intensif dan super-intensif. Pasalnya, populasi udang sudah sangat padat di setiap kolom air. Mengandalkan pasokan oksigen dari difusi dan hasil fotosintesis fitoplankton saja tidak cukup. Oleh karena itu, untuk menambah pasokan oksigen terlarut, pada permukaan air tambak dipasang kincir air.

Sebagaimana diketahui, putaran bilah-bilah kincir akan mengaduk udara ke dalam air. Dengan begitu, proses difusi oksigen ke dalam air menjadi jauh lebih efisien dan efektif dibandingkan mengandalkan proses alami. Oksigen terlarut dalam air pun menjadi lebih tinggi dan dapat mencukupi kebutuhan.

Baca Juga:   KJA Buatan Indonesia, Go Internasional!

Kincir air lazim digunakan para petambak. Namun, ada beberapa peralatan lain yang memiliki fungsi hampir sama, tetapi prinsip kerjanya sedikit berbeda. Sebut saja air diffuser. Bedanya, kincir air mencampurkan udara ke dalam air sehingga oksigen dapat terlarut. Sementara diffuser menyemburkan udara ke dalam air secara langsung melalui udara bertekanan.

Kebutuhan daya penggerak kincir air

Pepatah orang Jawa Timur, “Jer Basuki Mawa Beya” berlaku dalam hal ini. Artinya, untuk mencapai kebahagiaan (basuki, kesuksesan), diperlukan pengorbanan (beya, biaya). Tak dapat disangkal, upaya untuk memasok oksigen dengan menggerakkan bilah-bilah kincir air membutuhkan beban listrik yang tidak sedikit. Terlebih jika umur udang sudah mencapai 40 hari, kincir angin diputar selama 24 jam per hari, non-stop hingga panen. Tak jarang, biaya pembelian BBM dan pasokan listrik PLN, sebagian besarnya berasal dari operasional kincir air. Hal ini tentu sangat membebani para petambak dengan biaya operasional yang membengkak akibat konsumsi BBM atau listrik PLN.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Baca Juga:   Kolam Ikan Wiremesh Bundar, Praktis dan Efisien

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.