Kincir Modern di Tambak Udang Tradisional Lampung Timur

Sebagai
penyuplai oksigen di dalam perairan tambak, kincir memiliki peranan penting
dalam urusan ketersediaan oksigen dan menjaga kualitas air dalam tambak udang.

Menurut Direktur
Manager PT Sumber Lancara (SL) Cartenius
Wijaya
, peranan kincir dalam tambak
budidaya udang memiliki
pengaruh yang cukup
penting untuk proses budidaya udang itu sendiri. Kincir menjadi jalur sirkulasi pada tambak
budidaya, media-media lain
yang terdapat pada
tambak seperti kotoran
atau sisa pakan
yang tidak termakan
perlu ditempatkan pada titik sentral yang kemudian akan dilanjutkan oleh sistem
pembuangan supaya bisa terbuang dengan
sempurna.

Hal
ini membutuhkan bantuan kincir untuk mengatur arus
supaya media tersebut
dapat terkumpul di titik sentral
tersebut. “Kincir juga mengatur stabilitas kadar oksigen pada tambak,
selain untuk memberi jalur sirkulasi, kincir juga berperan penting untuk
mencampur serta menyetabilkan oksigen
yang teroksidasi ke air pada
tambak,” ujarnya.

Percikan air yang dihasilkan oleh kincir, secara otomatis akan
teroksidasi pada air
sehingga air pada
tambak budidaya memiliki tingkat oksigen
yang mencukupi untuk
proses budidaya udang. Kemudian, kata Cartenius, kincir
sebagai media untuk mendistribusikan dan meratakan komponen tambahan pada tambak pada masa
budidaya seperti vitamin
atau media lainnya untuk
menunjang proses budidaya udang.

“Media tambahan
tersebut perlu disebar
dengan merata pada tambak
agar dapat diserap oleh udang secara
maksimal. Oleh sebab itu, diperlukan kincir
untuk meratakan penyebaran media tambahan tersebut
dan biasanya vitamin atau media tambahan disebar
di depan kincir
kemudian akan di distribusikan oleh kincir,”
paparnya.

Baca Juga:   Ragam Alat Kultur Pakan Alami untuk Benih Ikan Laut

Jenis
Kincir

Penggunaan kincir bisa
dikatakan “wajib” ada dalam budidaya udang tradisional, seperti halnya para
petambak udang di Desa Labuhan Maringgai, Kabupaten
Lampung Timur, mayoritas petambak menggunakan kincir yang sama dari PT Sumber Lancar (SL).

Tjahyani
Purwo Asturi
dari PT Sumber Lancar Cabang Lampung
mengatakan, “sekitar 85 % petambak udang di wilayah Lampung sudah menggunakan
produk kincir dengan teknologi modern dari SL,” ujarnya.

Yani atau yang kerab
disapa “Mba Kincir” oleh petambak menambahkan, saat ini petambak sudah cerdas
dalam hal memilih peralatan pendukung tambak khususnya kincir. Katanya, petambak
berani berinvestasi membeli kincir yang berkualitas meskipun harganya sedikit
mahal karena mereka berpikir jangka panjang dan kincir yang dipakai hemat
listrik sehingga dapat menekan menekan biaya listrik tiap bulan.

“Kincir SL dikenal
ketahannya, tidak rewel, dan tentunya biaya operasionalnya murah,” pungkas
Yani.

Lebih lanjut, Cartenius
menjelaskan, SL memiliki banyak jenis
kincir air yang menyesuaikan dengan sekmen dari petambak dengan
berbagai merk yang
berbeda, mulai dari SL Vaname, Neptune, Cakra, Garuda, dan Fortune.

Sedangkan untuk
jenis kincir, SL membagi jenisnya untuk
sekmen rendah biaya
produksi dan rendah
biaya investasi. Untuk jenis kincir dengan rendah biaya produksi, spare part
yang digunakan sudah
menggunakan part stainless steel serta part-part lain
yang memudahkan serta
mengefisienkan kinerja kincir
sehingga petambak tidak perlu
repot mengurus teknis
pengoperasian kincir tersebut.

Baca Juga:   Mengenal Ragam Alas Kolam dan Tambak

Selain itu,
kincir dengan rendah
biaya produksi ini juga
memiliki konsumsi listrik
yang cukup efisien
dengan tujuan dapat
menekan biaya produksi selama
masa budidaya sehingga petambak sudah tidak
perlu repot memikirkan teknis dari kincir tersebut
dan sekaligus dapat
menghemat pengeluaran untuk
penggunaan listrik selama
budidaya.

“Mengingat tidak semua petambak memiliki modal
awal yang cukup
besar dalam mempersiapkan teknis dalam tambak, sehingga dari sekmen inilah
SL menciptakan kincir
hemat untuk petambak, dengan catatan untuk spare part yang digunakan adalah
yang standard untuk
pengoperasian kincir di tambak,”                                                                        

Kisaran listrik
yang dikonsumsi oleh kincir SL bervariasi tergantung kelasnya, ada SL Vaname, SL Neptune, dan Cakra yang memiliki konsumsi
listrik paling hemat di kelasnya
yaitu kisaran 425 – 475
watt. Sedangkan untuk
Garuda dan Fortune
bisa mencapai 500 –
 550 watt.

Kincir dari
SL dibuat sekokoh mungkin dan minim perawatan,
kata Cartenius, mengingat daerah
Lampung Timur cukup jauh dari pusat
kota Lampung. “Maka
kami memberikan refrensi kepada para petambak
di daerah Lampung supaya menggunakan kincir yang minim
perawatan dan tahan lama dalam penggunaannya,”
terangnya.

Baca Juga:   Screw Press, Solusi Murah Cetak Pelet Ikan Apung

SL Vaname
dan Neptune adalah
merk kincir yang
banyak digunakan oleh petambak di Lampung Timur, mengingat konsumsi listrik yang sangat
hemat serta ketangguhan dari kincir tersebut, petambak tidak
perlu lagi disibukkan untuk perawatan dari kincir tersebut.

Mudah
Perawatan

Untuk perawatan, Cartenius memaparkan, kincir
dari SL selalu
membuat inovasi bagaimana supaya kincir yang digunakan sebisa mungkin minim
perawatan. Spare part yang
digunkan pada kincir
juga merupakan spare part yang mudah untuk
dibongkar pasang jika
seandainya pada masa
budidaya kincir memang perlu dilakukan perawatan atau servis
pada beberapa bagian
dari kincir.

Kemudian untuk
spare part juga,
tambah Cartenius, dijamin ketersediaan untuk produk semua produk kincir serta menjamin kemudahan akses kepada
seluruh petambak di Indonesia
dengan kehadiran 5 kantor cabang
yang terletak di Paiton, Banyuwangi, Tuban, Jogjakarta, serta Lampung.

“Hal ini kami lakukan
supaya petambak di seluruh Indonesia bisa lebih mudah dalam memenuhi kebutuhan
tambak mereka,” ujarnya.

Tips
Memilih Kincir

Untuk petambak pemula
yang pertama harus diperhatikan adalah ketersediaan dana. Pastikan dana bisa memenuhi jumlah kincir
yang diperlukan. Sedangkan untuk petambak yang
memang serius dalam
untuk terjun ke dunia
tambak, hal yang
perlu diperhatikan tentu
kualitas dari kincir
yang digunakan.

Pastikan kincir
yang digunakan memiliki spesifikasi yang baik sehingga pada masa budidaya, petambak tidak perlu
lagi kerepotan untuk perawatan kincir lagi. Spare part yang digunakan juga perlu diperhatikan ketersediaannya.

Hal lain
yang perlu diperhatikan adalah konsumsi listriknya, saat ini banyak petambak yang hanya berfokus pada investasi awal
dalam pemilihan kincir,
namun mereka lupa
akan konsumsi listrik yang
digunakan.

Bisa jadi
untuk investasi awal sedikit lebih
hemat namun saat
masa budidaya konsumsi listrik yang
diperlukan cukup tinggi
sehingga akan menambah
pengeluaran untuk biaya
listrik yang digunakan selama
masa budidaya. (Adit)

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.