MENTERI PERTANIAN SE-ASEAN BAHAS KERJA SAMA BIDANG KESWAN DI AMAF KE-43

MENTERI PERTANIAN SE-ASEAN BAHAS KERJA SAMA BIDANG KESWAN DI AMAF KE-43
Indonesia telah diakui keunggulannya di bidang kesehatan hewan. Hal ini terbukti dengan ditunjuknya Indonesia sebagai lead country untuk penyusunan Protocol for an Animal Vaccine Testing Network among ASEAN Reference Laboratories. Dokumen tersebut akan menjadi target kegiatan pada 2022. Selain itu, Indonesia juga dipercaya memimpin Regional Assessment Study on Newcastle Disease in ASEAN.
Direktur Kesehatan Hewan sebagai perwakilan delegasi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), menyampaikan bahwa Indonesia sudah memulai penilaian penyakit Newcastle Disease di ASEAN, meskipun masih ada tiga negara yang belum mengembalikan kuesioner ke Indonesia.
Sebelumnya, laboratorium pengujian mutu dan sertifikasi obat hewan Gunung Sindur (BBPMSOH) telah mendapatkan sertifikat re-akreditasi sebagai laboratorium referensi untuk pengujian vaksin hewan di ASEAN.
Terkait dengan hal itu, Ketua Delegasi Indonesia yang merupakan Sekjen Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, mengundang seluruh negara anggota ASEAN untuk dapat mengujikan vaksin hewan produksinya ke BBPMSOH.
Dihubungi terpisah, Dirjen PKH, Nasrullah, menyampaikan bahwa sertifikat re-akreditasi tersebut membuktikan kontribusi besar Indonesia dalam penjaminan kesehatan hewan di wilayah ASEAN.
“Kontribusi Indonesia untuk laboratorium referensi ini akan meningkatkan kepercayaan negara tujuan ekspor Indonesia dalam pemenuhan persyaratan kesehatan hewan dan keamanan pangan komoditas. Selain itu juga meningkatkan daya saing ekspor Indonesia”, kata Nasrullah melalui keterangan tertulisnya Kamis (28/10/2021).
Terdapat sembilan jenis pengujian vaksin hewan dari BBPMSOH yang telah diakui, yaitu Newcastle Disease (live), Newcastle Disease (inactivated), Marek’s Disease (live), Infectious Laryngotracheitis (live), Infectious Bronchitis (live), Infectious Bronchitis (inactivated), Egg Drop Syndrome ’76 (inactivated), Fowl Cholera (inactivated) dan Haemophilus paragallinarum (inactivated).
Dalam rangkaian pertemuan AMAF ke-43 yang dipimpin Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, FAO dan Australia menyampaikan komitmennya membantu ASEAN dalam rangka meningkatkan mekanisme regional dalam mencegah, mendeteksi dini dan tanggap penyakit hewan dan zoonosis yang berpotensi pandemi melalui Proyek Penguatan Mekanisme Kesehatan Hewan untuk ASEAN yang Tangguh (SMART-ASEAN).
“SMART-ASEAN akan meningkatkan mekanisme regional untuk mencegah, mendeteksi dini dan tanggap terhadap penyakit hewan dan zoonosis yang berpotensi pandemi. Hanya dengan koordinasi yang baik akan mampu mengatasi ancaman penyakit,” kata Mentan Syahrul.
Proyek ini selanjutnya akan mendukung ASEAN Coordinating Centre for Animal Health and Zoonosis (ACCAHZ) yang telah dibentuk oleh negara anggota ASEAN sebelumnya. Secara garis besar, Syahrul menekankan kerja sama dalam upaya pemulihan dampak pandemi di ASEAN.
“Berkat kerja keras masing-masing negara mengatasi tantangan tersebut, berbagai lembaga internasional memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi global dan kawasan ASEAN mulai menunjukkan tren pemulihan. Dengan dukungan sistem pangan yang resilien, diharapkan perkiraan tren positif tersebut dapat terealisasi dengan cepat,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *