PERLU KONSORSIUM PEMERINTAH, PENELITI DAN PELAKU USAHA UNTUK KEMBANGKAN GENETIK AYAM LOKAL
Home BlogIptekPERLU KONSORSIUM PEMERINTAH, PENELITI DAN PELAKU USAHA UNTUK KEMBANGKAN GENETIK AYAM LOKAL

PERLU KONSORSIUM PEMERINTAH, PENELITI DAN PELAKU USAHA UNTUK KEMBANGKAN GENETIK AYAM LOKAL

Untuk mengembangkan dan melanjutkan pengembangan sumberdaya genetik ayam lokal secara berkelanjutan, perlu segera dibentuk konsorsium yang terdiri dari akademisi, peneliti, pelaku usaha/praktisi, dan pemerintah yang secara profesional, terencana, dan terarah. Pemerintah dalam hal ini direktorat perbibitan sebagai leading sector dan regulator harus memulai gerakan bersama membangun pembibitan sumber daya genetik ayam lokal sebagai pelengkap dalam pemenuhan protein hewani unggas. Demikian catatan penting yang dibacakan oleh Prof Muladno di acara Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI) yang berlangsung di Swiss-Bellhotel, Intermark BSD City, Kamis 12 Desember 2019.

Para peserta FGD

FGD diselenggarakan ISPI antara lain untuk menyikapi berita di Bisnis Indonesia (18 November 2019 dan 2 Desember 2019) dan beberapa berita di media sosial tentang keberadaan GGPS broiler produksi lokal di Indonesia yang akan memproduksi GPS. Dalam berita tersebut disampaikan bahwa  Kementerian Pertanian tengah mempersiapkan program produksi bibit ayam Grand Parent Stock/GPS) broiler guna menekan importasi induk ayam potong. Program pengembangan ini telah berjalan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Jika dapat beroperasi secara konvensional, Kementan mengklaim ada efisiensi biaya mencapai Rp415 miliar.

FGD dihadiri oleh sekitar 70an orang dari kalangan pakar genetika dan pemuliaan ternak dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian, pelaku industri pembibitan unggas, pimpinan asosiasi perunggasan dan sejumlah tamu undangan. Tampak hadir Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Sugiono mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, mantan Ketua Umum GPPU Drh. Paulus Setiabudi dan Krissantono, Ketua Umum GPPU Achmad Dawami, Penasehat GPMT Drh.Sudirman, Ketua Umum Pinsar Indonesia yang juga anggota DPR Singgih Januratmoko, Senior ISPI Dr Rakhmat Pambudy serta sejumlah tokoh perunggasan lainnya

FGD dengan tema “Siapkah Indonesia Mandiri dalam Pembibitan Ayam Broiler?” dipandu oleh Prof Dr Muladno sebagai moderator dengan narasumber Prof Cece Sumantri (IPB), Prof Asep Anang (Fapet Unpad), serta Dominic Elfick dari Aviagen dan Mark Cooper dari Cobb Vantress USA.

Prof Cece menyampaikan materi tentang Teknologi Molekuler dalam Mendukung Pembibitan Ayam Broiler, Prof Asep Anang tentang Merancang Pembibitan Ayam Broiler di Indonesia, sedangkan Dominic dan Mark Cooper menyampaikan tentang modern broiler breeding berdasarkan pengalaman di perusahaan masing-masing.

Ketua Umum PB ISPI Didek Purwanto mengatakan acara FGD ini dimaksudkan untuk mendiskusikan secara terbuka tentang pembibitan ayam broiler. “Kami sengaja mengundang pakar-pakar genetika dan pemuliaan ternak untuk membahas tema ini yang selanjutnya akan menjadi masukan untuk pemerintah,” ujar Didiek.

Adapun Direktur Perbibitan dan produksi Ternak Sugiono menyampaikan terima kasih atas inisiatif PB ISPI untuk mengadakan FGD ini. Ia menampaikan usaha perunggasan menghadapi berbagai masalah dan sering terjadi polemik. “Kita ambil positifnya, bahwa situasi ini membuat kita bisa berkumpul dan berdiskusi untuk mencari solusi,” ujar  Sugiono yang mengikuti acara FGD ini hingga selesai.

Setelah 4 narasumber menyampaikan materinya, moderator memberikan kesempatan semua pakar untuk memberi tanggapan, dilanjutkan tanggapan dari kalangan pelaku usaha.

Resume FGD
Menurut Sekjen PB ISPI Joko Susilo, PB ISPI telah membentuk Tim Perumus yang saat ini sedang menyusun naskah resmi hasil FGD untuk disampaikan ke pihak terkait.  Adapun resume FGD yang dibacakan oleh moderator menurut catatan Infovet ada 9 poin yaitu sebagai berikut:

  1. Upaya penggunaan sumberdaya ayam lokal Indonesia sebagai sumber bibit yang diciptakan melalui cara-cara pemuliaan berdasarkah kaidah ilmiah yang benar, yang sudah dilakukan agar terus dilanjutkan dengan monitoring dan pengawasan yang sangat ketat serta berkelanjutan.
  2. Indonesia telah memiliki sumberdaya genetik ayam lokal sebanyak 33 rumpun, agar dioptimalkan potensinya sebagai fondasi pembentukan bibit galur murni untuk ayam pedaging. Saat ini  baru menghasilkan 9 rumpun yang dilakukan oleh perguruan tinggi, lembaga penelitian dan perusahaan swasta yang selama ini dilakukan secara sendiri-sendiri, harus lebih dioptimalkan melalui sinergi kolaborasi yang lebih baik antara akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha/praktisi.
  3. Semua pilar harus konsisten/istiqomah dengan profesionalitas masing-masing untuk memberikan yang terbaik bagi pengembangan sumberdaya genetik ayam lokal di Indonesia. Akademisi, peneliti berkontribusi dalam IPTEK dan penelitian; pelaku usaha berbisnis secara produktif dan efisien; dan pemerintah berkontribusi melahirkan regulasi yang kondusif bagi pengembangan bisnis perbibitan ayam lokal.
  4. Pengembangan sumberdaya genetik ayam lokal sebagai sumber bibit perlu diarahkan ke arah yang lebih spesifik, segmented, dan khas Indonesia dengan target pasar khusus, tanpa harus bersaing dengan sumber bibit komersial yang selama ini sudah ada, dan telah dikembangkan oleh principle selama berpuluh-puluh tahun melalui dukungan teknologi, seleksi genetik dan finansial yang sangat kuat, sehingga hampir tidak mungkin pengembangan ayam GGPS melalui ayam broiler yang telah beredar di Indonesia.
  5. Upaya peningkatan konsumsi protein unggas yang masih rendah, maka perlu pengembangan pembentukan galur ayam lokal (merujuk poin no 2) dilakukan secara berdampingan dengan industri broiler yang saat ini sudah berjalan untuk melengkapi kebutuhan protein hewani masyarakat.
  6. Akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha/praktisi perlu memperkuat sinergisitas untuk meningkatkan efisiensi produktivitas dalam menghasilkan inovasi berbasis sumberdaya genetik ayam lokal dan lingkungan spesifiknya.
  7. Informasi dan sampel sumberdaya genetik ayam lokal dalam berbagai bentuknya perlu dihimpun dan dikonsolidasikan secara nasional dalam database yang kuat untuk digunakan sebagai landasan dalam pengembangan iptek yang langsung dapat dimanfaatkan para akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha/praktisi
  8. Perlu segera dibentuk konsorsium yang terdiri dari akademisi, peneliti, pelaku usaha/praktisi, dan pemerintah yang secara profesional, terencana, dan terarah untuk mengembangkan dan melanjutkan pengembangan sumberdaya genetik ayam lokal secara berkelanjutan.
  9. Pemerintah dalam hal ini direktorat perbibitan sebagai leading sector dan regulator harus memulai gerakan bersama membangun pembibitan sumber daya genetik ayam lokal sebagai pelengkap dalam pemenuhan protein hewani unggas. ***

Baca Juga:   Peran Dokter Hewan Menggaung di Seminar One Day Scientific Expo

Narasumber : http://www.majalahinfovet.com

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.