SR Rendah Hantui Zona Kebangkitan Udang Windu di Sulawesi Selatan

Oleh
: Dr. Tarunamulia, ST., MSc. (Peneliti Madya BRPBAP3-Maros)

Pada
era tahun 1980-an hingga awal 1990, udang windu (Penaeus monodon) merupakan komoditas utama
air payau yang memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan pendapatan
asli daerah di Sulawesi Selatan. Sayangnya penurunan produksi terus dilaporkan
dari tahun-ke tahun.

Kini,
meskipun produksi total di Sulawesi Selatan masih mencapai 40.346 ton pada
tahun 2015, udang windu bukan lagi sebagai komponen utama. Pasalnya, telah
muncul budidaya udang vaname (Penaeus
vannamei
), udang introduksi dari Amerika Selatan yang dianggap memiliki
daya tahan lebih tinggi dari serangan penyakit.

Secara
nasional, keberadaan udang windu harus dipertahankan. Selain memiliki nilai
ekonomis, udang windu juga memiliki nilai ekologis penting karena merupakan
udang endemik dan pembentuk keragaman plasma nutfah Indonesia.

Di Sulawesi Selatan, terdapat
18 kabupaten/kota yang menghasilkan udang windu. Menurut data Dinas Perikanan dan Kelautan
Sulawesi Selatan tahun 2019, terdapat lima daerah
produksi terbesar, yaitu Pinrang, Pangkep, Wajo, Bone, dan Maros. Kabupaten
Pinrang terpilih sebagai salah satu lokasi prioritas untuk kebangkitan udang,
khususnya dari hasil budidaya.

Menurut Pemkab. Pinrang, hal tersebut
disebabkan produksi udang windu selalu meningkat dan produktivitasnya terus
bertahan.  Dari data Dinas Kelautan dan
Perikanan Kabupaten Pinrang tahun 2016 terlihat bahwa produksi
udang windu tersebut berasal dari lahan seluas 15.675 ha. Luasan lahan lahan
tersebut tersebar di lima kecamatan, yaitu Suppa (2.203 ha), Lasinrang (1.560
ha), Mattirosompe (4.131 ha), Cempa (2.341 ha), Duampanua (5.101 ha), dan
Lembang (339 ha).

Baca Juga:   Busmetik, Solusi Petambak Udang Skala Kecil

Rendahnya Tingkat SR

Anehnya, meskipun Duampanua dan Mattirosompe memiliki lahan yang lebih luas, produksi udang windu terbesar berdasarkan
luas lahan justru berada di Kecamatan Suppa. Di Suppa, produksi rata-rata setiap
hektar lahan sebesar 0,30 ton/hektar/tahun.

Sementara itu, berdasarkan data DKP Kabupaten Pinrang tahun 2016,
produksi udang windu di Kecamatan Duampanua 0,15 ton/hektar/tahun dan Mattirosompe 0,19 ton/ha/tahun dengan kisaran survival rate (SR) atau tingkat
kelangsungan hidup rata-rata hanya 15—17%. Dengan asumsi, jumlah
tebar dalam satu tahun sebanyak 40.000 ekor per hektar dan ukuran panen rata-rata 35 ekor/kg.

Selain menjadi indikator
produksi, nilai
SR juga dapat
merefleksi dengan baik upaya atau tingkat pencegahan penyakit dalam kegiatan
budidaya. Hal tersebut disebabkan SR sangat tergantung pada faktor-faktor yang
berpengaruh pada pengelolaan budidaya seperti kualitas air, pakan, ukuran tambak, padat tebar, dan pengelolaan sedimen dasar.

Sebagai acuan, lembaga sertifikasi independen seperti Aquaculture
Stewardship Council
 (ASC) mensyaratkan SR lebih dari 25%
untuk tambak yang dikelola secara tradisional, yaitu tanpa diberi pakan dan
bantuan aerasi. Hasil penelitian tahun 2007—2011 menunjukkan
bahwa nilai SR udang windu dengan sistem budidaya tambak tradisional di
Kabupaten Pinrang cukup rendah, yaitu di bawah 25% dengan kisaran 7,27—19,13%.

Secara umum, rendahnya nilai SR udang
windu dalam dua dekade terakhir di Kabupaten Pinrang diduga akibat faktor
lingkungan dan pola pengelolaan yang mengabaikan prinsip-prinsip budidaya yang
bertangung jawab. Pada umumnya, lahan
tambak yang ada dibangun tanpa mempertimbangkan kesesuaian lokasi. Pola tanam terganggu karena adanya perubahan
iklim seperti terjadinya kekeringan yang panjang
akibat fenomena iklim El Nino atau—sebaliknya—banjir pada saat puncak musim
hujan. 

Baca Juga:   Manfaatkan Biofilter pada Tambak Sistem Resirkulasi

Selama ini, sebagian wilayah juga masih
menggunakan bibit udang dengan kualitas rendah. Rendahnya nilai SR udang windu pada beberapa
waktu terakhir—terutama—akibat serangan penyakit white spot syndrome virus (WSSV)
dan  Vibrio harveyi.

Nilai SR di atas 25% hanya dilaporkan
pada kluster-kluster tambak tertentu di Kecamatan Suppa dan tambak sistem
monokultur setelah mengaplikasikan pakan hidup alam phronima suppa dengan
kisaran SR 33,94—61,54%.  Menurut
penelitian Majid pada tahun 2016, nilai SR pada tambak yang sama tanpa aplikasi
phronima suppa rata-rata hanya 17,20%. 

Mengembalikan
Kejayaan Udang Windu

Berdasarkan penelitian Rangka, Madeali,
dan Mangampa pada periode 2011—2012, aplikasi probiotik RICA hasil riset Balai
Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyululuhan Perikanan (BRPBAP3) di kawasan
tambak yang berdekatan dengan  lokasi uji
coba phronima juga mampu meningkatkan SR, dari rata-rata 7,27% menjadi 14,88%.

Bakteri probiotik diyakini mempunyai kemampuan menekan
jumlah bakteri Vibrio spp, kandungan total
ammonium nitrogen (TAN), dan nitrit-nitrogen air tambak.  Hal ini memberikan harapan baru bahwa nilai
SR udang windu masih dapat ditingkatkan jika dilakukan inovasi dan pengelolaan
lahan budidaya yang tepat.

Untuk mengembalikan
kejayaan udang windu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama
dengan pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti WWF (World
Wildlife Fund
) terus mendorong penerapan prinsip-prinsip pengelolaan
akuakultur  berkelanjutan (sustainable aquaculture). Aplikasinya
antara lain melalui cara budidaya ikan yang baik (CBIB) dan akuakultur  berbasis ekosistem (Ecosystem Approach to
Aquaculture
—EAA). Secara lokal, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memprakarsai “Gerakan Kebangkitan
Udang” sejak tahun 2008.

Baca Juga:   Potensi Udang Vaname Di Jabar

Salah satu kegiatan untuk mendukung pengelolaan
akuakultur berkelanjutan antara lain dibangunnya broodstock center khusus udang windu di
BBPBAP Jepara dan BPBAP Takalar. Kegiatan ini bertujuan menghasilkan
induk-induk unggul dan SPF (Spesific Pathogen Free).
Berdasarkan informasi dari Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi
Selatan, pada tahun 2019 direncanakan kegiatan pembagian sekitar 40 juta
benih udang windu pada 24 Kab/Kota di Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Dr.
Ir Slamet Soebjakto.
M.Si menyatakan bahwa induk dan benih yang bebas penyakit menjadi syarat mutlak
bagi keberhasilan budidaya udang windu. Di Kabupaten Pinrang,  Dinas Perikanan dan WWF—dengan menggandeng PT.
Bomar sebagai eksportir udang windu—telah menginisiasi percontohan yang
diharapkan bakal menjadi rujukan bagi penerapan EAA di seluruh Indonesia.

Sejak pertengahan 2013, WWF-Indonesia telah melibatkan diri
dalam program perbaikan budidaya (Aquaculture Improvement Program—AIP)
udang windu di Kabupaten Pinrang dengan melakukan koordinasi secara intensif
dengan para tokoh budidaya udang di Kecamatan.

Pada bulan Februari 2019, bertempat di
Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, PT. Atina (Alter Trade Indonesia)—perusahaan
yang bergerak di bidang produksi dan pengolahan udang beku—bekerjasama dengan Asian Seafood Improvement Collaborative
(ASIC). Kolaborasi regional yang sedang berkembang antara pemangku kepentingan
sektor swasta dari Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam yaitu mengadakan
sosialisasi budidaya udang windu berkelanjutan dengan membandingkan standar
ASIC, CBIB, dan Ecoshrimp. (Ed: Rch)

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.