Teknologi Jaring UHMWPE Sekuat Baja

Jaring UHMWPE Aquatec

Budidaya ikan bebas predator dengan jaring UHMWPE tanpa simpul

Budidaya ikan atau
akuakultur adalah industri yang berkembang dengan cepat di Indonesia. Hingga
tahun 2016, tercatat oleh FAO bahwa Indonesia telah mampu memproduksi 5 juta
ton ikan (tidak termasuk rumput laut) yang mencakup berbagai macam spesies ikan
air laut, tawar, maupun payau.

Budidaya ikan di dalam
keramba jaring apung (KJA) HDPE adalah salah satu cara yang paling konsisten
untuk memproduksi ikan dalam jumlah besar. KJA HDPE yang tahan ombak dan ramah
lingkungan adalah kunci dari praktek budidaya ikan yang berkelanjutan dan
menguntungkan. Hanya saja, aspek yang tidak kalah pentingnya dari menggunakan
KJA HDPE adalah penggunaan jaring yang tepat pada keramba.

General Manager PT Gani
Arta Dwitunggal, Andi Jayaprawira mengatakan,
budidaya ikan tidak bisa menggunakan jaring atau net yang sama dengan jaring
tangkap. Jaring tangkap, memiliki tonjolan-tonjolan simpul (knotted) yang besar dan sangat kasar sehingga beresiko tinggi
menimbulkan luka pada ikan.

Luka ini dapat
menimbulkan cacat berupa baretan pada sisik ikan, dan dapat menimbulkan infeksi
yang dapat meningkatkan mortality rate,
sehingga penggunaan jaring bersimpul sangat tidak disarankan.

Oleh karenanya, kata
Andi, pembudidaya ikan sangat disarankan menggunakan jaring tanpa simpul (knotless) yang berpermukaan halus.
Jaring tanpa simpul tidak menimbulkan luka pada sisik ikan sehingga dapat
menekan mortality rate, juga
meningkatkan nilai jual ikan dikarenakan ikan memiliki sisik yang sempurna.

Baca Juga:   Penerapan Keramba Jaring Apung dalam Budidaya

Di pasaran, jaring
tanpa simpul tersedia dalam bermacam-macam bahan, mulai dari HDPE, metal,
hingga UHMWPE. Kategori pertama, yaitu jaring HDPE tanpa simpul memiliki
konstruksi yang ringan dan fleksibel, sehingga mudah untuk dioperasikan, dengan
harga yang terjangkau.

Jaring ini tersedia
secara luas di pasaran dan telah diproduksi di dalam negeri oleh perusahaan
penyedia alat sarana dan prasaranan perikanan budidaya dalam negeri PT. Gani
Arta Dwitunggal dengan merk Aquatec. Kategori kedua, yaitu jaring metal,
memiliki kontsruksi yang berat dan kaku, namun umumnya dipakai dengan tujuan
untuk menghalau predator.

Kategori ketiga, yaitu
jaring UHMWPE tanpa simpul, merupakan inovasi jaring budidaya ikan baru yang
mulai populer. Namun, apa itu UHMWPE? UHMWPE adalah singkatan dari Ultra High Molecular Weight Polyethylene,
yaitu material yang memiliki kekuatan tarikan (tensile strength) lebih kuat daripada baja, akan tetapi ringan dan
fleksibel. Oleh karena kekuatannya, bahan UHMWPE telah dipakai dalam beberapa
industri berat menggantikan rantai baja dan seling baja.

Jaring UHMWPE tanpa
simpul adalah jaring budidaya yang dibuat menggunakan material tersebut,
sehingga tiap pilar jaring memiliki kekuatan setara dengan kawat baja berukuran
sama. Oleh karena tiap pilar memiliki kekuatan setara kawat baja, maka satu
bentang jaring UHMWPE tanpa simpul sangatlah kuat dan mampu benahan beban
hingga beberapa ton.

Baca Juga:   Mengenal Ragam Jenis Keramba Jaring Apung (KJA)

Bebas
Predator

Selain dari kekuatan
tarikan, Andi memaparkan, bahan UHMWPE juga sangat sulit untuk dipotong dan
tahan korosi. Jaring UHMWPE tanpa simpul dipakai untuk melindungi ikan dari
predator di laut maupun air tawar dan terbukti mampu menghadapi serangan
berbagai predator seperti ikan barracuda, ikan buntal, ikan bawal, kepiting,
penyu, dan berbagai predator lainnya hingga hiu berukuran tertentu. Dengan
demikian, ikan budidaya aman hingga masa panen sekalipun KJA dipasang di area
yang memiliki populasi predator tinggi.

Indonesia sebagai
negara maritim memang memiliki populasi predator laut yang tinggi, yang apabila
tidak diantisipasi dapat mengganggu usaha budidaya ikan di laut (marikultur).
Padahal, potensi ekonomi budidaya ikan laut sangat tinggi dikarenakan nilai
komoditasnya lebih tinggi dari nilai komoditas ikan air tawar, sehingga jaring
budidaya anti predator ini sangat dibutuhkan.

Mengenai ketahanan
dalam menghadapi predator, jaring budidaya UHMWPE dapat dibandingkan dengan
jaring dari bahan metal. Dari segi harga, jaring budidaya UHMWPE memiliki harga
jauh lebih ekonomis dari jaring berbahan metal, sehingga merupakan pilihan yang
lebih baik dan terjangkau untuk pembudidaya ikan.

Baca Juga:   Budidaya Krustasea, Lebih produktif dengan Apartemen

Selain itu, tidak
seperti jaring metal, jaring budidaya UHMWPE yang ringan dan tidak kaku
membuatnya mudah dipasang di lapangan dan mudah untuk diangkat ke permukaan
pada saat pembersihan jaring dan panen.

“Jaring budidaya UHMWPE
tanpa simpul PT Gani Arta Dwitunggal sudah digunakan oleh beberapa perusahaan
di Bali untuk memelihara ikan kakap putih dan menghalau predator berupa ikan
barracuda dan hiu,” ujar Andi.

Andi menuturkan, sepanjang
masa pemakaian, tidak ada satupun jaring yang mengalami robek bahkan setelah
digigit oleh hiu berukuran sedang. Permukaan tanpa simpul yang halus
menghasilkan ikan kakap putih dengan sisik yang sempurna, dan tercatat memiliki
mortality rate rendah dan survival rate yang tinggi. Ikan kakap
putih tersebut kemudian diekspor ke Australia dan Amerika Serikat.

Jaring budidaya UHMWPE
tanpa simpul umumnya memiliki harga 2-2,5 kali dari harga jaring budidaya HDPE
tanpa simpul, dengan umur pakai mencapai 10 tahun di laut dan mencapai 15 tahun
di air tawar dengan perawatan teratur.

Melihat dari manfaatnya dalam mencegah predator, kemudahan pemakaian, dan umur pakai yang tinggi, jaring budidaya UHMWPE tanpa simpul diprediksi akan menempati pasaran yang unik dalam industri budidaya ikan di Indonesia sebagai solusi terbaik budidaya ikan bebas predator. (Adit)

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.