WEBINAR NASIONAL: GIZI AYAM DAN TELUR TINGKATKAN IMUNITAS DAN KESEHATAN TUBUH

WEBINAR NASIONAL: GIZI AYAM DAN TELUR TINGKATKAN IMUNITAS DAN KESEHATAN TUBUH
Kegiatan webinar ini mendapat apresiasi penuh dari Ketua Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat, Atalia Praratya Kamil, yang merupakan istri dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.
“Saya sangat apresiasi sekali kepada penyelenggara dan semua pihak terkait dalam kegiatan ini. Saya harap ibu-ibu PKK terus membantu menyebarkan pentingnya konsumsi ayam dan telur bagi keluarga untuk meningkatkan konsumsi protein hewani,” kata Atalia dalam sambutannya. Daging dan telur ayam merupakan protein hewani paling murah dibanding protein hewani lainnya.
Kendati demikian, saat ini masih banyak isu-isu negatif mengenai ayam dan telur yang beredar di masyarakat. Seperti isu pemberian hormon pada daging broiler, kolesterol pada telur, penyebab bisul, hingga alergi yang membuat masyarakat takut. Ketidaktahuan informasi akan manfaat ayam dan telur membuat konsumsinya di Indonesia rendah dibanding negara ASEAN lainnya.
Hal itu seperti disampaikan Dewan Penasehat Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Drh Rakhmat Nuriyanto MBA, yang menjadi narasumber. Ia menjelaskan, konsumsi telur di Indonesia baru 150 butir/kapita/tahun dan konsumsi daging ayam hanya 15 kg/kapita/tahun, sementara Malaysia sudah mencapai sekitar 300an butir/kapita/tahun dan daging ayam 33 kg/kapita/tahun.
“Produksi ayam dan telur itu tanpa penyuntikan hormon, tidak ada penelitian/rekomendasi penggunaan hormon pada ayam, pemerintah Indonesia juga melarang penggunaan hormon pertumbuhan. Ayam cepat besar itu karena dilakukan seleksi genetik, perbaikan teknologi pakan, pemeliharaan dan obat,” jelas Rakhmat.
Sementara untuk alergi, lanjut Rakhmat, hanya 1,5% orang dewasa dan 6% anak-anak alergi terhadap satu/berbagai bahan makanan. Untuk kejadian alergi pada telur memang ada, namun sedikit sekali, sementara alergi pada daging ayam sama sekali tidak ada.
“Beberapa isu-isu itulah yang sering disalahpahami oleh masyarakat. Padahal kedua pangan hewani tersebut masih menjadi pedoman gizi seimbang di banyak negara. Negara-negara yang konsumsi protein hewaninya tinggi memiliki angka usia harapan hidup yang lebih baik,” ungkap dia.
Mengenai gizi ayam dan telur juga disampaikan oleh Praktisi Kesehatan Anak, dr Triza Arif Santosa SpA. Ia memaparkan zat gizi dan mikronutrien yang terkandung dalam ayam dan telur, diantaranya Lutein, Xantin pada telur (fungsi pengelihatan, mencegah katarak dan kebutaan), Kolin, asam lemak Omega 3 pada telur (fungsi kecerdasan, mencegah demensia), kandungan vitamin A, D dan E, kemudian vitamin B komplek, zat besi dan zink pada daging ayam, memiliki komponen bioaktif/peptida protein (pada unggas) diantaranya Karnosin, Anserin, L-Karnitin, sebagai antioksidan melawan radikal bebas dan anti-stres/kelelahan, serta mengandung selenium antioksidan.
“Kalau kita bicara ayam dan telur ini merupakan protein dengan asam amino lengkap dan paling murah dibanding protein hewani lainnya. Untuk ibu hamil dan menyusui sangat dianjurkan sekali guna menunjang kesehatan bayinya,” kata Triza.
Lebih lanjut dijelaskan, kandungan lemak dan protein dalam 100 gram daging ayam memiliki lemak total (14 gram), lemak jenuh (3,8 gram), protein (27 gram), sedangkan per 100 gram telur memiliki lemak total (11 gram), lemak jenuh (3,3 gram) dan protein (13 gram).
“Yang sering dikhawatirkan adalah kandungan lemaknya, penyebab kolesterol, padahal lemak ini kan ada yang baik dan buruk bagi tubuh. Jadi tak usah khawatir konsumsi daging dan telur ayam, kandungan lemak jenuhnya sedikit. Oleh karena itu, konsumsi dua butir telur sehari masih sangat dianjurkan,” ucap dia. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah proses pengolahan/pencampuran/pemasakan daging dan telur ayam agar kandungan lemaknya tidak meningkat dan proteinnya tetap tinggi.
Pembicara (dari atas kiri): Rakhmat Nuriyanto, Triza Arif Santosa dan Jafar Ismail. (Foto: Infovet/Ridwan)
Kegiatan yang dihadiri sebanyak 500 orang peserta ini juga menghadirkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Ir H. Jafar Ismail MM, yang membahas mengenai penyediaan protein hewani asal unggas di Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *