Dorong Saham Emiten Unggas Mulai Bangkit

Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/1/2020). Pada awal perdagangan pertama tahun 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka naik 0,22 persen atau 13,59 poin di level 6.313,13. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

Emma A. Fauni, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan kinerja emiten unggas masih dibayangi oleh lesunya harga ayam broiler. Namun, instruksi pemusnahan 13 juta final stock per minggu dan distribusi 15 juta FS per minggu untuk CSR akan mempengaruhi pasokan pada Februari dan mengangkat harga broiler.

“Kami mempertahankan rekomendasi overweight terhadap sektor unggas karena ada potensi mild recovery setelah lesu pada 2019,” tulisnya dalam riset, baru-baru ini.

Mirae Asset Sekuritas menilai PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Akan menikmati perbaikan margin. Pasalnya, PT Japfa Comfeed Indonesia memiliki eksposur yang paling besar dari segmen broiler.

Sementara itu, saham PT Malindo Feedmill Tbk. Direkomendasikan buy dengan target harga Rp1.260. Namun, proyeksi labanya diturunkan menjadi Rp256 miliar pada 2019 dan Rp307 miliar pada 2020.

Baca Juga:   BOSCHVELD, RAS AYAM KARYA MIKE BOSCH DARI AFRIKA SELATAN

Head of Capital Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan emiten—emiten perunggasan atau poultry akan diuntungkan dengan penguatan rupiah. Pasalnya, pakan ternak sebagai salah satu segmen penjualan menggunakan bahan baku impor, yakni soybean meal atau bungkil kedelai.

“Komponen pakan ternak itu mayoritasnya menggunakan bahan baku impor. Jadi penguatan rupiah bisa menekan biaya produksi mereka. Kami berekspektasi rupiah akan tetap bertahan,” katanya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Selain itu, Wawan menambahkan pengurangan biaya pada bahan baku impor bisa mensubsidi harga jagung dalam negeri yang mulai merangkak naik. Dengan begitu beban pokok perseroan tidak akan melonjak signifikan.

Adapun sentimen negatif yang membayangi laju saham emiten poultry, ialah penurunan rupiah, isu tentang flu burung serta pelemahan konsumsi masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi dapat berpengaruh terhadap konsumsi masyarakat. Tahun lalu trennya turun kalau ini berlanjut bisa menekan laju saham,” katanya.

Wawan memilih PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan PT Malindo Feedmil Tbk. (MAIN) sebagai pilihan utama. Adapun target harga bagi keduanya adalah Rp8.000 per saham dan Rp1.200 per saham.

Baca Juga:   Evaluasi dan Prediksi | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan

Sementara itu, Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta mengatakan kebijakan pengafkiran unggas yang dilancarkan oleh Kementerian Pertanian dapat berdampak signifikan. Menurutnya, hal itu bisa mengerek harga unggas dalam negeri.

“Penguatan rupiah pun bisa mendorong kinerja perseroan. Saya targetkan CPIN bisa Rp7.950 per saham, MAIN Rp1.085 per saham dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) ke Rp1.910 per saham,” katanya.

Kinerja Saham Emiten Unggas
Periode CPIN JPFA MAIN
2017 -1.17% -7.81% -41.11%
2018 144.55% 75.05% 91.26%
2019 -7.86% -26.52% -26.49%
Ytd per 17 Januari 2020 13.46% 11.40% 0%
Harga Saham per 17 Januari 2020 Rp7.375 Rp1.710 Rp1.005

Sumber: https://market.bisnis.com

Similar Posts:

Baca Juga:   PT Bayer Indonesia secara resmi melepaskan kontrainer ekspor ke-3.000 unit untuk tujuan pasar Eropa

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.