Skip to content

–

Menu
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI
Menu

Kiat Sukses Benihkan Si Tangan Panjang GI Macro II

Posted on

Sukses lewati proses seleksi, udang galah GI Macro II besutan Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi siap genjot produksi udang galah nasional.

 

GI Macro II merupakan versi pemuliaan dari versi pendahulunya, GI Macro, yang telah dilepas ke masyarakat pada tahun 2001. Status bebas virus MrNV ditambah perbaikan kualitas genetik dengan empat strain georafis sebagai sumber material genetik menambah nilai keunggulan udang bongsor bertangan panjang yang dilepaskan melalui SK MENKP No. 23 Tahun 2014 ini.

Seiring munculnya terobosan sistem UGADI (Udang Galah Bersama Padi) dan digalakkannya sistem tersebut oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), permintaan benih udang galah unggul ikut meningkat. Oleh sebab itu, pengadaan benih unggul menjadi sebuah keharusan.

 

Menurut Hary Krettiawan, S.Si, M.Si dari Balai Penelitian Pemulian Ikan (BPPI) Sukamandi,  pengetahuan tentang biologi dan siklus hidup udang galah untuk keberhasilan operasional panti benih (hatchery) sangat diperlukan. Kurangnya pengetahuan tentang hal ini tidak hanya menyebabkan kesulitan bagi kelancaran usaha yang berpengaruh pada keberhasilan bisnis, tetapi juga dapat merusak industri akuakultur di wilayah tersebut. Selain menyediakan kondisi lingkungan yang sesuai untuk udang galah, teknisi atau operator juga perlu memahami teknik pemijahan. Dengan begitu, induk bisa menghasilkan benih yang sehat dan siap untuk dibesarkan.

Persiapan induk

Induk yang digunakan dalam operasional hatchery haruslah induk unggul. Induk unggul merupakan induk hasil penelitian pemuliaan. Ketersediaan induk betina bertelur merupakan faktor penting dalam manajemen hatchery.

Untuk memastikan jumlah betina bertelur cukup tersedia pada satu waktu dengan telur yang siap menetas pada waktu yang sama, sejumlah induk betina harus dipertahankan. Sekira 500 sampai 1.000 ekor udang jantan dan betina harus disimpan sebagai induk untuk memastikan bahwa pada saatnya ada 15—20 betina bertelur dengan warna telur yang seragam.

Jumlah kebutuhan larva disesuaikan dengan kebutuhan PL, dengan penyisihan kematian larva yang khas dalam budidaya. Sebagai panduan kasar, 1 gram berat betina bertelur menghasilkan 500—1.000 larva. Betina bertelur berukuran panjang total 10—12 cm biasanya membawa sekitar 10.000—30.000 telur.

Jika ingin menyiapkan induk sendiri, persiapan dilakukan dengan pemeliharaan udang galah tokolan di kolam, dimulai dengan padat tebar awal 10—20 tokolan/m2. Setelah dewasa atau 3—6 bulan pemeliharan, calon induk diseleksi dengan memilih performa terbaik berdasarkan bobot atau panjang tubuh. Selanjutnya, calon induk dipelihara selama 1—2 bulan di kolam induk.

 

Penebaran induk

Calon induk ditebar ke dalam kolam induk dengan kepadatan 2—5 ekor/m2, dengan perbandingan jantan  dan betina 1 : 3. Padat tebar dibuat rendah untuk mengurangi stres akibat kepadatan dan meningkatkan peluang udang mendapat pakan.

Induk, udang dipilih yang paling aktif. Untuk induk jantan, mayoritas yang dipilih harus BC (Blue Claw, Capit Biru), meskipun beberapa ekor OC (Orange Claw, Capit Oranye) bisa dipilih untuk memastikan berlangsungnya repoduksi secara aktif. Sementara induk betina dipilih yang besar dengan asumsi pertumbuhannya cepat.

Selama di kolam induk, udang galah diberi pakan dengan kandungan protein kasar lebih dari 30% untuk memacu perkembangan telur dan kualitas kuning telurnya baik. Induk diberi pakan setiap hari minimal 2 kali dengan porsi pakan lebih banyak pada sore atau malam hari. Jika pakan pellet tidak tersedia, berbagai pakan hewani dapat digunakan seperti cumi maupun keong.

Setelah 1—2 bulan pemeliharaan, beberapa induk betina biasanya sudah menggendong telur. Pada saat itu, induk betina ‘gendong telur’ tersebut sebaiknya dipindahkan ke bak atau tangki penetasan. Namun, tidak semua induk gendong telur yang ditetaskan. Pilih induk dengan warna telur yang seragam.

Warna telur akan mengalami perubahan dari oranye terang menjadi kecokelatan dan abu-abu. Betina dengan telur berwarna keabu-abuan lebih disarankan karena akan menetas dalam waktu 3—7 hari. Sementara telur berwarna oranye memerlukan waktu inkubasi lebih lama, yaitu 14—20 hari.

“Pemeliharaan  larva diharapkan dari usia yang sama. Pemeliharaan larva dari berbagai usia akan menimbulkan masalah, misalnya perbedaan ukuran yang mencolok, terutama pada saat kemunculan PL yang tidak seragam,” terang Hary.

Selanjutnya baca di majalah Info Akuakultur

Post Terkait:

  • Besarkan Benih Udang Galah Sistem Ugadi Kini, sawah tak lagi sekadar hasilkan padi. Dengan Ugadi, tebar benih udang galah di 1.000 m persegi luas sawah hasilkan 1,52 kwintal udang galah siap…
  • Benih Mustika Tahan Bencana Ingat bencana Koi Herves Virus (KHV) yang menyerang dunia budidaya ikan mas tahun 2002? Pendatang baru besutan BPPI Sukamandi ini siap menerima tantangan!   Selain…
  • Pengangkutan Benih Ikan Sistem Basah-Tertutup Pengangkutan benih ikan sistem basah antarpulau bukan lagi kendala. Beragam sistem transportasi bisa dijadikan pilihan. Salah satunya sistem basah-tertutup. Saat ini, pengangkutan benih ikan antar…
  • Resirkulasi, Tingkatkan Produksi Massal Benih Kakap Putih Dengan resirkulasi, BPBL Batam mampu meningkatkan tingkat kelulusan hidup larva kakap putih hingga 30%. Kakap putih merupakan salah satu hasil perikanan dengan permintaan pasar global…
  • Kiat Agar Benih Tumbuh Pesat dan Sehat Dalam budidaya ikan, kualitas benih mempengaruhi hasil segmen usaha budidaya pembesaran. Untuk hasilkan benih berkualitas, ada hal-hal yang harus diperhatikan. Benih ikan merupakan anak ikan…
  • Nusantara 1, Vaname Unggul dari Situbondo Bisa jadi, tak banyak pembudidaya tahu bahwa Indonesia, khususnya Situbondo, telah berhasil memproduksi indukan udang vaname unggul. Hatchery pun tak perlu lagi tergantung pada indukan…
  • Tekan Biaya Produksi dengan 10 langkah Sistem Tambak Nurseri Percobaan membuktikan, sistem nurseri pada skala komersial di Asia menghasilkan penurunan biaya produksi antara 15-30% dibandingkan dengan proses budidaya biasa. Tidak hanya itu, dengan dikuranginya…
  • Pembenihan dan Pembesaran Patin di Pekarangan Dikeluarkannya kebijakan pembatasan kuota impor ikan membuat ikan patin menjadi salah satu ikan dalam negeri yang menjadi tumpuhan kebutuhan pasar lokal. Selain menjadi komoditas konsumsi,…
  • Cermat dan Tepat Aklimatisasi Benih Aklimatisasi diperlukan benih ikan untuk beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Aklimatisasi benih dilakukan sebelum tebar untuk mengurangi tingkat kematian. Proses aklimatisasi seperti telah disebutkan di…
  • Untuk Benih yang Berkualitas, Sertifikasi CPIB Perlu! Merebaknya wabah TiLV di sejumlah negara membuat segmen pembenihan mendapatkan sorotan. Terlebih dalam urusan impor benih dan induk tilapia dari wilayah yang terkena wabah. Nama…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DATA BISNIS PETERNAKAN

Artikel Terbaru

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

KALENDER

July 2026
MTWTFSS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031 
« May    

ARTIKEL TERBARU

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

ARTIKEL TERKAIT

  • Besarkan Benih Udang Galah Sistem Ugadi by Agribisnis Kini, sawah tak lagi sekadar hasilkan padi. Dengan Ugadi, tebar benih udang galah di 1.000 m persegi luas sawah hasilkan 1,52 kwintal udang galah siap…
  • Benih Mustika Tahan Bencana by Agribisnis Ingat bencana Koi Herves Virus (KHV) yang menyerang dunia budidaya ikan mas tahun 2002? Pendatang baru besutan BPPI Sukamandi ini siap menerima tantangan!   Selain…
  • Pengangkutan Benih Ikan Sistem Basah-Tertutup by Agribisnis Pengangkutan benih ikan sistem basah antarpulau bukan lagi kendala. Beragam sistem transportasi bisa dijadikan pilihan. Salah satunya sistem basah-tertutup. Saat ini, pengangkutan benih ikan antar…
  • Resirkulasi, Tingkatkan Produksi Massal Benih Kakap Putih by Agribisnis Dengan resirkulasi, BPBL Batam mampu meningkatkan tingkat kelulusan hidup larva kakap putih hingga 30%. Kakap putih merupakan salah satu hasil perikanan dengan permintaan pasar global…
  • Kiat Agar Benih Tumbuh Pesat dan Sehat by Agribisnis Dalam budidaya ikan, kualitas benih mempengaruhi hasil segmen usaha budidaya pembesaran. Untuk hasilkan benih berkualitas, ada hal-hal yang harus diperhatikan. Benih ikan merupakan anak ikan…

  • 1,202,768
  • 606,612
©2026 – | Design: Newspaperly WordPress Theme
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI