MENGUPAS TITIK KRITIS MONITORING PERFORMA BROILER MODERN

MENGUPAS TITIK KRITIS MONITORING PERFORMA BROILER MODERN
 
Webinar dilaksanakan dalam rangka peluncuran buku karya Eko Prasetio berjudul “Manajemen Kesehatan Broiler Modern” yang merupakan kumpulan artikel miliknya yang dimuat dalam Majalah Infovet. Buku tersebut terbit atas kerja sama dengan GITA Pustaka.

Dihadiri sekitar 95 peserta, Eko membahas secara mendalam bagaimana perkembangan broiler modern, regulasi pemerintah terkait pelarangan antibiotic growth promoter (AGP) dan titik kritis parameter performa broiler modern.

“Perkembangan broiler ini sangat tinggi dari waktu ke waktu, kenaikan produksi dagingnya sangat signifikan, sehingga menjadi bisnis yang eye catching di Asia. Saat ini pun manajemen perunggasan semakin lebih baik tiap tahunnya,” kata Eko mengawali pemaparannya.

Kendati demikian, tantangan terhadap bisnis perunggasan juga ikut meningkat, apalagi disaat kondisi pandemi COVID-19 ini.

“Kondisi pandemi membuat bisnis perunggasan terdampak menurun. Kemudian pasca pelarangan AGP juga menjadi dampak tersendiri, yang dibalik itu menuntut peternak lebih jeli dalam pemeliharaan unggas,” ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, dua tahun sejak AGP dilarang, tekanan dalam pemeliharaan unggas cukup meningkat. Kemunculan agen patogen seperti Nektorik Enteritis dan Koksidiosis cukup merepotkan peternak, selain agen infeksius lain seperti MycoplasmaChronic Respiratory DiseaseReovirusAdenovirus dan lain sebagainya.

“Kita perlu montoring lebih rinci untuk memperkecil risiko serangan agen patogen. Monitoring parameter performa ayam ini menjadi sistem peringatan dini atau early warning system bagi para peternak,” ucap Eko.

Ia mengemukakan, monitor awal bisa dilakukan saat kedatangan DOC (day old chick), dengan mengevaluasi beberapa parameter, diantaranya rata-rata berat badan, keseragaman, suhu tubuh saat datang dan enam jam pasca tebar. Hal ini sekaligus untuk melihat bagaimana kualitas brooding yang diterapkan.

“Kemudian lakukan evaluasi di 24 jam pertama. Ini menjadi titik kunci pemeliharaan. Ada lima parameter yang perlu diperhatikan, yakni feed intake, suhu (°C), suhu kaki dan kepala, keterisian tembolok dan water intake. Misal apabila dilihat water intake-nya tinggi namun feed intake-nya rendah, kemungkinan ayam kepanasan, begitu sebaliknya. Jadi ada yang perlu dievaluasi juga dari penerapan brooding-nya. Jika semua parameter tadi baik, maka pemeliharaan di 24 jam pertama sudah tercapai,” jelas dia.

Langkah berikutnya, lanjut Eko, evaluasi minggu pertama mutlak harus dilakukan. Karena ini merupakan pondasi awal perkembangan tubuh unggas. Parameter berat rata-rata, feed conversion, keseragaman (tidak boleh turun dari 4%), total deplesi dan relative growth (RG) menjadi perhatian utama.

Ia mencontohkan pentingnya data RG. Data tersebut memberi manfaat untuk mengevaluasi tata laksana pemeliharaan pada saat penerimaan DOC sampai umur tujuh hari. Kemudian untuk mengevaluasi strategi pemeliharaan fase berikutnya, seperti penggunaan pemanas, pelebaran area brooding, ventilasi, manajemen sekam dan lain sebagainya, hingga berguna untuk perencanaan panen.

“Semua hal tersebut menjadi trigger kita untuk lebih teliti lagi, khususnya di fase-fase awal pemeliharaan unggas,” tukasnya.
 
Kata Mereka
Webinar yang dibarengi peluncuran buku “Manajemen Kesehatan Broiler Modern” karya Eko Prasetio ini, mendapat banyak apresiasi dari kalangan senior bidang peternakan dan kesehatan hewan.
 
Peluncuran buku “Manajemen Kesehatan Broiler Modern” karya Eko Prasetio. (Foto: Dok. Infovet)

 

Salah satunya Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Drh M. Munawaroh.
 
“Saya sangat apresiasi, ilmu yang disampaikan oleh Drh Eko sangat komprehensif sekali. Buku yang diluncurkan ini sangat bagus isinya terkait manajemen kesehatan broiler modern,” kata Munawaroh.

Ungkapan senada juga disampaikan private poultry farm consultant, Tony Unandar, melalui rekaman suaranya karena berhalangan hadir.

“Yang jelas saya sungguh apresiasi kepada Pak Eko, dia mau berbagi ilmu yang bermanfaat kepada orang lain, ini menjadi awal yang sangat bagus. Selamat kepada Pak Eko yang sudah menerbitkan buku, semoga lebih maju dan berkarya lebih hebat lagi,” ungkap Tony.

Apresiasi juga datang dari Dewan Pembina GOPAN, Tri Hardiyanto, yang turut hadir dalam webinar tersebut. Ia mengatakan, saat ini manajemen pemeliharaan di lapangan harus ditingkatkan karena penggunaan AGP sudah diberhentikan, agar peternak memiliki efisiensi dalam budi daya, ternak punya ketahanan terhadap penyakit dan HPP bisa ditekan.

“Pak Eko ini sudah menuliskan apa yang sudah dia lakukan, itu yang menjadi titik pentingnya. Selamat kepada Pak Eko yang sudah menuangkan apa yang dikerjakan, semoga bermanfaat bagi orang lain. Juga kepada Majalah Infovet yang setia memberi informasi perunggasan, semoga menjadi amal baik,” kata Tri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *