Pendederan Ikan Bandeng

Dengan memanfaatkan perairan payau atau pasang surut, budidaya ikan bandeng (Chanos chanos) di tambak telah berkembang secara pesat hampir di seluruh Indonesia. Kebutuhan benih (nener) bandeng pun besar dan harus terpenuhi.

 

 

“Ikan bandeng merupakan salah satu komoditas ketahan pangan nasional,” jelas Supito, S.Pi, M.Si, Koordinator Budidaya Udang Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Oleh karena itu, ketersediaan nener bandeng sebagai salah satu sarana produksi yang utama dalam usaha budidaya bandeng di tambak harus terpenuhi. Untuk saat ini, perkembangan teknologi budidaya bandeng di tambak dirasakan sangat lambat dibandingkan dengan usaha budidaya udang.

 

Faktor ketersediaan benih merupakan salah satu kendala. Selama ini, produksi nener alam belum mampu mencukupi kebutuhan budidaya bandeng yang terus berkembang. Oleh karena itu, peranan usaha pembenihan bandeng dalam upaya mengatasi masalah kekurangan nener tersebut menjadi sangat penting. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan para pembudidaya bandeng di Indonesia, nener disuplai dari Bali dan hasil tangkapan alam.

 

Produksi benih nener di hatchery diarahkan untuk mengimbangi selisih antara permintaan yang terus meningkat dan pasokan penangkapan di alam yang diduga akan menurun. “Kebutuhan nener di pembudidaya sangat besar sehingga diperlukan pengembangan pembenihan bandeng oleh pihak swasta untuk pengembangan produksi nener seperti di Bali,” ungkap Supito.

Baca Juga:   Mengupas Tantangan Budidaya Udang di Pesisir Timur Lampung

 

”Bagian Pembenihan ikan bandeng di BBPBAP Jepara sudah bisa memijahkan dan memproduksi nener,” tambah Supito, “distribusi nener yang dihasilkan BBPBAP Jepara sebagian besar untuk pembudidaya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.”

AK14 Budidaya 2 2

Supito, S.Pi, M.Si (Sumber foto: dok pribadi)

AK14 Budidaya 2 3

 I Gde Budha Adnyana, S.St.Pi (Sumber foto: dok pribadi)

 

Masih tradisional

Sebagian budidaya bandeng masih dilakukan secara tradisional, yaitu dengan mengandalkan pupuk untuk pertumbuhan klekap sebagai pakan alami. Selain itu, perairan masih mengandalkan pasang-surut.

 

Pernyataan senada dikemukakan oleh Koordinator  Budidaya Bandeng Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, I Gde Budha Adnyana, S.St.Pi. ”Sistem budidaya pendederan ikan bandeng yang diterapkan merupakan budidaya bandeng tradisional. Umumnya nener berasal dari panti benih di daerah Gondol, Bali, dan daerah Situbondo, Jawa Timur,” ujarnya.

 

Masyarakat pembudidaya Demak, Jawa Tengah, biasanya mendatangkan nener dari Jepara dengan beragam ukuran dan harga. Ukuran nener dengan panjang antara 2—2,5 cm dibandrol dengan harga Rp 75.000 per seribu ekor. Sementara nener dengan panjang 5—7 cm dihargai Rp 150.000 per seribu ekor.

Baca Juga:   Busmetik, Solusi Petambak Udang Skala Kecil

 

Pada umumnya, satu petak tambak tradisional berukuran 1 Ha dengan padat tebar 250.000 ekor nener/Ha. ”Untuk budidaya pendederan ikan bandeng secara tradisional, tingkat kelangsungan hidup sebesar 70%. Hal ini disebabkan tingkat kontrol terhadap hama seperti burung, biawak, dan ular sangat sulit,” ungkap Gde.

 

Pendederan

Pendederan dalam tambak dilakukan hingga nener berumur satu bulan. Selanjutnya, nener dilepaskan ke dalam tambak besar. Tambak pembesaran dibersihkan dengan menggunakan jaring untuk menangkap predator atau ikan-ikan pemakan bibit bandeng. Tujuannya agar nener aman sampai umur satu bulan untuk dilepaskan ke dalam tambak besar.

 

Ikan bandeng merupakan ikan herbivora dengan pakan utama berupa plankton dan alga maupun makroalga seperti bentic algae (kelekap) dan filamenteis algae (lumut). ”Dalam usaha budidaya pendederan bandeng, dilakukan persiapan penumbuhan pakan klekap sebelum nener ditebar dengan pupuk urea dan TSP. Kemudian nener ditebar sesudah klekap menutupi seluruh permukaan dasar tambak,” ungkap Gde.

 

Pendederan merupakan kegiatan pemeliharaan benih yang dilakukan untuk menghasilkan benih ukuran tertentu yang siap dibesarkan dinkolam pembesaran. “Segmen pendederan dimulai dari pemeliharaan nener menjadi benih kelas sebar 2—3 cm, 3—4 cm, 4—5 cm, hingga 8—10 cm. Masa pemeliharaan dari nener sampai ukuran 2—3 cm sekitar 20 hari, sedangkan untuk mencapai 8—10 diperlukan waktu 45 hari,” terang Gde.

Baca Juga:   Genjot Produksi Udang Windu dengan Phronima suppa

AK14 Budidaya 2 4

Nener bandeng (Sumber foto: BBPBAP Jepara)

 

Selengkapnya baca di majalah Info Akuakultur Edisi 14/Maret 2016

 

Similar Posts:

  • Comments
  • 3
ardi
03-24-17 2:34 pm

Broo klo ambil 5000 brapa hrga broo

image
infoakuakultur
03-30-17 3:33 am

Info lebih lanjut Bang Ardi silahkan hubungi Pak Guno bpbap takalar, di guno11n@gmail.com . terima kasih

Jeric
03-31-18 2:12 am

Mohon info harga nener bandeng untuk kualitas ekspor. Trims

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.