Teknik Stunting Budidaya Bandeng Bisa Panen 3-4 Kali Setahun

Oleh: Abdul Salam Atjo – Penyuluh
Perikanan Madya

Ikan bandeng (Chanos-chanos Forks)
masih menjadi komoditas andalan pembudidaya tambak di kabupaten Pinrang. Sejak
udang windu banyak dilanda masalah maka beruntunglah petambak masih bisa panen
bandeng.

Selama ini bandeng
dibudidayakan secara polikultur dengan udang windu. Banyak pembudidaya masih
bertahan diusaha tambak karena ditopang oleh ikan bandeng. Sejak dahulu
bandeng sudah menjadi ikan peliharaan di tambak air payau. Selain tidak mudah
terserang penyakit, cara budidayanya pun tidak sulit.

Teknologi budidaya
bandeng  selama ini dilakukan tradisional secara turun-temurun. Hal
inilah yang menyebabkan produksi belum meningkat secara signifikan. Sejak
pertengahan tahun 2018, kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Cempae desa
Waetuoe kecamatan Lanrisang, Pinrang mencoba budidaya bandeng teknologi
tradisional plus dengan penerapan teknik stunting
(pengerdilan)

Teknik stunting atau menkerdilkan ikan bandeng
sebelum dibudidayakan di tambak pembesaran merupakan teknik lama namun baru
sebagian kecil petembak yang menerapkan. Padahal cara ini sangat menguntungkan
pembudidaya. Selain produksi meningkat, waktu budidaya yang digunakan juga
singkat. Sehingga dalam setahun petambak bisa melakukan panen 3-4 kali.

Pemilihan lokasi tambak
budidaya bandeng merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan
budidaya. Dalam memilih lokasi tambak paling tidak mudah dijangkau pasang surut
air laut, bebas dari banjir dan tanah untuk pematang tambak tidak mudah bocor.

Baca Juga:   Meramu Pakan Burung Puyuh

Dalam merancang bangunan
tambak minimal ada satu petak pendederan dan satu petak pembesaran. Petak
pendederan atau penggelondongan inilah yang digunakan untuk mengerdilkan
pertumbuhan nener bandeng sebelum dipindah masuk ke petak
pembesaran.   Pada lahan tambak percontohan di Pokdakan Cempae
memiliki luas petak penggelondongan sekitar 1.500 m² ditebar 10.000 ekor nener
langsung dari hatchery (pembenihan).

Mempersiapkan lahan
tambak sebelum ditebar nener bandeng seperti hal yang sudah biasa dilakukan
petambak pada umumnya. Lebih dahulu kita lakukan pengeringan dasar tambak agar
dapat melepas gas beracun dan mematikan hama.

Selama masa pengeringan
yang berlansung sekitar 15-20 hari juga dilakukan bersamaan perbaikan pematang
dan pintu air tambak dari bocoran. Paling penting dalam mempersiapkan petak
tambak adalah pemupukan dasar untuk meransang tumbuhnya makanan alami seperti
lumut, klekap dan plankton.

Sambil mempersiapkan
petak pembesaran yang luasnya sekitar 1 hektare, proses penggelondongan sudah
berjalan di petak pendederan. Ketika makanan alami sudah tumbuh maka
gelondongan bandeng sudah dapat dipindahkan ke petak pembesaran.

Baca Juga:   Genjot Produksi Udang Windu dengan Phronima suppa

Untuk menyuburkan
makanan alami di tambak dipupuk dengan Urea, SP36 dan petroganik. Pada
pemupukan dasar digunakan dosis 200 kg urea, 100 kg SP36 dan 300 kg petroganik.
Ketiga jenis pupuk tersebut dicampur rata kemudian disebar dibagian dasar
pelataran tambak.

Pemupukan dasar
dilakukan pada kondisi dasar tambak berair setinggi mata kaki lalu dibiarkan
mengering sebelum dilakukan pemasukan air kembali. Hal ini dimaksdukan
agar proses tumbuh klekap berjalan cepat.

Siklus pertama tambak
ujicoba budidaya bandeng teknik stunting
ditebar 3.200 ekor gelondongan bandeng yang berasal dari petak pendederan.
Setelah dipelihara sekitar 60 hari bisa menghasilkan panen bandeng sekitar 825
kilogram.

Selama masa
pemeliharaan yang selalu dipertahankan adalah kualitas air dan pertumbuhan
makanan alami berupa plankton dan lumut. Memasuki bulan kedua jelang panen
dipacu pertumbuhan dengan memberikan makanan tambahan berupa pellet sebanyak 30
kilogram perhari.

Setelah panen, petakan
tambak  langsung dikeringkan dan persiapan untuk siklus kedua.
Seperti hal dengan siklus pertama persiapan tambak meliputi peneringan,
perbaikan bocoran pematang dan pintu air tambak, pemberantasan hama dan
penumbuhan makanan alami.

Baca Juga:   SR Rendah Hantui Zona Kebangkitan Udang Windu di Sulawesi Selatan

Penebaran anakan
bandeng dari petak pentokolan sebanyak 3.000 ekor  pada tanggal 19
Desember 2018. Anakan bandeng tersebut berukuran panjang 7-10 cm namun kerdil.
Kerdil karena selama di petak penggelondongan makanannya tidak mencukupi dan
ruang geraknya terbatas. Begitu di lepas di petakan tambak yang lebih luas dan
padat makanan alami maka otomatis rakus makannya.

Itulah sebabnya, anakan
bandeng yang dikerdilkan pertumbuhannya di patakan tambak yang luasnya terbatas
setelah dipindah di petakan luas dan padat makanan alami maka pertumbuhan
drastis dan cepat panen.

Tambak percontohan yang
ditebar pada 19 Desember 2018 sudah panen pada 19 Februari 2019 lalu. Hasilnya
mencapai sekitar 700 kilogram. Kini petambak sedang melakukan persiapan lahan
untuk siklus ketiga kalinya.

Jadi dalam setahun
petambak dapat melakukan budidaya  sebanyak 3-4 siklus. Setiap siklus
petambak dapat peroleh omzet sekitar 10-15 juta. Bila dibanding dengan cara
biasa yang selama ini dilakukan petambak hanya bisa dapat omzet sekitar 5-7
juta per panen atau 4-6 bulan sekali panen. (Ed: Adit)

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.