Akuakultur Organik, antara Tantangan dan Harapan

Oleh:  Alexandre Veille, OLMIX Indonesia Aqua Expertise

Kisah ini
menceritakan hubungan yang saling menguntungkan antara
hewan ternak dan manusia. Hewan ternak secara teratur mendapatkan
pakan dan perlindungan dari manusia. Sementara itu, manusia mendapatkan manfaat secara langsung dari hewan ternak berupa dagingnya yang
berharga, tulang dan kulit, begitu juga dengan susu, wol, tenaga, penggunaan dalam peperangan, bidang olahraga, dan berguna dalam status sosial.

Praktik ternak
hewan/domestikasi dilakukan manusia sejak 11.000 hingga 20.000 tahun yang lalu dimulai dengan memelihara domba dan
ikan mas, waktu yang panjang sejak manusia mulai menghuni planet bumi 14 juta
tahun yang lalu.

Praktik peternakan
tersebut berlangsung hingga era revolusi Industri pada abad ke-18. Memang, mekanisasi
memungkinkan pengenalan sistem rotasi tanaman serta peningkatan kuantitasnya.
Dimulai pertama kali di Inggris, sistem bercocok
tanam untuk tanaman yang berbeda di lahan dalam setiap tahun, penggunaan lahan lebih efisien dan membuka jalan untuk produksi pakan ternak yang
sistematis dan memindahkan produksi ternak ke sistem non-penggembalaan
(intensif).

Sementara itu, akuakultur muncul pertama
kali di Asia (Australia dan Cina) dan akuakultur modern muncul di Eropa dan
Amerika di era industri dan degradasi lingkungannya.

Budidaya Kuno dan Modern

Perbedaan antara peternakan
hewan/budidaya hewan sebelumnya dan apa yang disebut peternakan/budidaya ‘modern’
terletak pada intensifikasi dan spesialisasi. Metode budidaya/peternakan yang pertama mengacu
pada sistem tenaga kerja yang lebih mekanis, dalam ruangan, dan rendah.

Sementara itu, yang kedua merujuk pada
hanya satu spesies hewan, yang dikembangbiakkan secara khusus untuk tujuan tertentu, disimpan di bangunan khusus di peternakan. Konsumen sering mengalami
masalah dalam mengenali produksi hewan ini karena populasi umumnya masih
mengaitkan pertanian dengan konsep tradisional peternakan di mana beberapa
spesies hewan, dari sapi perah hingga ayam betina, dipelihara.

Kata slogan ‘pabrik hewan’
kemudian menyebar dengan cepat sehingga melahirkan
kritik yang menyuarakan
eksploitasi hewan yang dianggap sebagai ‘mesin hewan’ untuk tujuan
semata-mata komersial.

Baca Juga:   Haruskah Ikan Diawetkan?

Secara umum, ‘peternakan
intensif khusus’ sering ditafsirkan sebagai “peternakan hewan massal”
dengan semua konotasi negatifnya. Namun, hal itu memungkinkan pembelian daging
yang terjangkau dan dengan demikian telah mengalihkan perdebatan dari menemukan
makanan yang cukup, keamanan pangan dan kesejahteraan hewan yang sama dengan
yang dimiliki umat manusia.

Isu Keberlanjutan dalam Budidaya

Masalah utama yang muncul belakangan ini dalam agroindustri adalah isu keberlanjutan. Isu ini muncul pertama kali pada produksi tanaman dengan adanya erosi tanah, penipisan tanah, penurunan
varietas tanaman (kekhawatiran organisme yang
dimodifikasi secara genetis). Berikutnya adalah pada peternakan dan akuakultur, seperti wabah pada
ternak (misalnya penyakit sapi gila, dll), pakan ternak (dioksin, dll), dan
kualitas pakan yang rendah pada industri akuakultur, dan pada akhirnya berdampak
memiskinkan pedesaan.

Untuk membalikkan tren
petani di Eropa dan Amerika ke arah
pengembangan metode budidaya lain yang dikenal dengan istilah ‘Organik’ dan memenuhi syarat sebagai “sistem budidaya yang menopang kesehatan
tanah, ekosistem dan manusia.

Metode ini bergantung pada proses ekologis, keanekaragaman hayati dan siklus yang
disesuaikan dengan kondisi lokal, alih-alih penggunaan input produksi dengan efek merugikan. Budidaya organik menggabungkan tradisi, inovasi dan sains untuk memberi manfaat
bagi lingkungan bersama dan mempromosikan hubungan yang adil dan kualitas hidup
yang baik untuk semua bagian yang terlibat.

Budidaya Organik, Solusi untuk Isu Keberlanjutan

Produk organik
identik dengan harga, standar, dan sertifikasi yang lebih tinggi –
klaim yang dapat diverifikasi untuk proses produksi dan praktik produksi –
serta karakteristik yang lebih sulit dipahami seperti ekspektasi konsumen akan
kualitas dan keamanan pangan dan manfaat lingkungan, sosial dan ekonomi secara
umum untuk petani dan masyarakat.

Meskipun demikian, praktik dan standar yang
dikembangkan untuk spesies darat tidak mudah diterapkan pada spesies akuakultur
karena perbedaan besar karakteristik dua jenis hewan
ini, kebutuhan mereka, siklus pemeliharaan, dan lain-lain. Namun, beberapa
prinsip utama diterima secara umum, misalnya larangan penggunaan antibiotik, organisme hasil rekayasa genetik, pengurangan kepadatan, input bahan kimia dan tepung ikan liar.

Baca Juga:   Optimalkan Pertumbuhan Udang dengan Biosecurity

Meningkatnya pangsa pasar
makanan organik, penangkapan perikanan laut yang anjlok, masalah keamanan pangan ikan hasil tangkapan alam,
masalah lingkungan, peningkatan konsumsi ikan, semakin menekankan pentingnya ‘akuakultur organik’.

Sebagai contoh,
dari 53.000 metrik ton di 2009, pasar akuakultur organik tumbuh hingga mencapai 400.000 metrik ton di tahun 2016. Pada kondisi ini, Asia menjadi produsen terbesarnya dengan dominasi Republik Rakyat China (RRC) sebanyak 77%, diikuti oleh Eropa (22%).

Akan tetapi, jumlah
ini diperkirakan lebih besar, mengingat beberapa negara
produsen akuakultur organik utama seperti
Indonesia, Vietnam, Brasil, Thailand tidak memberikan data tentang budidaya organik. Di antara spesies andalan yang diproduksi adalah ikan salmon, kerang, ikan mas dan udang. Meskipun jumlah ini masih merupakan ceruk
pasar, dengan pertumbuhan 8% sejak 2015, segmen pasar ini yang menarik yang patut
dicoba dan yang dapat memecahkan beberapa masalah akuakultur baru-baru ini.

Ciri-ciri Budidaya Organik

Dengan meningkatnya volume
produksi melalui intensifikasi dan perluasan lahan, harga ikan dunia turun secara
simultan. Bahkan, untuk beberapa spesies, harga jual turun di bawah biaya produksi. Sementara itu, salmon Irlandia tidak dapat
bersaing dengan biaya produksi dari negara tetangganya (Inggris, Norwegia).

Sehingga, mereka mengubahnya menjadi pertanian organik, pasar
khusus yang dapat mendukung harga lebih tinggi daripada produk konvensional.
Demikian pula, Vietnam melakukan hal yang sama. Mereka
mengembangkan filet ikan organik dengan nama baru (fillet
dory)
yang menawarkan jalan keluar
dari perang harga.

Akan tetapi, tumpang tindih beberapa konsep yang ada seperti akuakultur berkelanjutan,
biologis, ekologis, perdagangan adil dan ramah lingkungan, tangkapan liar dapat
menyesatkan konsumen ke arah label organik. Pasalnya, konsumen tampaknya lebih mementingkan pada asal dan
keterlacakan produk.

Baca Juga:   Mengembangkan Industri Patin

Sehingga, produsen
tidak semata-mata menganggap produk disebut ‘organik’ hanya karena swasembada. Akan tetapi, mereka harus menambahkan beberapa ciri
lain, seperti asal, penelusuran, dan praktik budidaya. Memang, akuakultur bebas antibiotik seharusnya sudah
menjadi norma (terutama untuk udang), tetapi
faktanya, terjadi beberapa kali penolakan produk akuakultur
yang berulang berulang di
Eropa atau di AS karena keadaan residu antibiotik.

Peralihan Budidaya Konvensional ke Organik

Untuk mendukung program peralihan menuju budidaya ‘organik’, pembudidaya harus
dapat memperoleh produk yang tersertifikasi ‘organik’, atau paling
tidak, produk yang ramah lingkungan. Memang, ketika menelusuri budidaya yang bebas dari antibiotik, produk baru seperti antibakteri, imunomodulator
dan zat aditif dalam pengelolaan air lingkungan harus tersedia.

Jika tidak, budidaya
akan berada di bawah
bayang-bayang penyakit yang sedang merebak
saat ini (misalnya Vibrios, Streptococcus dan Aeromonas, virus, yang megakibatkan kematian). Perlu dipahami,
budidaya ‘organik’ bukan berarti kembali pada cara zaman kuno. Akan tetapi, organik bermakna kombinasi metode tradisional
dengan ilmu dan teknologi budidaya saat ini.

Polisakarida dengan Gugus Fungsi Sulfat, Tingkatkan Kesehatan Hewan Budidaya

Dengan pengalaman bertahun-tahun dalam penelitian rumput laut, Olmix menjadi pemeran utama dalam menciptakan
berbagai solusi inovatif untuk menangani penyakit dalam akuakultur. Inovasi ini berasal dari polisakarida sulfat yang diekstraksi dari rumput
laut dan digunakan sebagai suplemen fungsional atau sebagai polisakarida
struktural untuk memodifikasi struktur tanah liat montmorillionite.

Polisakarida dengan gugus fungsi sulfat memiliki
fungsi spesifik, seperti MSP®IMMUNITY akan memiliki efek imun-modulasi pada ikan dan udang yang dapat meningkatkan kesehatan umum hewan budidaya. Polisakarida struktural digunakan untuk memodifikasi
tanah liat, menjadi montimorillionite yang diselingi dengan unsur tembaga di dalam molekulnya.

Sehingga, secara spesifik molekul
bergugus fungsi sulfat ini akan menargetkan bakteri
patogen dan menurunkan serangan mereka pada saluran pencernaan. Polisakarida yang
serbaguna ini dapat digunakan baik pada sektor budidaya maupun di pabrik pakan, untuk mengoptimalkan benteng pertahanan yang lengkap ketika menghadapi serangan
organisme pathogen. (Ed: Noerhidajat)

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.