Budi Daya Udang Berbasis Ilmu dan Teknologi

Oleh  M. Ghufran H. Kordi K.

Penulis
buku Perikanan dan Kelautan

 

Indonesia adalah salah satu produsen udang
utama di dunia dan menempati urutan ketiga setelah China dan India dalam
produksi udang vannamei (Litopenaeus vannamei). Hingga tahun 2018 Indonesia memproduksi
udang vaname sekitar 700 ribu ton, yang di ekspor ke beberapa negara, sebagian
besar untuk pasar Amerika Serikat (AS) dan Jepang.

 

Indonesia telah menjadi produsen udang dunia
sejak tahun 1980-an. Tahun 1990-an Indonesia menjadi produsen udang windu
(Penaeus monodon) terbesar di dunia dengan produksi udang budidaya mencapai 250
ribu ton tahun 1994. Sementara pada 1992 Indonesia mengekspor 140 ribu ton
udang windu, ini merupakan capaian tertinggi dan terbesar di dunia.

 

Namun prestasi yang membanggakan sekaligus
menguntungkan secara ekonomi tersebut tidak bertahan lama. Tahun 1993 udang
windu mulai diserang penyakit bintik putih
(white spot) atau White Spot Syndrome Virus (WSSV).

 

Virus ini melululantakkan industri
perudangan nasional, ekspor udang windu yang mencapai 140 ribu ton tahun 1992
anjlok menjadi 53.000 ton pada tahun 1999. Tambak terlantar atau ”tambak
parkir” ada di mana-mana. Demikian pula
hatchery (balai benih) terbengkalai karena tidak memroduksi
benur, diikuti dengan kredit macet dan pengangguran.

 

Hasil kajian antara lain menyatakan bahwa
kegagalan budidaya udang di pantai utara Jawa (pantura) disebabkan oleh
tingginya pencemaran perairan terutama oleh bahan organik, logam berat dan
pestisida yang berasal dari limbah kegiatan industri, pertanian dan rumah
tangga di daerah hulu (Widigdo & Soewardi, 1999).

 

Bahan-bahan pencemar tersebut diduga sangat
mendukung berkembangnya berbagai mikroba patogen seperti virus WSSV, sebelumnya
dikenal virus
Semi Extodermal and Mesodermal Bacullo Virus (SEMBV), penyebab penyakit bintik putih yang sejak
kemunculannya tahun 1992 (Wang et al., 1998) hingga kini masih menjadi momok
dalam budi daya udang.

 

Riset untuk
Pertumbuhan Ekonomi

Penyakit adalah faktor utama runtuhnya
industri udang nasional tahun 1990-an. Sampai saat ini pun penyakit tetap
menjadi penentu naik turunnya produksi udang di berbagai negara. Penyakit udang
yang paling menjadi momok saat ini di antaranya
Infectious Myonecrosis
Virus
(IMNV) atau dikenal sebagai Myo, White Spot,
dan
White
Faeces Disease
(WFD).

 

Semua negara produsen udang menghadapi
permasalahan yang sama. Bahkan penyakit adalah salah satu masalah utama bagi
akuakultur dunia. Pasalnya penyebaran penyakit mengikuti pemindahan biota
akuatik secara global. Selain virus pada udang, penyakit akuakultur yang
mengglobal adalah
Koi Herpes Virus (KHV) yang
menyerang ikan mas
(Cyprinus carpio) dan Tilapia Lake Virus (TiLV) yang menyerang ikan nila (Oreochromis niloticus). KHV dan TiLV adalah penyakit yang pertama kali
diidentifikasi di Israel.

 

Negara-negara yang akuakulturnya sangat maju,
selalu cepat bangkit jika menghadapi permasalahan, termasuk serangan penyakit. Itu
karena pengembangan akuakultur di negara-negara maju berbasis ilmu dan
teknologi. Riset-riset akuakultur mereka diarahkan untuk mengatasi permasalahan
dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

 

Ketika tahun 1990-an, budidaya udang
Indonesia mengalami keruntuhan karena serangan virus WSSV, hal yang sama juga
dialami oleh berbagai negara. Negara-negara di Amerika Selatan dan Hawai yang
mengandalkan udang vaname mengalami serangan virus spesifik yang menyerang
udang ini,
Taura Syndrom Virus (TSV).
Virus TSV pertama kali ditemukan tahun 1992 di muara sungai Taura, Guayaquil,
Equador.

 

Akan tetapi berkat riset yang dikembangkan
sejak tahun 1992, maka pada tahun 1996 Hawai (AS) dan Equador telah berhasil memroduksi
induk udang vaname massal yang bebas penyakit
(specific phatogen free,
SPF)
dan tahan penyakit (specific phatogen
resisten, SPR)
. Dari induk SPF dan SPR
yang diproduksi melalui rekayasa genetik (improvement genetik) itulah yang
menghasilkan benih tahan penyakit (SPR) dan bebas penyakit (SPF).

 

Dari penemuan tersebut, maka alir penyebaran
penyakit secara vertikal dapat dieliminir. Lebih lanjut penemuan ini berdampak
terhadap peningkatan produksi dan volume ekspor udang dari negara-negara di
Amerika Selatan. Hawai tidak hanya meningkatkan produksi udang untuk konsumsi,
tetapi juga menjadi eksportir penting induk udang vaname ke berbagai negara di
dunia, termasuk Indonesia.

 

Bukan berarti riset akuakultur di Indonesia,
termasuk budi daya udang tidak maju. Periset bertebaran di lembaga pemerintah
dan perguruan tinggi (PT). Namun, riset yang dilakukan sering tidak mendorong
pengembangan akuakultur, alias tidak berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi,
melainkan hanya untuk kepentingan pendidikan dan pemuatan di jurnal.   

 

Riset yang diharapkan berkontribusi pada
pertumbuhan ekonomi haruslah inovatif dan hasilnya dapat digunakan. Namun, riset
yang demikian harus dikerjakan secara berkesinambungan dan kolektif. Inovasi Hasanuddin
Atjo mengembangkan sistem budidaya udang vaname super intensif dengan kepadatan
800-1.000 ekor/m² tidaklah instan, melainkan melalui riset yang cukup panjang.

 

Plasma
Nutfah Lokal

 

Saat ini Indonesia menjadi produsen penting
udang di dunia, namun spesies yang dibudidayakan adalah udang vaname, yang
merupakan udang impor dan hasil riset dan inovasi panjang negara lain. Padahal perairan
Indonesia menyimpan udang spesies asli yang merupakan plasma nutfah lokal.

Selain udang windu, juga udang putih (P.
merguiensis, P. indicus) dan Udang Lambouh (Penaeus sp). Udang windu dan udang lambouh
adalah udang yang berukuran besar, masing-masing dapat mencapai ukuran sekitar
260 g/ekor dan 300 g/ekor.

 

Selain udang, berbagai komoditas akuakultur
yang dikembangkan di Indonesia dan menjadi komoditas andalan, sebagian besar
adalah biota introduksi. Bukan berarti introduksi tidak boleh dilakukan, tetapi
tentu ada yang keliru dalam kebijakan dan pengembangan komoditas budi daya
nasional. Introduksi adalah jalan pintas dan kebijakan instan, yang pada banyak
kasus juga berdampak buruk terhadap ekosistem perairan.

 

Di samping itu, ketergantungan pada komoditas
introduksi, seperti udang vaname, menyebabkan produksi udang Indonesia
bergantung pada induk impor. Induk vaname yang dirakit di dalam negeri kalah
bersaing dengan induk impor. Sewaktu-waktu perakitan induk dalam negeri juga
tetap mengimpor induk untuk memperkaya keanekaragaman genetik.

 

Untuk itu, mestinya perlu kebijakan untuk
mendorong riset intensif yang dapat menghasilkan udang unggul spesies lokal.
Dengan mengembangkan spesies lokal, maka sistem produksi udang dari hulu hingga
hilir berada dalam kendali kita, sehingga produksinya tidak bergantung pada
pada pihak lain. (Ed: Adit)

 

Similar Posts:

Baca Juga:   Optimalkan Pertumbuhan Udang dengan Biosecurity

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.