Harga Daging Ayam Harus Distabilkan

Harga daging ayam sempat naik pada awal tahun 2019, namun memasuki bulan Februari 2019 harga daging ayam di pasar-pasar tradisional mengalami penurunan. Di Bali misalnya, pada Senin (28/1/2019) harga daging ayam per kilonya Rp 36.250 dan pada Selasa (29/1/2019) turun menjadi Rp 35.250. Sementara Di pasar Badung rata-rata menjual komoditas ini dengan harga Rp 35 ribu, di pasar Nyangelan Rp 36 ribu, pasar Kreneng Rp 35 ribu dan pasar Agung Rp 35 ribu. Di salah satu marketplace, 13 Maret 2019, harga daging ayam segar dijual dengan bandrol Rp 34.000.

Harga Daging Ayam Turun, Kementerian Belum Jalankan Tugasnya

Penurunan harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional ini menurut seorang pengamat ekonomi, dikarenakan kementerian terkait belum menjalankan fungsi dan tugasnya secara maksimal.  
“Undang-undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara sudah jelas mengatur apa saja fungsi dan tugas semua kementerian di negara kita. Kementerian Pertanian, misalnya tugas pokoknya jelas menangani produksi pangan, sedangkan Kementerian Perdagangan mengurus terkait perdagangan dan harga baik di tingkat petani maupun konsumen,” ujar Defiyan Cori dalam keterangannya, Selasa (5/3/2019), sebagaimana dilansir www.finance.detik.com

Pengamat ekonomi, alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengungkapkan, pengaturan fungsi dan tugas kementerian diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 45 tahun 2015 tentang Kementerian Pertanian dan Perpres Nomor 48 Tahun 2015 tentang Kementerian Perdagangan.

Baca Juga:   Jumlah Babi Mati di Bali Dekati Angka 3.000 Ekor

“Tugas dan fungsi masing-masing kementerian tersebut sebenarnya sudah clear dan sudah sinkron,” ujar Defiyan.

Dirinya menyayangkan adanya pihak-pihak yang menuding pemerintah dan menyebutkan penurunan harga disebabkan karena pasokan yang berlebih. Menurut Defian, kelebihan produksi daging ayam saat ini harusnya ditanggapi dengan positif.

“Ini kan sebenarnya positif, Pemerintah telah mampu mendukung peningkatan produksi daging ayam di dalam negeri. Daripada produksi kita kurang, nanti jatuh-jatuhnya akan impor lagi,” jelasnya.

Surplus Daging Ayam 396,06 ribu Ton

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), saat ini jumlah penduduk di Indonesia adalah 268.075 ribu jiwa,dengan konsumsi per kapita 12,13 kg per tahun. Produksi daging ayam nasional tahun ini, berdasarkan data dari Kementerian Pertanian diproyeksikan sebanyak 3.647,81 ribu ton. Sementara kebutuhan daging ayam nasional tahun ini sekitar 3.251,75 ribu ton. Artinya, tahun ini produksi daging ayam mengalami surplus sebanyak 396,06 ribu ton. 

Untuk mengatasi kelebihan produksi unggas, menurut Defiyan, Kementerian Perdagangan untuk terus membuka peluang ekspor unggas maupun produk-produk turunannnya ke berbagai negara.

“Nah ini kan harusnya menjadi tanggung jawab Kementerian Perdagangan untuk terus mendorong ekspor, melalui atase-atase perdagangannya yang ditugaskan di beberapa negara,” jelasnya.

Baca Juga:   PAKAN DAN MANAJEMEN PERSONAL | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan

Ekonom Konstitusi ini beranggapan bahwa selama ini Kemendag hanya fokus melakukan pengaturan harga acuan di tingkat konsumen. Padahal menurut Debiyan, di saat kondisi harga di tingkat peternak di bawah penetapan harga acuan belum ada kebijakan khusus untuk merespon fenomena tersebut. Yang dilakukan pemerointah, begitu harga di tingkat konsumen naik, pemerintah langsung cepat turun tangan melakukan operasi pasar, atau bahkan jika produksi kurang langung dipenuhi dengan impor. Langkah responsif juga seharusnya diambil ketika harga anjlok di tingkat peternak.

Daging Ayam Harus Distabilkan Harganya

Mengacu pada Undang-undang No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan disebutkan pada pasal 26 bahwa Kementerian Perdagangan menetapkan kebijakan harga, pengelolaan stok dan logistik, serta pengelolaan ekspor/impor dalam rangka menjamin stabilisasi harga kebutuhan pokok.

Sementara itu, daging ayam, berdasarkan Perpres Nomor 71 Tahun 2015 merupakan satu diantara jenis bahan pangan pokok yang perlu dijaga ketersediaan dan stabilisasi harganya. Hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk Indonesia saat ini sudah terbiasa mengkonsumsi daging ayam sebagai salah satu sumber protein hewani setiap hari.

“Inilah yang perlu disinergikan untuk memformulasikan kebijakan yang tepat, manakala harga acuan baik di level petani maupun konsumen dibawah atau di atas harga acuan yang ditetapkan. Tentunya dalam hal ini Kementerian Perdagangan mempunyai peran penting terkait informasi dan stabilisasi harga,” tambah alumnus UGM ini.

Baca Juga:   KETIKA ADA RANAH SPESIALIS DI KALANGAN DRH KITA

“Sudah semestinya, barang kebutuhan pokok dan barang penting yang telah ditetapkan, termasuk di dalamnya daging ayam menjadi perhatian pemerintah dalam mengatur ketersediaan dan stabilisasi harga,” tegas Febiyan. 

Perusahaan Perunggasan Indonesia

Perusahaan perunggasan di Indonesia sebagai penyedia bibit ayam cukup banyak. Diantaranya PT. Charoen Pokphand Indonesia, PT Japfa Comfeed Indonesia, PT Ma­lindo Feedmill Tbk, PT CJ-PIA, PT Taat Indah Bersinar, PT Cibadak Indah Sari Farm,PT. Cipendawa Farm Enterprise, PT Hybro Indonesia, PT Expravet Nasuba, PT Wonokoyo Jaya Corporindo, CV Missouri, PT Reza Perkasa, dan PT Satwa Borneo Jaya, PT Expravet Nasuba.

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.