IACEPA, Angin Segar Bagi Industri Sapi Potong

IACEPA, Angin Segar Bagi Industri Sapi Potong

Industri sapi potong khususnya penggemukan sapi bakalan (feedloter) berharap ada angin segar dari Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IACEPA).

Hal itu terungkap pada Webinar Mimbar Trobos Livestok Seri 2 bertajuk “Menuju Bisnis Feedlot yang Berkelanjutan”. Acara ini digelaroleh TROBOS Communication (TComm), majalah TROBOS Livestock dan disiarkan secara live oleh chanel AgristreamTV pada Selasa (14/7).

Didiek Purwanto, Ketua Dewan Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) menjelaskan IACEPA yang sudah berlaku pada 5 Juli 2020 momentum sangat membantu industri ini bisa eksis.

“Minimal kebijakan IACEPA itu bisa mengurangi cost production dari para feedlotter. Sejak pandemi biaya produksi feedloter meningkat, bahkan harga sapi bakalan, pakan, transport dll. Sehingga landing cost biaya sapi dibandingkan harga jual sudah cukup merugi,” ungkap Didiek yang juga Ketua Umum PB Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) ini.

Dia melihat secara optimis IACEPA akan menumbuhkan investasi antara kedua negara, termasuk soal bakalan sapi. “Masing-masing negara itu tumbuh industrinya dan bisa bekerjasama untuk mengekspor ke negara ketiga. Jadi lebih komprehensif sifatnya. Bukan kerjasama jangka pendek,” ujarnya.

Ekosistem Industri Sapi Potong

Wakil Ketua Umum Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan – Juan Permata Adoe lantang menyatakan industri sapi potong dan pemerintah perlu reset button, yang bisa mengatasi persoalan mengapa Indonesia tak punya daya saing industri sapi di dalam ataupun luar negeri.

“Banyak yang tak paham, industri sapi ini bukan berdiri sendiri, dia adalah anggota ekosistem industri sapi yang harus terus tersambung secara berkelanjutan. Saya sempat tanya kepada pejabat kenapa industri sapi potong dibunuh dengan policy impor daging. Karena pejabat tidak tahu ekosistemnya. Orang hanya tanya daging, tapi tidak eprnah mau tahu daging itu produk dari ekosistem industri sapi potong,” ujarnya. Ekosistem itu, bukan hanya berada berada di level nasional namun sudah menembus batas negara di level global.

Diterangkannya, IACEPA sudah memberikan gambaran betapa ekosistem itu saling terkait. “Kita harus fleksibel mengembangkan industri sapi potong ini. Kita jadi pasar sapi bakalan tapi kita juga harus melanjutkannya, mengembangkan sayapnya membangun nilai tambah dan daya saing sehingga kita bisa menembus pasar ekspor juga,” ujarnya.

Baca Juga:   WASPADA ANCAMAN “TERBANG” VIRUS ASF

IACEPA sudah disepakati, dan partnership ini harus ada quick win, dalam 3 bulan seharusnya sudah bisa ekspor,s ambil melanjutkan riset yang sedang berjalan. “Bagi yang tidak memiliki sarana untuk membangun ekosistem, bergabung dengan pihak lain, asal platformnya jelas. Tidak ada lagi orang yang bisa berjalan sendiri, semua harus bekerjasama membangun ekosistem,” urai dia.

Juan menjelaskan, Australia sebagai sumber sapi bakalan Indonesia, memiliki pangsa 16% market share daging dan sapi dunia (setara 1,8 juta ton sapi hidup) harus mempertahankan ekosistem ini, dan suka atau tidak industri sapi potong Indonesia realitanya adalah bagian dari itu.

“Semua masih mencari titik temu. Maka dimana titik temunya, kita harus menjadi negara yang memiliki nilai tambah dan berdaya saing global, mengekspor beef yang bakalannya dari Australia. Kita bersama Australia membangun itu, ini saatnya. Kita puluhan tahun bekerjasama, logistik juga mulai efisien,” dia memaparkan.

Limited Country Manager for Indonesia – Meat and Livestock Australia Valeska menyatakan kedudukan Indonesia sangat penting bagi Australia. Indonesia merupakan mitra dagang sapi hidup terbesar, dengan pangsa 53% dari total ekspor bakalan negeri Kangguru. “Sebanyak 13% sapi Australia diekspor dalam bentuk sapi hidup. Dari keseluruhan sapi yang dihasilkan negara benua itu, hanya 25% dipakai untuk konsumsi domestik, 75%-nya untuk diekspor

Kesetaraan dan Akreditasi

Valeska menyatakan industri feedlot di Indonesia saling berkontribusi dengan industri sapi potong Australia. “Performa dan kinerja feedlot Indonesia sangat baik, tidak kalah dengan Australia pada teknologi pakan, ADG (average daily gain, penambahan bobot badan harian) dll. Penggemukan sapi potong Indonesia adalah termasuk terbesar di Asia dengan kualitas yang dalam beberapa hal melebihi Australia,” ungkap dia.

Dia menuturkan feedlot di Australia mayoritas masih berdiri sebagai usaha mandiri. “Ada 25% yang dikelola scara integrasi vertikal dengan rumah potong hewan. Integrasi juga dilakukan dengan prosesing untuk memproduksi daging khusus yang memerlukan custom feeding untuk memasok pasar tertentu,” dia menjelaskan.

Baca Juga:   KLARIFIKASI DIRJEN PKH TERKAIT PEMBERITAAN PENGADAAN AYAM RP 770.000 PER EKOR

“IACEPA akan memperdalam kerjasama, meingingkatkan kepastian, mengeksplorasi peluang untuk bersama-sama menjadi pemain dalam global value chain daging sapi, dengan mengekspor daging ke negara-negara lain. Partnership menjadi platform untuk melaksanakan studi dan investasi selanjutnya,” urai Valeska.

Valeska meyakini penggemukan sapi potong di Indonesia menggunakan sapi bakalan Australia akan efisien. Penggemukan akan lebih efisien lebih efektif dilakukan di Australia selatan atau ke Indonesia. Namun, dari segi efisiensi logistiknya, sapi bakalan yang banyak dihasilkan di Australia Utara lebih murah untuk dikirim ke Indonesia karena dilakukan dengan kapal. Untuk mengangkut sapi bakalan ke selatan Australia harus melalui transportasi darat dengan jarak yang jauh.

Australia memang sangat luas, sehingga sapi dikelola secara pastoral, khususnya di bagian utara. Namun pakan rumput di sana tidak sesuai untuk penggemukan sapi. Rumput native hanya bisa untuk maintenance metabolis. Maka penggemukan sapi di Australia, banyak dilakukan di bagian selatan, dengan pakan dan manajemen yang mirip dengan Indonesia, dengan grain fed.

Valeska menguraikan, bagi industri feedlot di Indonesia, penyetaraan standarisasi produk dan adopsi sistem integritas daging sapi menuntut pemahaman yang mendalam tentang performans feedlot lebih dari sekedar efisiensi produksi dan melihat secara akurat setiap aspek produksi.

Untuk itu, dia memaparkan, memerlukan penilaian melalui skema akreditasi / skema penjaminan mutu industri yang dilakukan oleh industri sehingga membentuk benchmark dan menetapkan industri ini sebagai pemimpin dalam bidangnya. Credential sustainability diterapkan mengingat industri feedlot Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara bahkan Asia, sehingga berpeluang menjadi pemain utama di Asean.

Di Australia, sistem integritas daging diterapkan untuk mengukur tingkat keamanan pangan, jaminan mutu, dan ketelusuran (traceability) dari awal hingga akhir (paddock to plate). Sistem integritas ini melindungi status bebas penyakit industri daging sapi Australia dan mendukung pemasaran produk yang bersih, aman, dan alami.

Baca Juga:   3 SISTEM APLIKASI DITJEN PKH MASUK NOMINASI LOMBA INOVASI TIK 2019

Penggemukan sapi diakreditasi melalui National Feedlot Accreditation Scheme (NFAS) adalah program penjaminan mutu industry feedlot Australia, yang diaudit secara independen. NFAS merupakan platform utama dari sektor feedlot untuk menunjukkan kekuatan, integritas dan kredibilitas sistemnya kepada pemangku kepentingan eksternal.

Juan Permata Adoe menyatakan, dengan gambaran kesetaraan itu, industri sapi potong nasional perlu melakukan akreditasi untuk membuktikan mutu dan dayasaing. “Sehingga kita bisa dipercaya oleh negara ketiga sebagai tujuan ekspor, bahwa produk kita sama dengan Australia. Ini kesempatan, dengan adanya IACEPA,” ungkapnya.

Potensi Kehilangan Rp 2,4 T

Djoni Liano menyatakan terjadi potensial loss sebesar Rp 2,4 triliun yang diterima petani hijauan dan pemasok pakan kepada industri feedlot berhenti karena terjadi krisis pada industri sapi potong, yang selama ini menyumbang 23% kebutuhan daging nasional dan menyerap 29.000 tenaga kerja.

“Bahkan Industri sapi potong memiliki keterkaitan dengan 120 jenis industri lain dari berbagai sektor usaha seperti transportasi, logistik, olahan, pakan, dll,” tandas dia.

Djoni menyoroti kekosongan kebutuhan daging sapi dalam negeri tahun 2020 yang mencapai 294 ribu ton dari kebutuhan daging nasional 717 ribu ton, akan diisi oleh daging kerbau India. Karena produksi nasional hanya diproyeksikan 422 ribu ton.

“Pada 2020 sebanyak 170 ribu ton daging kerbau sudah dikeluarkan izin impornya. Kebutuhan 294 ribu ton itu akan diisi oleh daging impor, yang harusnya bisa diisi oleh daging feedlot yang bernilai tambah. Ini yang mengkuatirkan kita di dalam menjalankan industri ini. Tidak hanya industri (feedlot) ini yang jadi persoalan, peternakan lokal akan mengalami masalah,” dia memaparkan. ntr

Sumber : http://troboslivestock.com

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.