Tambak RtVe, Modal Kecil Untung Berlipat

Selama ini, yang
terbayang di benak masyarakat umum, budidaya udang identik dengan sistem bisnis
padat modal, memerlukan lahan yang cukup luas, dan prosedur pemeliharaan yang
rumit. Benarkah anggapan demikian?

Udang
merupakan salah satu komoditas akuakultur ekspor andalan dengan raupan
keuntungan yang tidak sedikit. Pasalnya, dengan harga komoditas yang tinggi
dibanding dengan komoditas tambak lainnya, udang menjadi komoditas dollar bagi
para pembudidaya.

Sebanding
dengan tingkat keuntungan yang didapat, budidaya udang merupakan salah satu
bisnis yang membutuhkan modal yang tidak sedikit. Itulah kenapa, budidaya udang
ini menjadi salah satu andalan bisnis yang banyak dilirik para investor
berkantong tebal. Lantas, benarkah budidaya udang mensyaratkan modal yang besar dan benarkah
asumsi umum tersebut?

Sebenarnya,
asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, dengan mengikuti program
kemitraan petambak yang digagas dan dirintis oleh PT Central Proteina Prima, petambak
atau praktisi yang tertarik dengan usaha budidaya udang dapat membuka usaha budidaya
udang dengan skala kecil dengan modal yang relatif tidak terlalu besar.

Petambak
yang mengikuti program ini akan mendapat pendampingan teknis agar memperoleh
hasil yang lebih baik. Tim yang mendampingi petambak tidak main-main, mereka
terdiri dari ahli nutrisi udang dan ikan hingga pakar di industri
akuakultur yang siap memberikan pelatihan dalam hal manajemen pemberian
pakan, pengecekan kualitas air, dan pengawasan proses budidaya untuk
meraih produk ikan dan udang dengan kualitas yang baik. Saat ini, program
kemitraan petambak telah bermitra dengan para petambak yang berasal dari Jawa,
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara.

Revitalisasi Lahan Kurang Produktif

Latar belakang dilakukannya program kampung vaname
(KaVe) dan rumah tangga vaname (RtVe), adalah berdasarkan temuan di lapangan.
Di antaranya adalah masih banyaknya ribuan hektar lahan untuk budidaya yang
belum dimanfaatkan secara optimal oleh petambak mengingat kendala keterbatasan
pengetahuan dan dukungan yang mereka miliki.

Baca Juga:   PT Sierad Produce Percaya Beleid Baru Berdampak Positif Bagi Industri

Sehingga, tujuan dari dilakukannya program
kampung dan rumah tangga vaname adalah untuk merevitalisasi para petambak
dengan memperkenalkan program budidaya udang vaname.

Program
RtVe yang umum dikenal sebagai budidaya skala rumah tangga, kini berkembang
pesat disentra-sentra tambak di Indonesia sebagai alternatif peluang usaha dengan
skala mini dan modal relatif kecil. Melalui proses budidaya udang yang benar dengan
mengenalkan prosedur operasi baku (SOP) dan biosekuriti budidaya udang akan membuat
program RtVe ini lebih efisien, efektif dan produktif.

Lebih jauh, program ini juga untuk membuat konsep
kerja yang terintegrasi dan terkonsolidasi untuk memantau semua
proses, dengan tujuan untuk menghasilkan produk udang yang lebih
baik.

Profil Sukses Pelaku Program KaVe dan RtVe

Salah
satu profil pebisnis yang berhasil menerapkan program  rumah
tangga vaname adalah berasal dari Pazi Udang Jaya, yang awalnya di gagas oleh Sri Yuliastuti. Dia
bersama rekan-rekan lainnya, membentuk konsorsium dan merintis usahanya dengan
bergabung di program RtVe,
budidaya udang skala rumah tangga.

Lokasi
pertambakannya terletak di daerah Jawa Timur. Menurut Yuli, usaha budidaya udang ini berawal dari
keinginan untuk berkumpul silaturahmi
alumni IPA 1 SMABA 83 dengan harapan menciptakan usaha yang bermanfaat dan
berkah.

Mereka
pun bertekad, usaha yang dipilih adalah budidaya udang vaname melalui program Rumah Tangga
Vaname di bawah binaan Nonot Triwaluyo, sebagai pendiri program KaVe dan RtVe.

Kawasan
yang dipilih untuk lahan tambak adalah Jember, yang dilewati oleh jalur lintas
selatan. Menurut pengakuan
Yuli, Pazi Udang Jaya
bukan merupakan usaha budidaya udang pertama di Getem, Jember.

Akan
tetapi, lanjutnya, yang membedakan tambak mereka dengan yang lainnya adalah bahwa
tambak tersebut merupakan lahan pasir yang pada awalnya tidak produktif. Dengan
demikian, program revitalisasi lahan melalui progam KaVe di daerah tersebut
mampu untuk memanfaatkan lahan yang kurang produktif menjadi lebih
menguntungkan.

Baca Juga:   BALI BEBAS RABIES TINGGAL KENANGAN

“Mengingat tekstur tanahnya didominasi
oleh pasir, dinding tambak yang mereka bangun dilapisi dengan menggunakan
membran HDPE untuk mencegah kebocoran air,” ujar Nonot yang juga GM Shrimp Feed CPPrima.

Tidak Ada Persyaratan Khusus

Menurut
Yuli yang juga sealumni
SMA dengan Nonot, tidak ada persyaratan khusus untuk mengikuti program Kampung Vaname dan Rumah tangga Vaname, yang terpenting,
menurutnya, adalah bagaimana turut serta menjaga kelestarian lingkungan pada
saat yang bersamaan dengan usaha budidaya.

“Pesan
kami, perlu dijaga lingkungan kawasan sepanjang pantai, mengingat kebutuhan air
laut sangat vital bagi usaha budidaya tambak. Hal ini untuk keperluan agar
usaha tambak berkelanjutan dan ramah lingkungan,”
tuturnya.

Pazi Udang Jaya, menurut pengakuan Yuli, dimotori oleh beberapa anggota yang berjumlah 30
orang. Lokasi budidaya terletak di di Getem Jember, Jawa Timur. Yuli menuturkan, banyak
kelebihan atau manfaat yang didapat dari ikut serta program Kampung Vaname.

Salah
satunya adalah mulai tumbuh berkembang pembukaan lahan baru untuk budidaya.
Secara teknis, lahan yang tidak produktif bukan menjadi halangan untuk program
ini. Sebagai contoh, budidaya udang Pazi Udang Jaya
dilakukan di atas lahan yang tidak produktif secara ekonomi.

Di
samping itu, lahan merupakan tanah dengan tekstur berpasir yang pada dasarnya
tidak cocok untuk tambak. Untuk itulah, dasar tambak dilapisi dengan plastik
HDPE untuk mencegah terjadinya kebocoran air.

Sistem Bagi Hasil, Lebih Menguntungkan

Seperti
gagasan awal dalam merancang program KaVe, modal yang diperlukan untuk budidaya
udang metode ini sangat terjangkau. Demikian juga yang dilakukan oleh Pazi Udang
Jaya, modal awal usaha mereka berasal dari iuran anggota dengan jumlah
sukarela.

Harapannya,
untuk tahap awal kata Yuli, mereka
dapat membeli dua petak lahan tambak. Itu pun dalam
perjalanannya, kegiatan survey lahan cukup menyita tenaga. Dengan jerih payah,
lahan didapat dengan sistem bagi hasil, bukan sistem jual beli.

Baca Juga:   ISLAMIC INDEX PADA SAAT INI MELEMAH DI AWAL PERDAGANGAN, PT CHAROEN POKPHAND INDONESIA TBK & PT UNILEVER INDONESIA TBK PENEKAN UTAMA

Sistem bagi hasil ini sangat
menguntungkan bagi pemilik atau penggarap lahan karena akan mendapatkan hasil
sesuai keberhasilan lahan tambak yang dikelola, pun, hal ini tentu
saja menjadi berkah tersendiri bagi Pazi Udang Jaya
karena tidak perlu merogok saku untuk membeli lahan. “Ini
sangat menguntungkan bagi kami karena modal bisa kami gunakan untuk belanja investasi
kebutuhan tambak yang tidak sedikit. Modal kami per akhir Januari 2019 sebesar
Rp. 1 M yang terdiri dari modal perorangan 30 juta per anggota dan nantinya dana ini dihimpun untuk digunakan sebagai biaya
operasional 5 petak lahan tambak yang mereka miliki,”
ungkapnya.

Mengingat
Pazi Udang Jaya merupakan konsorsium, maka usaha
ini merupakan usaha tertutup. Namun tetap
dapat mengembangkan bisnis dengan ekstensifikasi pembukaan lahan baru 
untuk bekerjasama dengan sistem bagi hasil.

Panen raya tambak Pazi Udang Jaya pada
tanggal 16 Maret 2019, dengan DOC 112 mendapatkan size 31-33, FCR 1,17 dan SR
96% dan dari 3 petak @ 800-1.000m2 didapat udang total 7,5 ton atau dengan
produktifitas 27 ton/ha, “ Kita masih menunggu 2 petak berikutnya yang masih
umur 32 hari,” tambah Nonot

Dalam
menjalankan bisnisnya, Yuli
beserta anggota lainnya memiliki semboyan, ‘Program 4 Sukses Bersama yaitu sukses anggota, sukses
konsorsium, sukses sosial dan masyarakat sekitar, sukses akuakultur”
.

Kontribusi Untuk Masyarakat
Sekitar

Yuli memaparkan,
dengan dibukanya program tersebut, mereka dapat memberikan kontribusi yang
positif terhadap masyarakat sekitar. Hal itu bisa dilihat dengan adanya usaha produktif
komoditas ekspor.

Hal
ini dapat mendorong masyarakat daerah sekitar untuk meningkatkan ekonomi dengan
usaha yang serupa atau kerjasama dengan pemilik lahan melalui sistem bagi
hasil. Di samping itu, keuntungan hasil budidaya dapat dinikmati oleh para
penanam modal melalui proporsi bagi hasil sesuai dengan jumlah modal yang
mereka investasikan.

Tidak
hanya itu, Yuli mengungkapkan,
bahwa usaha yang mereka rintis dan lakukan sesuai dengan kaidah budidaya
berkelanjutan, ramah lingkungan sehingga tidak merusak lingkungan sekitar. (Noerhidajat/Resti)

Similar Posts:

  • Comments
  • 0

Sign up for Newsletter

Sign up to get our latest exclusive updates, deals, offers and promotions.