Skip to content

–

Menu
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI
Menu

Telisik Performa Ekonomi Budidaya Udang Vaname Sistem Bioflok

Posted on

Masa keemasan udang windu pudar, sedangkan vaname naik daun. Sebagai salah satu komoditas andalan ekspor perikanan budidaya, perkembangannya begitu mendapat banyak perhatian. Berbagai metode budidaya pun kini bermunculan. Bioflok, teknologi yang digadang-gadang mampu menekan nilai FCR hingga di bawah angka 1, diaplikasikan untuk udang putih ini. Lantas, bagaimanakah performa ekonominya?

Menurut pemaparan salah seorang peneliti perikanan, Nur Ansari Rangka, dalam budidaya udang vaname intensif dan super intensif, alokasi dana untuk pakan dapat memakan biaya 60—70%. Dengan begitu, aspek pakan merupakan faktor krusial dalam budidaya. Hal ini berkaitan dengan untung-rugi bagi pembudidaya. Salah satu upaya untuk menekan tingginya biaya pakan yaitu dengan menggunakan teknologi bioflok.

Bioflok, mendaur ulang limbah

Sistem budidaya menggunakan teknologi bioflok tidak hanya menawarkan penghematan pakan karena mampu menekan rasio konversi pakan (FCR), tetapi juga mampu menjawab permasalahan lingkungan. Selama ini, aktivitas budidaya udang intensif dan super intensif menghasilkan limbah perikanan yang tidak sedikit. Bahan polutan ini berasal dari sisa pakan yang tak termakan ikan serta bahan-bahan organik hasil metabolisme ikan dan udang dalam bentuk feses, urin, dan bentuk lainnya.

Terakumulasinya senyawa organik dalam perairan, berdampak merugikan baik bagi lingkungan maupun kegiatan budidaya ikan itu sendiri. Nitrogen yang melimpah di dalam air, dalam bentuk senyawa amoniak, merupakan racun bagi ikan dan udang. Di samping itu, unsur fosfor dari sisa pakan yang tak termakan akan terakumulasi dan menimbulkan masalah lingkungan, antara lain eutrofikasi dan blooming populasi alga hijau biru (blue green algae) yang merugikan ikan.

Metode budidaya bioflok mampu meramu bahan-bahan yang sejatinya polutan menjadi pakan ikan yang bermanfaat. Hal ini tak lain karena adanya peran berbagai jenis mikroorganisme yang mampu menyintesis kelimpahan nitrogen menjadi senyawa protein yang dibutuhkan ikan.

Bioflok dan syarat lingkungan

Prinsip utama dari teknologi bioflok adalah menyerap dan memanfaatkan substansi atau material yang menjadi polutan di dalam air bagi kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan. Zat-zat tersebut di antaranya senyawa amoniak, yang digunakan sebagai nutrisi untuk menumbuhkan beberapa mikroorganisme, terutama bakteri heterotrof sebagai pakan ikan atau udang.

Untuk menjamin terbentuknya mikroorganisme tersebut, kondisi lingkungan perlu dimanipulasi. Beberapa di antaranya adalah dengan menjaga agar rasio C/N harus lebih tinggi dari 10 : 1. Selain itu, penggantian air tidak dilakukan terlalu sering dan aplikasi aerasi intensif di lingkungan air agar kandungan oksigen terlarut dalam air (dissolved oxygen) selalu berada pada kisaran 4 ppm atau 4 mg/L.

Menurut Ansari, agar bakteri heterotrof berkembang pesat, perlu ditambahkan sumber C atau karbon dari karbohidrat yang langsung dapat dimanfaatkan ke dalam air tersebut.  Sumber-sumber tersebut antara lain sukrosa atau gula tebu, molase, dan tepung tapioka. Selanjutnya, bakteri tersebut akan memanfaatkan unsur Nitrogen (N) anorganik dari senyawa amoniak (NH3) yang tersedia melimpah di dalam air untuk sintesis protein bakteri dan protein tunggal. Selanjutnya, protein yang dihasilkan oleh bakteri ini menjadi sumber pakan ikan.

Seperti dimaklumi, senyawa protein sangat dibutuhkan ikan agar pertumbuhannya optimal. Semakin tinggi protein yang dikonsumsi, semakin cepat pula pertumbuhan ikan. Bioflok merupakan sekumpulan berbagai jenis mikroorganisme, yang terdiri dari bakteri, zooplankton, dan protozoa. Di samping menghasilkan asam amino methionine, juga menyediakan vitamin, mineral, yang enzim yang dapat membantu proses pencernaan pakan pada ikan. Bentuknya menyerupai gumpalan yang mengapung dalam air.

Berkembangnya bioflok ditandai dengan adanya busa yang melimpah di permukaan air dan munculnya butiran yang melayang-layang di kolom air.

Sistem bioflok dalam petak tambak yang berbeda

Dalam penelitiannya, Nur Ansari melakukan pengamatan di dalam dua petak tambak dengan konstruksi yang berbeda. Tambak A terbuat dari beton dengan pelataran semen. Sementara tambak B merupakan tambak beton dengan pelataran tanah berpasir. Pada kedua tambak tidak dilakukan pergantian air; tetapi setiap hari selalu dilakukan penambahan air selama 8 jam ke dalam tambak tersebut.

Penambahan fermentasi probiotik dilakukan dengan dosis 5 mg/L setiap hari ke dalam dua tambak tersebut. Fermentasi ini dibuat dengan cara menambahkan 5 kg molase, 5 kg pakan, 10 kg dedak, 20 g ragi roti, dan 2 liter probiotik ke dalam 200 L air tambak dalam bak,. Selanjutnya, campuran tersebut diaerasi secara kuat selama dua hari. Setelah itu, campuran siap diaplikasikan ke dalam tambak.

Dalam tambak A, benih yang ditebar sebanyak 170 ekor/m2 untuk tambak A, sedangkan pada tambak B sebanyak 148 ekor/m2. Panen total yang dihasilkan tambak A sebanyak 34 ton/Ha dan tambak B 38 ton/Ha. Sintasan udang di petak A lebih rendah dari sintasan udang di petak B. Namun demikian dengan sintasan yang mencapai 88 – 99% selama pemeliharaan 140 hari, merupakan hasil yang sangat menguntungkan.

Total hasil panen di petak A (flok) sebanyak 11.123,5 kg atau 34.226,15 kg/Ha, dengan sintasan 88,55%, FCR sebesar 1,82. Ukuran udang rata-rata mencapai 46 ekor/kg. Sementara itu, produksi udang dari petak B mencapai 15.030 kg atau setara dengan 38.390,8 kg/H. Sintasan mencapai 99,6%, lebih baik dari tambak A, dan nilai konversi pakan 1,66. Ukuran udang ketika panen mencapai 41,5 ekor/kg.

Jika diperhatikan, panen di tambak B lebih bagus daripada tambak A. Menurut Ansari, kemungkinan besar hal tersebut disebabkan penaburan abu sekam sebelum tebar benih di tambak B. Bahan ini banyak mengandung senyawa silikat (SiO2, lebih dari 90%), senyawa yang sangat baik untuk pertumbuhan plankton diatom, yang menjadi pakan alami udang.

Berdasarkan pengamatan terhadap dua tambak tersebut, pemberian molase ke dalam tambak tidak berbanding lurus dengan tingkat kelangsungan hidup (sintasan). Sintasan pada tambak A, yang diberi molase, justru lebih rendah dari tambak B. Menurut pengamatan Ansari, meskipun tidak diberikan penambahan molase (tambak B), bioflok tetap terbentuk. Hanya saja terjadi agak lambat dibandingkan dengan tambak yang diberi molase. Hal tersebut disebabkan jumlah karbon sudah tercukupi dari karbon yang terkandung dalam pakan. Beberapa penelitian juga mengemukakan hal yang sama. Pada tambak intensif dan super intensif, penambahan karbon untuk pembentukan bioflok tidak diperlukan karena kandungan karbon dalam pakan sudah cukup tinggi.

Selanjutnya, bioflok ideal dalam tambak udang sebaiknya pada kisaran 15 mL/L. Dengan begitu, konsentrasi bioflok di tambak dijaga agar tidak melebihi 15 mL/L dengan cara penundaan aplikasi molase.

Analisis ekonomi budidaya udang sistem bioflok

Analisis ekonomi budidaya udang dengan sistem bioflok ini berdasarkan perhitungan Nur Ansari dan Gunarto. Dalam perhitungan ini, diasumsikan luas tambak 1 Hektar. Dalam setahun dapat dilakukan budidaya udang vaname 2 kali musim. Jadi, setiap musim memakan waktu 6 bulan. Dalam perhitungannya, Nur Ansari dan Gunarto mengasumsikan tingkat suku bunga bank pertahun sebesar 11%. Berdasarkan analisis ekonomi, diketahui bahwa nilai Revenue-Cost ratio (R/C ratio) sebesar 2,02. Hal ini menunjukkan kelayakan usaha, di mana, nilai R/C ratio lebih besar dari 1.

Tabel Analisis usaha budidaya udang sistem bioflok

UraianJumlahHarga satuan (Rp)Total (Rp)
AInvestasi
Sewa tambak ) (ha/tahun)11800000018000000
Pompa (unit)4600000024000000
Kincir (unit)404000000160000000
total investasi202000000
BBiaya Variabel
Benur vaname (ekor)150000032,548750000
Pakan (kg)6372712500796587500
Probiotik (jerigen)8035000028000000
Molase (L)100050005000000
Tepung ikan (kg)300100003000000
Dedak (kg)2002500500000
Ragi Roti (kg)1050000500000
Kapur bakar (kg)200010002000000
Kaptan (kg)200015003000000
Dolomit (kg)200012002400000
Solar (L)100045004500000
Pemeliharaan tambak (paket)11500000015000000
Pemeliharaan peralatan (paket)11500000015000000
Lain –Lain (Paket)11500000015000000
Bunga modal (%)2,52347105023471050
total biaya variabel962708550
CBiaya Tetap
Pompa (6 bulan)46000002400000
Kincir (6 bulan)4040000016000000
Sewa tambak/musim (6 bln)/ Ha190000009000000
Total biaya tetap27400000
Ctotal biaya/musim (Rp) (B+C)990108550
Dproduksi/musim (kg)36308550001996940000
EKeuntungan
1. Kotor1006831450
2. Bersih (upah penjaga (20% dari keuntungan kotor)805465160
Kelayakan Usaha
B/C ratio1,02

Post Terkait:

  • Peran Startup di Sektor Akuakultur Menahan masuknya kemajuan teknologi (Statup di sektor Akuakultur) )hanya akan membuat kemunduran dan gagap teknologi, untuk itu dibutuhkan peran startup yang bisa menjadi jembatan informasi…
  • KKP Berikan Benih Ke Pembudidaya Udang Windu Data mencatat bahwa hingga pertengahan bulan Mei 2020, BPBAP Takalar telah menggelontorkan total bantuan benih seperti Udang, Bandeng, Rajungan, Nila Salin dan Kakap Putih sebanyak…
  • Tambak RtVe, Modal Kecil Untung Berlipat Selama ini, yang terbayang di benak masyarakat umum, budidaya udang identik dengan sistem bisnis padat modal, memerlukan lahan yang cukup luas, dan prosedur pemeliharaan yang…
  • Lebih Produktif dengan Polikultur Rentan terhadap serangan penyakit, budidaya udang windu secara tradisional bisa mengantisipasi kegagalan produksi dengan sistem polikultur. Udang windu, ikan bandeng, dan rumput laut merupakan tiga…
  • MENELISIK BISNIS PETERNAKAN INDONESIA 2010 Indonesia, negara kaya raya di jagad khatulistiwa terbentang dengan pongah di antara dua benua dan dua samudera. Memiliki ribuan pulau besar dan kecil, yang mengandung…
  • Budidaya Udang Windu Tetap Untung Meskipun Skala Kecil Meskipun saat ini kontribusinya dianggap lebih kecil dibandingkan budidaya udang vaname, budidaya udang windu masih menjadi pilihan para petambak skala kecil. Pernah menjadi salah satu…
  • Waspada 3 Penyakit Utama Penyebab Turunnya Produksi Telur Waspada 3 Penyakit Utama Penyebab Turunnya Produksi TelurFungsi terbesar produk peternakan adalah menyediakan protein, energi, vitamin dan mineral untuk melengkapi hasil-hasil pertanian. Salah satu nutrisi…
  • Prospek Cerah Industri Hatchery Udang Bisnis udang dalam negeri, terutama udang jenis vaname, semakin menggeliat. Tak mengherankan, komoditas tambak ini merupakan salah satu produk dengan pangsa pasar tidak hanya domestik,…
  • Problem Imunosupresi Melawan Mikotoksin | Majalah… Fokus Infovet edisi 164 Maret 2008Oleh: Tony Unandar (SAS Group)(( Selain berbekal kemampuan teknis yang memadai, seorang praktisi lapangan kadang kala membutuhkan suatu instuisi yang…
  • Berbagai Metode Pengobatan Penyakit Parasitik (( Berbeda-beda tetapi tetap satu juga? Kiranya begitu. Banyak jalan menuju Roma, banyak obat melawan penyakit parasit, demi kesehatan ternak kita. ))Narasumber pada Pasca Sarjana…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DATA BISNIS PETERNAKAN

Artikel Terbaru

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

KALENDER

July 2026
MTWTFSS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031 
« May    

ARTIKEL TERBARU

  • Prospek dan Peluang Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
  • Reuni Kafapet Unsoed 85 Sukses Digelar: Hadirkan Dua Rektor dan Pertama Kalinya Livestreaming YouTube
  • Teknologi Genomik untuk Peningkatan Produktivitas Tanaman: Menuju Era Baru Pertanian Berkelanjutan
  • Transformasi Digital dalam Pertanian Nusantara: Membangun Ketahanan Pangan di Era Industri 4.0
  • Pertanian Vertikal: Solusi Inovatif untuk Mengatasi Keterbatasan Lahan di Perkotaan
  • Menjadi Petani Sukses yang Menggabungkan Kearifan Lokal dan Teknologi Terbaru
  • Pertanian Berbasis Data: Menjawab Tantangan Masa Kini
  • Pertanian Berkelanjutan: Langkah Baru untuk Indonesia
  • COMPANY PROFILE PT GALLUS INDONESIA UTAMA
  • Digitalisasi Pertanian: Langkah Menuju Produktivitas Tinggi

ARTIKEL TERKAIT

  • Peran Startup di Sektor Akuakultur by Agribisnis Menahan masuknya kemajuan teknologi (Statup di sektor Akuakultur) )hanya akan membuat kemunduran dan gagap teknologi, untuk itu dibutuhkan peran startup yang bisa menjadi jembatan informasi…
  • KKP Berikan Benih Ke Pembudidaya Udang Windu by Agribisnis Data mencatat bahwa hingga pertengahan bulan Mei 2020, BPBAP Takalar telah menggelontorkan total bantuan benih seperti Udang, Bandeng, Rajungan, Nila Salin dan Kakap Putih sebanyak…
  • Tambak RtVe, Modal Kecil Untung Berlipat by Agribisnis Selama ini, yang terbayang di benak masyarakat umum, budidaya udang identik dengan sistem bisnis padat modal, memerlukan lahan yang cukup luas, dan prosedur pemeliharaan yang…
  • Lebih Produktif dengan Polikultur by Agribisnis Rentan terhadap serangan penyakit, budidaya udang windu secara tradisional bisa mengantisipasi kegagalan produksi dengan sistem polikultur. Udang windu, ikan bandeng, dan rumput laut merupakan tiga…
  • MENELISIK BISNIS PETERNAKAN INDONESIA 2010 by Agribisnis Indonesia, negara kaya raya di jagad khatulistiwa terbentang dengan pongah di antara dua benua dan dua samudera. Memiliki ribuan pulau besar dan kecil, yang mengandung…

  • 1,202,827
  • 606,671
©2026 – | Design: Newspaperly WordPress Theme
  • HOME
  • AGRIBISNIS
  • BERITA SEKILAS
  • BUDIDAYA
  • EDITORIAL
  • EKONOMI BISNIS
  • INSPIRASI